Tampilkan postingan dengan label Inspirasi Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi Bisnis. Tampilkan semua postingan

17.1.14

Online Shopping, Kenapa Tidak?

Pernah sekali waktu saya kepingiiiiin banget jalan-jalan untuk sekadar cuci mata ke mall. Istilah canggihnya, window shopping gitu. Cuma karena malas ke luar rumah, irit bensin hohoho, dan nggak ada yang mau nemenin jadinya batal. Tapi nggak hilang akal, demi memenuhi keinginan tersebut, saya bukalah internet dan browsing bermacam-macam online shop sejagat raya maya. Widiiihh, ternyata sama saja seperti di dunia nyata, jalan-jalan di online shop juga butuh waktu banyak. Gimana enggak, satu situs saja isinya banyak. Lengkap, semua ada. Contohnya saja, salah satu pusat belanja fashion online, Zalora ^__^

Tapi tentu saja, ada beda ; kelebihan juga kekurangan ketika kita belanja secara online dan offline. Di tulisan kali ini, saya bahas soal kelebihan online shop yang nggak akan pernah saya dapat 100% dari offline shop ya.

  • Belanja online dijamin nggak akan disuruh titip tas

Saya punya pengalaman, beberapa kali ketika hendak masuk ke sebuah toko, suka disuruh titip tas oleh satpam. Jujur saja, permintaan seperti itu sangat menyakiti perasaan saya, lho. Emang tampang saya tampang kriminil apa gimana? Apalagi kalau memperhatikan para pengunjung lain bebas-bebas saja melenggang membawa tas-tas mereka, yang bahkan seringkali jauh lebih besar ketimbang milik saya. Sebagai informasi, untuk bepergian saya lebih suka memilih tas kecil, biasanya selempang atau model ransel, yang cuma muat dompet, kantong hape, sama kamera saku. Nah, tas imut saya disuruh titip? Hmmmm, mendingan saya nggak jadi masuk toko deh kalau kayak gitu!
  • Belanja online dijamin nggak akan ketemu wajah pramuniaga jutek

Pernah nggak ketemu sama penjaga toko yang senyum aja nggak pernah? Rasanya pasti nyebelin, kan? Kita datang ke toko ceritanya ingin mengeluarkan isi dompet, eh malah dijutekin, bisa-bisa batal transaksi deh! Memang iya, sih, kadang kita masuk ke sebuah toko paling hanya lihat-lihat saja, alias window shopping, tapi emang itu dilarang? Nggak kan? Mana tahu ujug-ujug kita menjadi amat sangat tertarik dengan sebuah barang, sehingga yang tadinya nggak niat belanja malahan jadi borong? Kalau keburu dijutekin terus nggak jadi belanja, yang rugi siapa coba? J
  • Belanja online nggak perlu merasa nggak enak karena mengacak-acak display barang

Sudah menjadi tabiat saya, kalau hendak beli barang pasti maunya barang yang baru. Maksud saya, misalnya baju merk A ukuran Z sudah fit saya coba, dan hendak saya beli, pasti saya akan meminta baju tersebut tapi yang kondisinya masih terlipat, masih baru, bukan barang display. Nah, untuk tujuan ini tak jarang kita harus dong mengacak-acak tumpukan yang terlipat rapi. Apalagi kalau barang yang kita mau keselip di bagian paling bawah. Mending kalau sang pramuniaga memiliki jiwa csr tinggi, kalau emosi jiwanya yang tinggi? Hmmmm hihihi.
  • Belanja online nggak perlu keder sama harga barang

Salah satu prinsip belanja yang harus selalu saya pegang teguh adalah jangan sampai besar pasak daripada tiang. Makanya kalau di offline shop, nggak pernah saya berani masuk ke toko-toko yang jualannya seperti pepatah tadi. Sepatu harganya 7 digit rupiah, tas harganya 8 digit rupiah. Weeew! Sekedar masuk buat lihat-lihat aja nggak berani :D
 
Pierre Cardin Hand Bag
IDR 2,700,000
sumber gambar : zalora.co.id


Nah, jelas kan jadinya beberapa kelebihan online shop dibanding offline shop. Apakah kawan sepakat denganku? Well, selamat berbelanjaaaa ^_^

2.8.13

Romi, Daeng Cilik Penjual Buah Tala

Hari ini seseorang menceritakan pada saya mengenai Romi, daeng cilik penjual buah tala. Dalam rangka menghidupkan kembali blog risablogedia ini, akan saya re-tell kisah tersebut  khusus untuk kawan-kawan semua.

Namanya Romi. Anak lelaki itu usianya sekitar 10 atau 11 tahun, ia kini duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Entah sudah berapa lama Romi si daeng cilik ini berjualan buah tala. Atau, entah dalam rangka apa sampai ia harus berjualan buah tala -- apakah sekadar mengisi waktu liburan atau apa--, entah, nara sumber saya tidak sempat menanyakan padanya. Yang jelas, satu hal yang membuat keadaan Romi semakin menarik adalah bahwa menurut penuturannya, ia tinggal di Jeneponto. Sebagai informasi, jarak antara Jeneponto – Makassar adalah sekitar 70 km! Istimewa? Tentu saja. Jeneponto itu di luar kota Makassar. Dan jarak sejauh itu bisa jadi ditempuh selama 2 jam menggunakan kendaraan. Sementara menurut pengakuan Romi, ia naik angkutan umum saja menempuh jarak sejauh itu. Wow, terbayang oleh saya, berapa kali ia gonta-ganti angkutan? Belum lagi setibanya di tujuan ia harus memikul dagangannya ke mana-mana, berat, sembari menantang panasnya sinar terik matahari Makassar!


