Tampilkan postingan dengan label Cerita Negeriku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Negeriku. Tampilkan semua postingan

14.1.14

Jalan-jalan di Jalan Braga

Sekian lama pernah tinggal dan selalu terhubung dengan kota Bandung, tidak berarti membuat saya pernah menginjakkan kaki di jalan Braga. Buktinya setelah 8 tahun menghabiskan masa kecil di kota yang dulu berslogan 'Berhiber' ini, dan ketika dewasa bolak-balik ke sana kalau liburan, baru awal tahun ini saya lewat di jalan Braga! Akhirnya.... saya jalan-jalan di jalan Braga hahaha.

Eh, memangnya ada apa sih di jalan Braga sampai dia jadi jalan yang menarik untuk dikunjungi di Bandung? (Padahal perasaan lebih menarik jalan Riau deh dengan segambreng FO-nya, eh! :D)

Ternyata, kejadulan jalan Braga-lah yang membuat jalan ini menarik untuk dilewati. Seperti yang kami lakukan hari itu. Mobil kami parkir di ujung jalan masuk jalan Braga ini. Setelah mobil diparkir sempurna, seorang petugas berbaju oranye membimbing adik saya menggunakan mesin parkir otomatis. Mesin parkir tersebut digagas oleh pak wali Ridwan Kamil, yang pertama kali diterapkan di jalan Braga ini sebagai percontohan. Sukses ya, Pak dengan programnya! :)
Ituuuu yang nyempil di pojok tuuuh mesin parkirnya hehehe

Beres urusan parkir, kami pun segera beranjak menyusuri sepanjang jalan Braga. Konon, narsis-narsisan di jalan Braga bukan sesuatu yang terlarang. Tinggal berdiri lalu jeprat-jepret di trotoar jalanan satu arah ini, sok mangga. Atau mau foto-foto sama tembok bangunan yang ada di sepanjang jalan, silakaaan. Bahkan, mau foto bareng batuan penyusun jalanan yang tampak unik, kotak-kotak, yang katanya masih asli dari (zaman?) Belanda itu, boleh bangeeeet. Soooo... mari fotoooo hahaha.


Well, harus saya akui, keindahan masa lalu masih terasa di sepanjang jalan Braga. Ketika pandangan mata kusapukan di sepanjang jalan, saya bisa mendeteksi kekunoan di mana-mana. Bangunan-bangunan jadul, dinding bata, jendela dan lorong-lorong tua, namun sayangnya kebayakan kusam, berdebu, dan ehm, bau pesing menyeruak di sana-sini. Hweeeek! Sorry to say....

bangunan jadoel


Salah satu spot yang pesingnya minta ampuuun!
jadi fotonya sambil nahan napas nih qiqiqi :v

Tapiiiii terlepas dari beberapa hal yang masih patut disayangkan itu, saya yakin di masa depan, jalan-jalan di jalan Braga akan menjadi kian nyaman. Yakinlah ya, pak wali yang sekarang kan arsitek, bukan? Pasti semakin dipoleslah itu jalan Braga, setidaknya no more bau pesing deh hihihi :v

25.12.13

Hujan, Banjir, dan Macet di Makassar

Saya pikir saya tidak akan lagi menuliskan soal ini sebagai reportase di blog saya. Tapi rupanya saya salah. Saya masih tetap harus menulis juga soal ini. Seperti ritual tahunan ternyata. Sayangnya, bukan sesuatu yang membanggakan, sorry to say. Padahal dengan saya menulis soal ini setahun lalu, saya sungguh berpikir baik bahwa akan ada perubahan tahun depan. Perubahan signifikan yang jaauuuuh lebih baik. Well, saya salah.

Eh, ini soal apa sih sebenernya? Hihihi…

2.8.13

Romi, Daeng Cilik Penjual Buah Tala

Hari ini seseorang menceritakan pada saya mengenai Romi, daeng cilik penjual buah tala. Dalam rangka menghidupkan kembali blog risablogedia ini, akan saya re-tell kisah tersebut  khusus untuk kawan-kawan semua.

Namanya Romi. Anak lelaki itu usianya sekitar 10 atau 11 tahun, ia kini duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Entah sudah berapa lama Romi si daeng cilik ini berjualan buah tala. Atau, entah dalam rangka apa sampai ia harus berjualan buah tala -- apakah sekadar mengisi waktu liburan atau apa--, entah, nara sumber saya tidak sempat menanyakan padanya. Yang jelas, satu hal yang membuat keadaan Romi semakin menarik adalah bahwa menurut penuturannya, ia tinggal di Jeneponto. Sebagai informasi, jarak antara Jeneponto – Makassar adalah sekitar 70 km! Istimewa? Tentu saja. Jeneponto itu di luar kota Makassar. Dan jarak sejauh itu bisa jadi ditempuh selama 2 jam menggunakan kendaraan. Sementara menurut pengakuan Romi, ia naik angkutan umum saja menempuh jarak sejauh itu. Wow, terbayang oleh saya, berapa kali ia gonta-ganti angkutan? Belum lagi setibanya di tujuan ia harus memikul dagangannya ke mana-mana, berat, sembari menantang panasnya sinar terik matahari Makassar!