Ini dia, Romi, daeng cilik penjual buah tala

Terlepas dari semua masalah yang jika memang benar seperti itu faktanya tentu saja sangat sangat menakjubkan. Maksud saya, seorang anak kelas 5 SD, dari kampung turun ke kota demi menjual buah tala, masya allah! Di balik itu semua, betapa seorang anak kecil seperti Romi, telah paham arti berjuang dalam hidup. Ia tidak mengemis, tidak meminta-minta, tidak menadahkan tangan begitu saja, melainkan ia bekerja, ia berusaha! Sungguh sebuah sikap gentlemen yang ditunjukkan oleh bocah belia itu. sebuah sikap yang bila dimotivasi secara tepat pasti akan menghasilkan seorang yang hebat kelak suatu saat. Sebuah sikap yang membuat saya sukarela menghantar doa untuknya, semoga perjalanannya ini kelak akan menghantarmu menuju takdir terbaik dalam hidupmu, duhai Romi, daeng cilik penjual buah tala.

8.10.12

Oleh-oleh Dari Makassar Inter Food, All Pack & All Print Expo 2012


Gara-gara kunjungan saya ke masjidterapung beberapa waktu lalulah sehingga saya melihat baliho raksasa berisi pemberitahuan akan diadakannya sebuah pameran pengepakan makanan dan minuman ini, Makassar Inter Food, All Pack & All Print Expo 2012. Saya yang jauh di dalam hati memiliki ambisi untuk berkecimpung di dunia bisnis, dengan segala konsep dan rencana yang belum juga terealisasi, salah satunya di bidang kuliner, tentu menganggap ini sebagai sebuah tawaran menarik. Wah, saya harus datang nih! Siapa tahu saya bakalan dapat info berharga seputar packaging barang dagangan yang cantik dan menarik berikut tempat pemesanan yang available di kota ini. Begitu kira-kira yang terpikir di benak saya.

Maka akhirnya memilih hari terakhir pameran, 30 September 2012, saya pun mengunjungi event yang diselenggarakan oleh Krista Exhibition tersebut. Bertempat di Celebes Convention Center, Tanjung Bunga Makassar, pameran itu dihelat. Saya ke sana tepat tengah hari ditemani oleh suami. Setelah memarkir motor, dengan langkah pasti saya menuju pintu masuk area pameran. Tepat di pintu masuk saya disambut oleh beberapa petugas jaga berseragam hitam yang mempersilakan saya untuk mengisi form registrasi terlebih dahulu. Agak kaget juga sih, oh ternyata harus mendaftar segala toh, batin saya. Lebih kaget lagi ketika saya melihat daftar isian yang tertera dalam formulir. Selain biodata umum, ada juga bagian formulir yang meminta isian mengenai profil perusahaan pengunjung. Waduh, saat itu rasanya level kepercayaan diri saya merosot hingga ke lantai deh. Perusahaan opo? Perusahaan mbahmu? Ingin rasanya saya garuk-garuk tembok hahaha.

Tapi the show must go on. Setelah memunguti rasa percaya diri yang berserakan di lantai, saya pun mengisi formulir cukup di bagian yang memungkinkan untuk saya isi, termasuk menuliskan risablogedia.blogspot.com, alamat blog tercintaku yang sebenarnya nggak ada bau-bau bisnisnya sama sekali, di bagian isian website, ha ha ha, dan mengosongkan bagian yang memang tidak memungkinkan untuk saya isi, seperti nama perusahaan, jumlah karyawan dan bla bla bla sejenisnya. Setelah menyerahkan ke petugas registrasi, membayar sebesar Rp. 10,000, dan menerima sebotol air mineral serta name tag, maka here I am … dengan langkah tak yakin memasuki arena pameran.

begitu masuk saya disambut mesin-mesin raksasa semacam ini nih!

Sumpah, saya lagi-lagi kaget begitu melewati pintu depan. Suasananya ramai sekali dan berantakan dan jauh dari yang saya bayangkan. Sebenarnya sudah beberapa kali saya mengunjungi pameran di gedung Triple C ini, namun baru kali ini saya menghadiri pameran yang seperti ini. Kesan pertama langsung membuat saya paham mengapa di form registrasi tadi mereka meminta data-data perusahaan. Lha wong rupanya para peserta pameran itu adalah semacam penyedia mesin-mesin berskala besar gitu, apa ya istilahnya, vendor ya? Hanya kali ini khusus di bidang printing, packing dan food. Begitulah.

Berserakan di lantai, menjadi alas bagi para pengunjung, hasil-hasil cetakan dari printer-printer raksasa itu. Contoh-contoh baliho iklan, foto, kampanye calon wakil rakyat, bahkan peta Indonesia bertebaran di mana-mana, dengan warna-warna semarak, diinjak-injak. Saya merasa cukup tidak nyaman, terus terang saja, ketika pertama kali melintasi lorong-lorong antar stand itu. Karena saya pikir, waduh ini apa nggak rusak iklan-iklannya orang saya injak-injak begini? Tapi berhubung di sekitar saya sepertinya cuek saja, maka ya saya pun akhirnya terbiasa juga berjalan di atas lembaran-lembaran baliho itu. Dan gara-gara menyaksikan itu semua jualah akhirnya kurang lebih saya tahu dari mana baliho-baliho raksasa yang bertebaran di jalan-jalan raya itu berasal. Pantas saja besar-besar, lha wong mesin cetaknya saja segede gaban!

tuh diinjek-injek hehehe

Meninggalkan segenap hingar-bingar mesin-mesin cetak itu, seraya dalam hati menyadari bahwa sepertinya saya tidak akan menemukan apa yang sesungguhnya saya cari melalui pameran ini, saya pun berjalan menyusuri sayap lain dari gedung Triple C ini. Sampai akhirnya tibalah saya di bagian stand Inter Food dan All Pack Makassar Expo (bagian yang berisi mesin-mesin percetakan tadi rupanya berjudul All Print Makassar Expo). Meski tetap saja, seluruh pameran itu rupanya menyasar pengusaha-pengusaha menengah ke atas, namun setidaknya di bagian makanan dan pengepakan ini saya sedikit merasa nyaman. Alhamdulillah, mengunjungi satu stand ke stand yang lain di sana benar-benar membuka wawasan saya. Lihat! Ini lho baru namanya bisnis… Seumur ini kamu belum memulai apa-apa padahal di luar sana orang lain sudah berkembang pesat bukan kepalang. Lantas mau jadi apa kamu? Lagi dan lagi saya menampar diri saya berulang-ulang. Dalam makna konotasi tentunya.

Beraneka brosur saya kumpulkan, dengan harapan suatu hari nanti akan berguna. Beberapa penjaga stand saya ajak bercakap-cakap berharap mendapat beberapa tambahan ilmu, sembari dalam hati sungguh berharap, please jangan tanya apa usaha saya atau perusahaan saya bergerak di bidang apa, yang sayangnya tidak pernah terkabul -_-“ pasti selalu ditanyakan, hiks. Bahkan ketika saya menyatroni stand MUI dan menanyakan sedikit ini dan itu mengenai prosedur sertifikasi halal, saya pun ditanyakan hal yang sama. Hihihi, tak apalah, anggap saja semua itu adalah doa sekaligus cambuk bagi saya untuk segera berkarya. Ayooo, kapan dong kapaaan???!!! Teriak saya pada mesin printer yang membisu.

Ada satu stand yang sangat menarik dari Inter Food Makassar ini, yaitu keberadaan semacam podium tempat diselenggarakannya demo masak. Dan yang paling menyenangkan lagi, saya berkesempatan untuk mengikuti salah satu demo yang kebetulan baru saja akan dimulai ketika saya tiba di sana. Apalagi yang hendak didemokan ketika itu adalah kue yang sedang ngetop belakangan ini. Yap! The Rainbow Cake. Yihaaa…. Senang bukan main rasanya bisa menyaksikan secara langsung seorang chef, Cesar namanya, memeragakan proses pembuatan kue paling terkenal sejagad itu. Semakin lengkap kesenangan yang saya rasakan karena pada demo itu hadir pula seorang Mr. Yudi Harijono, managing director Couture Cake,  memeragakan langsung salah satu resep pudding. Bukan resepnya yang paling menarik perhatian dari seorang Mr. Yudi ini, namun prestasi dan keterampilannyalah yang berhasil membuat saya membelalakkan mata. Orangnya sih santai, ramah, lucu, bersahaja, tapi siapa sangka beliau ini pernah mendekorasi kue seharga 3,4 milyar. Ulangi, yap, tiga koma empat milyar. Wo ho ho, kebayang nggak sih kue macam apa seharga milyar-milyar begitu?

antusiasme peserta

chef Cesar dan juga Mr. Yudi

Tentang kue itu. tak usah berkomentar mubazir dan sebagai-bagainya, saya sendiri rasanya geregetan ingin membahasnya dalam satu postingan khusus hehe, silakan dalam hati saja. Yang jelas faktanya memang ada seseorang di luar sana ‘tega’ memakan kue seharga sedemikian. Fiuuffhhh. Yang menjadi pertanyaan saya, itu orang uangnya sebanyak apa, rumahnya seharga berapa ya, lha kuenya tiga milyar begitu? Benar-benar seperti dongeng hehehehe.

ada kids cornernya juga lho!

Jadi ya begitulah … sekelumit oleh-oleh dari Makassar Inter Food, All Pack & All Print Expo 2012, yang pada akhirnya saya simpulkan benar-benar sangat berkesan bagi saya ini. Banyak ilmu diperoleh, banyak wawasan semakin terbuka, Alhamdulillah. Tinggal satu hal yang kurang. Action. Actionnya mana???

See you next year :D

25.4.12

Berbagi Pengalaman dan Tips Memilih Franchise (bag. 2) | Risablogedia


Setelah postingan terdahulu saya tentang tips memilih franchise yaitu menyesuaikan budget, menentukan jenis usaha serta menentukan lokasi dan pasar, sekarang markilan mari kita lanjut yaaa J

4. Memilih karyawan

Lepas 3 bulan pertama setelah outlet saya berjalan dengan sangat memuaskan, saya baru berkeinginan serius untuk mencari karyawan. Maklum, dalam hal mengelola usaha saya benar-benar baru belajar. Tadinya saya takut rugi, takut tak bisa membayar karyawan, takut modal tak bisa kembali dan lain-lain. Alhamdulillah, setelah 3 bulan pertama tersebut kepercayaan diri saya meningkat. Ternyata berbisnis itu begini toh, begitulah kira-kira pelajaran berharga yang berhasil saya petik. Terlebih lagi saya sudah hampir mencapai BEP. Modal saya hampir kembali! Benar-benar prestasi terbaik dalam hidup saya, sungguh J

Maka akhirnya bulan-bulan berikutnya saya pensiun menjadi bakul crepes. Ada karyawan yang menjalankan usaha saya. Tugas saya kini hanya mengawasi. Saya kira mengawasi itu adalah hal yang mudah, namun kenyataannya tidak seperti itu. Well, tergantung sifat dasar karyawan juga sih. Saya pernah mengalami beberapa kali gonta ganti karyawan dengan dinamika masalahnya. Paling banyak adalah karyawan yang tidak amanah. Yang suka diam-diam nilep uang jualan. Hikmah bagi saya yang sempat mengelola sendiri outlet adalah saya tahu persis mekanisme pengeluaran dan pemasukan tiap harinya. Jadi kalau ada selisih sedikit saja pasti ketahuan. Susah kalau mau ngeles he he he.