Ini dia, Romi, daeng cilik penjual buah tala

Terlepas dari semua masalah yang jika memang benar seperti itu faktanya tentu saja sangat sangat menakjubkan. Maksud saya, seorang anak kelas 5 SD, dari kampung turun ke kota demi menjual buah tala, masya allah! Di balik itu semua, betapa seorang anak kecil seperti Romi, telah paham arti berjuang dalam hidup. Ia tidak mengemis, tidak meminta-minta, tidak menadahkan tangan begitu saja, melainkan ia bekerja, ia berusaha! Sungguh sebuah sikap gentlemen yang ditunjukkan oleh bocah belia itu. sebuah sikap yang bila dimotivasi secara tepat pasti akan menghasilkan seorang yang hebat kelak suatu saat. Sebuah sikap yang membuat saya sukarela menghantar doa untuknya, semoga perjalanannya ini kelak akan menghantarmu menuju takdir terbaik dalam hidupmu, duhai Romi, daeng cilik penjual buah tala.

8.3.13

I Love You dalam Berbagai Bahasa Daerah Indonesia


Sejak belia, saya sudah terbiasa berkeliling Indonesia. Sebabnya adalah saya selalu ikut ayah saya yang sering dipindah-tugaskan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Menjalani hidup yang berpindah-pindah, tentunya ada banyak hal positif yang berhasil melekati saya hingga saat ini. Salah satu di antaranya adalah, saya jadi tahu benar betapa luasnya negeri tercinta, sang zamrud khatulistiwa ini. Saya juga jadi tahu benar, betapa beranekaragamnya suku, adat, kebiasaan, dan ya, tentu saja, bahasa daerah di Indonesia.

aneka macam baju daerah sama halnya seperti beragamnya bahasa daerah indonesia
sumber gambar : http://dwiarinii.wordpress.com
Ada banyak bahasa daerah di Indonesia, itu sudah pasti. Sedangkan di satu wilayah saja ada beraneka ragam bahasa daerahnya. Saya ambil contoh, bahasa daerah di Sulawesi selatan, ada bahasa bugis, ada bahasa Makassar. Bahasa bugis itu sendiri pun masih terbagi-bagi lagi per wilayah. Bahasa bugis pangkep berbeda dengan bahasa bugis enrekang, misalnya. Setidaknya begitulah yang berhasil saya amati ketika sedang ada acara kumpul-kumpul keluarga. Yang seringkali hanya membuat saya merasa benar-benar terasing. Karena suasana ramai, namun saya nggak ngerti sama sekali apa yang sedang diperbincangkan (eh kok malah curcol).

Secara silsilah keluarga, saya sebenarnya adalah keturunan jawa tulen. Namun karena sejak belia, seperti yang sudah saya sebut di muka, saya selalu pindah-pindah domisili, akhirnya saya merasa predikat kejawaan saya sudah hilang. Coba saja ajak saya berbicara bahasa jawa, pasti saya akan bingung. Paling mengerti sepatah dua patah kalimat, selebihnya saya blank.

Demikian pula bahasa-bahasa daerah di mana saya pernah tinggal. Saya tidak pernah benar-benar menguasai bahasa dari satu daerah tertentu. Paling banter saya hanya tahu dialek setempat saja. Soal bahasa daerah aslinya paling tahu satu atau dua kata saja. Sayang sekali, ya! Padahal coba kalau saya paham, saya kan bisa mengklaim ‘menguasai empat bahasa’ selain bahasa Indonesia; bahasa jawa, bahasa sunda, bahasa ambon, bahasa papua, hehehe.

Namun tidak benar-benar memahami satu bahasa daerah tertentu bukan berarti saya tidak memiliki simpanan kosa kata yang bisa saya bagikan. Saya punyalah. Nah, berikut ini ada satu kalimat yang ingin saya bahasakan dalam beberapa bahasa daerah. Disimak ya, semoga berguna J

I love you
Kulo tresno karo sampeyan
Urang bogoh ka maneh
Beta sayang se
Sa cinta ko

Well, bagaimana, keren, kan? Ada yang tahu arti kalimat-kalimat tadi plus berasal dari bahasa daerah mana? ^__^

“Postingan ini diikutsertakan dalam giveaway ‘Aku Cinta Bahasa Daerah Giveaway’”