Buatlah aturan main yang tegas, enak bagi kita, enak juga bagi karyawan. Agar kita senang, karyawan juga tidak merasa terdholimi dan berpikir dia yang capek kerja kita yang terima uangnya.

Ah iya, apabila suatu waktu ada karyawan kita yang telah susah payah kita bina, kita ajari, tiba-tiba keluar ingin mandiri dan membuka outlet sendiri, jangan marah, berlapang hatilah, anggap saja amal jariyah. Okeyyy…

5. Ketika Usaha berjodoh dengan Rezeki

Ketika secara maksimal kita telah mengerahkan segala kemampuan dan usaha kita dalam rangka menjemput rezeki dan ternyata berjodoh alias penghasilan lancar, maka bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan-kemungkinan berikut :
  • Uang sewa tempat semakin naik

Ini adalah salah satu resiko ketika usaha kita statusnya nebeng di tanah orang lain. Ketika bisnis berkembang biasanya induk semang akan menaikkan harga sewa. Tipikal … J Maka beruntunglah jika kamu memiliki tempat sendiri semisal ruko atau tempat strategis lainnya yang tidak perlu memikirkan harga sewa tempat.
  • Pesaing akan berdatangan

Ada ungkapan jika memang rezeki tidak akan lari kemana pun. Benar, tidak diragukan lagi! Tapi bukan berarti dalam sebuah rule of biz *deuuhh bahasanya!* lantas bisa berlaku seenaknya. Mentang-mentang bisnis sejenis franchise ini cukup murmer modalnya dan laris di kalangan anak sekolah maka akhirnya yang lain pun mendatangkan satu, dua, tiga bahkan empat outlet baru dalam kantin. Iklimnya menjadi super panas, tidak ideal lagi.
  • Melihat saat yang tepat : Ada mula ada akhir

Kombinasi antara naiknya harga sewa, pesaing bertambah sementara pasar segitu-segitu juga, maka pada akhirnya saya pun memilih goodbye saja. Cukuplah dua tahun menjadi sebuah pengalaman super berharga bagi saya. Terlebih lagi mumpung outlet saya masih ada nilai jualnya maka saya pun akhirnya melepasnya dengan harga nyaris mendekati harga beli semula. Meneruskannya kepada yang lebih muda, yang pernah saya bahas sedikit profilnya di sini J

(Hingga tulisan ini dibuat saya masih belum menemukan pengganti kegiatan bisnis saya. Justru sekarang saya malah senang menulis, sebuah aktifitas yang sangat menyita waktu namun tidak (belum) menghasilkan materi sebanyak waktu yang dihabiskan. Tapi secara batiniah, kepuasannya puolll :D. Fyi, saat ini saya tertarik menjajaki bisnis pendidikan, jadiii … jika di antara kawan-kawan ada yang punya pengalaman atau tips merintis jenis usaha tersebut sudilah kiranya berbagi kepada saya ^_^)

bye-bye gerobak ^_^
<fin>

23.4.12

Berbagi Pengalaman dan Tips Memilih Franchise (bag. 1) | Risablogedia


Selama dua tahun sejak 2009, saya pernah menjalankan sebuah usaha, menjadi franchisee. Berdasarkan pengalaman singkat tersebut saya ingin sedikit berbagi beberapa tips memilih franchise, siapa tahu di antara kawan-kawan ada yang sedang berniat menjadi franchisee. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Disimak yaaa…

1. Menyesuaikan budget

Sesuaikan anggaran dengan target franchise incaranmu (jika tidak ingin melibatkan opsi berhutang ke dalam modal). Pada saat saya memutuskan ingin terjun dalam dunia usaha dengan menjadi franchisee, modal saya tinggal pas-pasan di tabungan. Kala itu boleh dikata saya benar-benar nekat nyemplung di dunia usaha dengan hanya berbekal keyakinan akan berhasil dan modal pas-pasan. Total dana yang saya keluarkan sekitar 8,5 juta dengan optimisme bahwa saya akan berhasil meraih BEP dalam waktu 3 bulan atau paling lambat 6 bulan. Wuiihh, mantapnya semangat saya J

2. Menentukan jenis usaha

Sebelum menentukan franchise mana yang akan kamu pilih, sebaiknya lakukanlah survey terlebih dahulu. Franchise mana yang kira-kira prospeknya bagus. Kemudian cari tahu sistem kerjasama kemitraannya seperti apa. Pemilik franchisenya amanah atau tidak. Testimoni mitra (jika sudah ada) seperti apa terhadap usaha tersebut. Jangan berlarut-larut, jangan lama-lama berpikir. Setelah cukup mendapat informasi, segeralah dieksekusi karena jikalau tidak maka oranglain yang akan beraksi.

Saya pribadi ketika itu memutuskan untuk memilih menjadi franchisee atas sebuah merek jajanan a la mal dengan harga terjangkau yaitu crepes. A’Crepes namanya. Yang saya lakukan sebelum memutuskan membeli sebuah outletnya adalah berkenalan dengan franchisor-nya, mengunjungi pusat produksinya dan mewawancarai beberapa mitranya. Selain tentu saja, mencoba sendiri produknya untuk menguji kualitasnya. Meskipun harganya terjangkau saya tidak ingin produk ini ‘mati rasa’. Setelah semuanya oke, barulah saya putuskan untuk menjadi salah satu mitra dari merek tersebut.

diversifikasi menu di tahun kedua perjalanan karir gerobakku :D

3. Menentukan Lokasi dan Pasar

Lokasi adalah salah satu aspek penting yang harus dipikirkan sedari mula. Apalagi franchise yang saya pilih ini bukan bisnis yang berbasis online tapi benar-benar full offline. Dari awal, pasar yang saya incar adalah para siswa di sekolah anak saya. Filosofinya sederhana, saya ingin sambil mengantar-jemput anak, saya bisa mengawasi outlet. Selain kebetulan lokasinya dekat pula dengan rumah. Maklumlah, pada dasarnya saya ini tipikal seorang ibu yang senang di rumah saja.

Target pasar saya, para siswa di sekolah ini, menurut saya cukup potensial. Mereka adalah murid-murid sekolah swasta yang hanya memiliki sebuah kantin kecil dengan variasi jajanan yang masih sangat sedikit ketika saya masuk ke sana. Bahkan saat pertama kali saya meminta izin untuk masuk ke kantin, ibu guru yang berwenang pun sepertinya kurang yakin dengan prospek outlet saya namun beliau berbaik hati mengijinkan saya untuk menggelar outlet di sana. Resiko tanggung sendiri, mungkin demikian kira-kira yang terbersit dalam hatinya. Dan alhamdulillah, feeling saya rupanya lumayan bagus … Pelanggan cilik saya benar-benar antusias menyambut kehadiran outlet saya. ‘Kebetulan’ sekitar 3 bulan pertama saya sendiri yang menjalankan usaha itu tanpa dibantu karyawan, makanya saya tahu persis kehebohan yang berhasil dipicu oleh outlet crepes saya di sekolah itu.

Jadi, tentukanlah lokasi dengan tepat sekaligus target pasar yang diincar sebelum memutuskan menjadi franchisee. Okeyyy … J

(bersambung)

28.2.12

Graha Media : Program Wisata Pendidikan

Beberapa waktu lalu saya pernah membuat tulisan yang ada sangkut pautnya dengan pengalaman saya di salah satu toko buku, tentang masalah tas. Nah, kali ini saya ingin berbagi kembali sebuah pengalaman yang berhubungan dengan salah satu toko buku yang sempat saya sebut di postingan terdahulu saya itu. Saya sebut saja nama tokonya ya : Graha Media M’tos Makassar.

Hari ini, toko buku Graha Media M’tos Makassar benar-benar membuat saya terkesan dengan salah satu trik marketingnya. Dengan tajuk ‘Wisata Pendidikan’, mereka mengundang sekolah anak saya yaitu TKIT Al-Ashri untuk berkunjung ke sana. Benar-benar sebuah ide yang cemerlang, menurut saya. Juga sangat ramah anak-anak. Mengajarkan mereka untuk cinta buku.

Meskipun namanya bisnis tujuannya adalah untuk meraup profit, namun model promosi terselubung seperti ini benar-benar brilian, menurut saya. Terlebih lagi toko buku Graha Media M’tos Makassar benar-benar serius menggarap programnya ini. Dari mulai penjemputan anak-anak dari sekolah ke lokasi toko, mereka menyediakan kendaraan plus sopirnya. Gratis! Kemudian di lokasi, mereka pun tidak main-main menjamu tamu-tamu ciliknya. Ada  games berhadiah, pembagian kartu member dan snack ringan. All free of charge! Bahkan anak-anak mendapat tambahan bonus mandi bola di arena permainan Zone-2000.

Dan yang membuat saya lebih takjub, selepas acara anak-anak kembali diantarkan ke sekolah! Ck ck ck…

Sungguh suatu teladan yang patut dicontoh. Bravo Graha Media M’tos Makassar!
^__*

Graha Media : Program Wisata Pendidikan
(inilah fasilitas mobil-mobil jemputan itu)

Graha Media : Program Wisata Pendidikan
(anak-anak asyik menyimak acara)

Graha Media : Program Wisata Pendidikan
(ayoo, siapa belum kebagian snack?)

Graha Media : Program Wisata Pendidikan
(member card - diskon 10%)

Graha Media : Program Wisata Pendidikan
(perburuan buku dimulai)

Graha Media : Program Wisata Pendidikan
(asyiknya memilih buku favorit)

Graha Media : Program Wisata Pendidikan
(duuh, tingginya buku pilihanku -- my son!)

Graha Media : Program Wisata Pendidikan
(laris manis tanjung kimpul, pagi-pagi rezeki ngumpul)

25.1.12

Bisnis Online : Lelang, Jual, Untung

Di dunia yang serba online dewasa ini hampir segala hal telah di-online-kan. Dari mulai jalinan pertemanan, sarana pendidikan/pelatihan misalnya sekolah blog, hingga jual-beli alias bisnis, semuanya memanfaatkan sarana online baik untuk sekadar promosi saja maupun keseluruhan pelaksanaannya. Pada kesempatan ini saya ingin mengupas sedikit mengenai bisnis online yang kini marak bak jamur di musim penghujan dengan cakupan bahasan tentang pengertian, studi-kasus dan beberapa tips ringan.

Pengertian Bisnis Online
Bisnis online secara sederhana dapat diartikan sebagai proses transaksi jual-beli dimana pihak penjual dan pihak pembeli tak perlu saling bertemu dan bertatap muka secara langsung. Semuanya dilakukan melalui media internet mulai dari proses penawaran produk hingga terjadi transaksi.

Sehingga salah satu keuntungan dari bisnis online ini adalah luasnya cakupan pasar yaitu meliputi seluruh wilayah di dunia yang dapat dijangkau internet atau bisa dikatakan seluas internet memandang. Adapun  keuntungan lainnya tentu saja adalah meminimalisir dana untuk kepentingan pengadaan/penyewaan tempat. Bisa diilustrasikan seperti ini, biaya sewa tempat satu bulan untuk space tenant berukuran 1 x 1 m di sebuah mal besar di bilangan Panakukkang, Makassar adalah sekitar 1,6 juta rupiah (itu adalah gambaran kisaran harga tahun lalu entah sekarang). Bandingkan dengan para pelaku bisnis online yang sangat memungkinkan bebas biaya sewa untuk showroom produknya, tentu bila mereka memilih media online gratis untuk ‘menggelar’ produknya seperti facebook, twitter maupun blog gratisan.

Studi-kasus : sebuah contoh nyata bisnis online
Untuk keperluan penulisan ini saya berkesempatan mewawancarai seorang pelaku bisnis online yang berbaik hati mau meluangkan waktu dan pengalamannya. Namanya Bapak Muhtar, beliau sebenarnya adalah seorang karyawan BUMN namun bisnis online juga dilakoninya sebagai usaha sampingannya. Berawal dari sekadar iseng mencari barang di internet, atau lebih tepatnya coba-coba mengikuti lelang di ebay, beliau berhasil mendapatkan barang untuk dijual kembali. Produk yang ditawarkannya adalah gadget Android high-end dengan teknologi CDMA yang mana pasarnya masih merupakan blue-ocean di Indonesia. Menggarap peluang ini, yang dilakukan secara online, Bapak Muhtar sanggup meraup omzet hingga puluhan juta rupiah dengan margin keuntungan sekitar 10 sampai 15 persen setiap bulannya. Fantastis, kan? Padahal yang dilakukannya ‘hanya’lah mencari produk di ebay, membelinya, kemudian memanfaatkan forum komunitas online untuk memasarkannya. Tanpa perlu mengganggu kesibukannya sebagai seorang karyawan beliau berhasil memperoleh penghasilan dobel berkat bisnis online. Seperti itulah kira-kira salah satu realitas bisnis online yang tentu saja diluar sana masih banyak contoh aneka jenis bisnis yang dilakukan secara online yang menghasilkan keuntungan lebih dahsyat.

Tips Bisnis Online
Akhirnya sebagai penutup tulisan ini saya akan mencoba merangkum tips ringan mengenai bisnis online baik dari sudut pandang penjual maupun pembeli. Dari sudut pandang penjual, tips ini Insya Allah akan berguna untuk menghindari kerugian baik berupa kehilangan modal maupun pelanggan. Sedangkan dari sudut pandang pembeli, untuk menghindari kekecewaan atas produk yang akan kita beli.

Tips untuk Penjual
  • Bila pasokan produk kita dapatkan dari pihak lain yang juga online, seperti contoh kasus pada Bapak Muhtar diatas yaitu melalui situs lelang ebay, maka pastikan sumber kita tersebut dapat dipercaya. Salah satu indikatornya adalah kita bisa mengecek umpan balik yang diberikan oleh para pembeli terdahulunya. Pastikan tidak ada komentar negatif tentang calon pemasok produk kita ini.
  • Ketika kita membuat penawaran produk, pastikan kita benar-benar mendeskripsikan produk dengan sedetail mungkin. Selain dilengkapi foto, spesifikasi produk, harga produk, dan ongkos kirim, yang terpenting adalah bila ada cacat pada barang maka kita tak boleh menyembunyikannya namun justru menginformasikannya kepada pelanggan dengan kompensasi mendapatkan diskon misalnya. Selain menghindarkan kekecewaan pelanggan juga dosa bila hal itu dilakukan!


Tips untuk Pembeli
  • Pastikan bahwa tempat kita membeli produk adalah situs/akun yang dapat dipercaya. Pelajari terlebih dahulu sebelum melakukan transaksi.
  • Meskipun online tetaplah teliti sebelum membeli. Yakinkan dulu bahwa kita benar-benar memahami deskripsi dari produk yang akan kita beli, agar tidak kecewa kemudian.
  • Jangan tergiur oleh penawaran harga yang jauh di bawah standar, misalnya untuk produk gadget karena biasanya hal itu adalah penipuan.


Saya rasa demikianlah sedikit yang bisa saya kupas mengenai bisnis online. Salam sukses selalu dan selamat berbisnis online. J




29.12.11

Musim Langsat Tlah Tiba

"Daeng berapa langsatnya?"
"Sepuluh ribu 3 kilo!"
"Manis ji?"
"Iye, manis ji. Coba ma ki'!"
Kira-kira demikianlah dialog yang akan terjadi ketika kita menyambangi penjual buah langsat di sekitar kota Makassar.

Sekitar akhir tahun seperti ini seperti biasanya musim langsat mulai melanda kota Makassar. Perhatikan saja di tepi-tepi jalan di hampir sepanjang jalanan utama kota, mobil-mobil bak terbuka bahkan truk! siap sedia menggelar dagangannya, yaitu langsat. Kawan tahu kan apa itu langsat? Tidak tahu? Waduh, baiklah kalau begitu sejenak saya gambarkan apa itu langsat…

sepiring langsat sisa semalam
Nah, sudah tahu kan! Langsat, salah satu jenis buah yang bentuknya kecil, bulat oval. Warna kulit buahnya  krem kekuningan dan bergetah. Bergerombol seperti anggur. Daging buahnya berwarna bening dengan biji di masing-masing bulir(?)nya. Satu butir buah langsat bisa berisi sekitar empat sampai lima bulir daging buah. Rasanya? Biasanya manis segar tapi kadang ada juga yang kecut bahkan ada juga yang kecut sekali ,juga pahit, tergantung… pada amalnya he he he, kidding ^_*.
Jika deskripsi saya diatas sepertinya masih belum bisa membantu kawan mengenali buah langsat, coba bayangkan buah duku! Sudah? Nah, bisa dibilang buah duku itu persis penampakannya seperti buah langsat ini. Sama-sama kecil, bulat oval, kekuningan. Hanya daging buah duku agak kenyal, cenderung lebih manis, dan getahnya lebih sedikit. Itu saja.
Kalau duku identik dengan kota Palembang untuk menunjukkan kualitas seperti halnya jeruk dengan kota Pontianak, talas dengan kota Bogor, kalau langsat? Saya sendiri tak tahu, Makassar mungkin? Ada yang tahu pasti?
Nah, setelah berputar-putar sedikit dengan penjelasan diatas sebenarnya yang ingin saya soroti adalah cara sang penjual mematok harga. Jika kita perhatikan papan harga di lapak-lapak mobile (saya sebut mobile karena kebanyakan menggunakan mobil) di tepi jalan itu maka biasanya akan kita temui tulisan seperti ini : LANSAT Rp. 10,000 / 3 kilo. Murah meriah kan? Apa yang salah? Tidak ada sih, hanya saja setiap kali saya iseng menimbang ulang langsat-langsat itu di rumah dengan  timbangan tepung, seringnya beratnya tidak sesuai kesepakatan yang ditawarkan penjual. Sungguh, bukan soal sekke (pelit, red) atau uangnya, tapi bagaimana ya? Kecewa saja rasanya dan jadi teringat salah satu ayat dalam Al-Muthafiffin. Sempat terbersit pernyataan dalam hati, mengapa para penjual itu tidak menulis papan harga seperti ini saja : Langsat Rp.10,000 / kantong. Lebih aman kan? He he he…

9.12.11

Larisnya Mas Kokek

Kawan tahu pedagang kokek-kokek? Itu lho pedagang aneka jenis mainan murah meriah yang biasanya mangkal di sekolah anak-anak? Entah istilah dari bahasa mana sebenarnya kokek-kokek itu, terus terang saya sendiri tak tahu. Atau mungkin istilah ini muncul gara-gara pedagangnya membawa semacam klakson yang bunyinya kurang lebih, kokek kokek kokek. Maka akhirnya pedagangnya disapa mas Kokek. Lucu ya…
“Ummi, beli kokek-kokek, “ rengek anak saya sepulang sekolah.
“Mami, mau beli kokek,” tuntut seorang anak lainnya.
Bahkan ada yang lebih ekstrim permintaannya, “Mama … mama, belikan mas kokek!” Saking kesalnya diminta hal yang sama hampir tiap hari akhirnya sang mama menjawab dengan asal, “Hah, nda’  mau ka beli mas Kokek! Papamu lebih cakep di rumah!” Ha ha ha ha.

Ramai, kan? he he he

Terlepas dari rasa kesal kita sebagai orangtua dengan dahsyatnya efek magnet kokek-kokek terhadap anak, saya mencermati ada ide yang sangat brillian dari sisi dunia usaha dari pedagang kokek-kokek ini. Dengan harga mulai dari seribu rupiah, aneka jenis mainan ini menjadi sangat terjangkau bagi anak-anak usia TK dan SD. Selain itu sifat dari mainan ini biasanya begitu sampai di rumah langsung rusak alias berumur pendek. Hal ini yang menyebabkan keesokan harinya anak-anak akan kembali mengerubungi sang mas Kokek, kalau bukan untuk membeli kembali mainan favoritnya yang rusak atau malah tertarik dengan mainan baru lainnya yang memang hampir tiap hari adaaa saja variasinya. Entah siapa ‘bandar besar’nya dibalik mainan murah meriah ini (menarik juga ya ditelusuri), yang pastinya menurut saya beliau benar-benar bermain di blue ocean untuk kategori mainan. Dengan prinsip mainan murah dan berumur pendek yang dijual dengan sistem jemput bola, mas Kokek sanggup bersaing dengan pedagang jajanan anak yang juga tiap hari dicambangi anak-anak. Karena memang seperti itu tujuannya. Seperti halnya di sekolah anak saya, bukan hanya minuman teh, aneka jajanan seperti crepes, burger, wafel dan sebagainya tapi mas Kokek juga memiliki tempat tersendiri yang cukup istimewa di kantong anak-anak sekolah. Bravo, mas Kokek! :)

29.11.11

HAND-BAG jelek?

Peristiwa ini sudah dua kali terjadi pada saya. Membuat saya gemas, geregetan sehingga terpikir untuk menuliskannya. Tidak bermaksud untuk cari perkara, hanya sekedar berbagi pengalaman agar kita semua bisa instropeksi dan berbenah diri menjadi lebih baik lagi.
Peristiwa pertama :
(Oktober 2011) Saya sekeluarga berencana untuk ke toko buku G**m***a di Panakukkang Mall, Makassar. Saat itu bukan kali pertama kami kesana, boleh dibilang sudah langgananlah. Saya dan anak-anak ketika ada keperluan terkait urusan tulis menulis dan baca membaca, merasa paling nyaman ke toko tersebut untuk mencarinya. Sesampainya disana saya bergegas menuju bagian penitipan barang karena ada satu kantong belanjaan yang saya sendiri paham, harus dititip. Toh siapa juga yang mau keliling toko buku membawa-bawa tentengan. Sementara posisi hand-bag saya saat itu sengaja saya selempangkan diagonal melintang badan. Yang mana posisi itu adalah favorit saya ketika berbelanja apalagi keliling toko buku. Praktis. Bebas. Sementara itu anak-anak bersama ayahnya di bagian lain berjarak beberapa langkah dari saya.
Sambil menerima titipan saya, om penjaga barang meminta saya sekalian menitipkan hand-bag juga, yang sudah nongkrong dengan nyaman tadi. Dalam hati saya langsung kesal, tersinggung, merasa terlecehkan kredibilitas saya sebagai seorang yang dapat dipercaya. Tapi saya berusaha sabar tidak langsung emosi padanya.
“Lalu dompet saya, handphone saya bagaimana (saya lupa tidak sekalian menyebut kunci rumah dan beberapa kunci lain yang ada di dalam tas)?” tanya saya menantang dia.
“Dipegang saja,” katanya.
“Oh, harus begitu ya?” tanya saya benar-benar menahan emosi.
“Iya,” sahutnya keukeuh.
“Ya sudah, ngga’ jadi saja deh,” kata saya ketus. Lalu saya bergegas menghampiri anak-anak dan ayahnya untuk mengajak mereka pergi saja, batal ke toko buku tersebut. Saat itu mereka sedang di konter penerjemah bahasa elektronik yang posisinya tak jauh dari tempat penitipan barang. Mulailah emosi saya tumpahkan disitu, saya pun ngomel sendiri dengan suara agak keras dan bahasa tubuh dibuat sedikit berlebihan, sengaja supaya menjadi perhatian petugas toko. “Ayo mi deh kita balik saja, ga jadi masuk. Masa’ na suruh saya titip tas padahal orang lain masuk pake tas yang lebih besar dari punyaku boleh ji,” omelku dengan dialek setempat. Anak-anak yang paling protes, “Yaaaahh, kenapa ndak jadi, Ummi?” ungkap mereka kecewa. “Habis Ummi kesal, kalo memang aturannya semua tidak boleh bawa tas okelah saya terima, tapi ini kenapa cuma saya? Tuh lihat dimana-mana pada bawa tas, lebih besar lagi dari punyaku,” kata saya sambil menahan airmata. Kebayang saat itu pasti hidung saya jadi ungu dan mata saya berkaca-kaca. Karena memang begitulah kalau saya marah, biasanya tidak bisa bicara malah airmata yang tumpah hehehe.
Di satu sisi saya kesal di satu sisi saya tidak tega mengecewakan anak-anak. Akhirnya saya menghampiri petugas sekuriti yang menjaga gerbang toko buku memprotes kejadian barusan. Dan tanpa satu dua tiga beliau langsung mempersilakan saya masuk saja tak perlu titip hand-bag. Tapi berhubung bagaimanapun juga barang tentengan saya tetap harus dititipkan maka saya pun kembali ke om penjaga barang tadi.
“Ini saya titip. Bapak yang disana tadi bilang tas saya boleh dibawa,” kataku ketus.
“Oh iya, Bu soalnya kan Ibu sudah tanya disana, “katanya mulai ciut.
“Terus kenapa orang lain boleh-boleh saja masuk dengan tasnya?” tanya saya ingin tahu teorinya.
“Yang boleh bawa tas itu karena ada laptopnya, Bu,” terang si om penjaga barang entah serius entah ngawur!
Saya jadi geli mendengar penjelasan tersebut. Masih ada keinginan untuk mendebat dan meluapkan emosi, apalagi dengan posisi dan argumentasi saya yang bakalan cukup kuat pasti akan membuat saya menang. Tapi ya sudahlah. Kasihan nanti om penjaga barangnya J
Peristiwa kedua :
(November 2011) Siang itu saya dan anak-anak mengunjungi (lagi-lagi) toko buku tapi kali ini di M’tos. Ketika melewati pintu, penjaganya meminta hal yang sama, menitipkan hand-bag. Singkat cerita, akhirnya saya katakan pada anak-anak agar mereka masuk saja sendiri mencari keperluannya biar saya menunggu diluar. Melihat keputusan saya seperti itu, bapak penjaga itu pun akhirnya membolehkan saya dan hand-bag saya masuk.

Kedua peristiwa itu semakin membuat saya penasaran, sebenarnya bagaimana sih prosedur keamanan toko-toko besar dengan sistem pelayanan pegang dan pilih barang sendiri seperti kedua toko buku itu? Saya bisa berempati betapa repotnya mengawasi para pengunjung dengan segala karakteristik dan niat, yang datang kesana. Belum lagi kalau misalnya big boss tak mau tahu dengan segala bentuk kehilangan. Pastinya stressfull. Hanya saja dalam pikiran saya, soal keamanan ini seharusnya kan tidak boleh bertentangan dengan standar kenyamanan pengunjung ya? Apalagi hanya soal tas bawaan. Apa standarnya sehingga ada pengunjung yang harus menitipkannya sementara ada pula yang bebas melenggang? Apa dikiranya orang dengan wajah tertentu bakalan tak mampu bayar? Atau potensial nyolong? Huuuh, ini yang bikin saya selalu emosi ketika masuk pusat perbelanjaan lalu disuruh menitipkan hand-bag. Bahkan saya sampai mengira, apa dikiranya saya pelajar? Hahaha. Atau apa karena tas saya jelek? Hahahaha.