4.3.13

Harga Daging Sapi Lokal Melonjak Naik

Cukup kaget ketika pekan lalu saya melakukan belbul (belanja bulanan) di salah satu pasar hyper dan mendapati harga daging sapi lokal melonjak naik. Sebelumnya, sekitar beberapa bulan lalu ketika terakhir kali saya membeli daging merah tersebut, sebelum kasus impor daging sapi menjadi benar-benar serius karena salah seorang petinggi parpol ditersangkakan, rasanya harganya tidak segila ini. Daging sapi cincang dengan kategori premium, yang biasanya paling mahal harganya berkisar 90ribuan perkilo, sekarang menembus 129ribu per kilo! Demikian juga dengan daging sapi bagian tenderloin, sekarang harganya mencapai 115ribu sekilonya! Wuiihhhh!



Ada apa ini? Kenapa bisa harga daging sapi lokal melonjak naik sedemikian drastis begini? Sungguh telah demikian bobroknyakah regulasi di negeri ini sehingga ketika impor daging yang kabarnya telah mulai dikurangi itu, yang notabene membuat AS langsung protes kepada WTO – noted that! –, langsung memengaruhi kondisi pasar? Seolah ingin menunjukkan pada kita bahwa ‘kita memang tak bisa hidup tanpa daging sapi impor, lihat saja harganya langsung melonjak, kan?’. Menyedihkan. Di pikiran saya yang naïf ini, menyedihkan adalah perasaan yang langsung menyeruak mendapati kenyataan ini. Ada apa ini? Ada apa gerangan?

18.1.13

Macet = Ciri Khas Kota Metropolitan?


Tulisan ini sudah pernah saya posting di kompasiana dengan judul Kemacetan itu Ibarat Penyakit, Lebih Baik Dicegah daripada Diobati. Ngga apa-apa kan ya kalau saya repost di blog ini? Tidak akan dimarahi oleh googlebot kan ya? *gaptek

Baiklah, selamat membaca .... :)

Setidaknya ada tiga buah mobil berplat --dasar putih tulisan merah-- yang berseliweran di kompleks tempat saya tinggal. Ya, mobil baru. Kursinya masih diselubungi plastik, bodinya bersih, dan catnya, ya tentu saja, mengilat, mentereng menyilaukan, cling! Nyaris tiap saat saya mendapati mobil-mobil berplat seperti itu. Maksud saya, tidak pernah misalnya dalam rentang waktu yang cukup panjang, saya tidak melihat mobil-mobil dengan plat seperti yang saya maksud tadi. Selalu adaa saja. Artinya apa? Artinya, secara umum bisa dimaknai sebagai : orang-orang tak henti-hentinya membeli mobil baru. Iya, kan?

Nah, ini hanya contoh kasus yang melibatkan sebuah kompleks tempat saya bermukim, di Makassar. Bagaimana dengan ratusan perumahan lainnya? Saya yakin hal yang sama pun kurang lebih pasti terjadi di kompleks-kompleks lain. Orang-orang terus saja membeli mobil baru. Di mana pun, kapan pun. Wajar sih, mengingat sejauh ini mobil pribadi memang merupakan transportasi ternyaman yang bisa dipilih (mengabaikan faktor lain semisal betapa mudahnya memperoleh kreditan kendaraan belakangan ini).

Lalu apa masalah saya dengan keputusan orang-orang membeli mobil baru? Tidak ada, sama sekali tidak ada. Saya justru turut bahagia dan berharap suatu saat kelak pun berkemampuan memiliki mobil berplat –dasar putih tulisan merah– seperti orang-orang itu.

Hanya saja sedikit tebersit kekhawatiran di benak saya, jika orang-orang terus membeli mobil baru, bagaimana nantinya dengan kemacetan yang bahkan sekarang pun sudah mulai sering dikeluhkan oleh warga Makassar? Sebandingkah kira-kira pertumbuhan infrastruktur semacam jalan raya, untuk mengantisipasi, MENCEGAH masalah kemacetan? Well, saya berpikir positif saja, bahwa para pemegang regulasi kota Makassar tentu memiliki kepedulian yang bahkan lebih tinggi dari saya (siapalah saya). Dan saya bahkan meyakini bahwa para pemegang regulasi tentunya pemikirannya lebih maju sepuluh langkah daripada saya dalam hal ihwal merencanakan pembangunan dan tata kota. Saya meyakini itu, sangat. Semoga.

Saya teringat sekitar sepuluh tahun lalu ketika jalanan utama kota Makassar seperti  Jl. Perintis, Jl. Pettarani, Jl. Alauddin, masih selebar sekitar empat mobil dijejer (mencakup kedua sisi jalan). Secara garis besar meski jalanan tidak terlalu lebar, lalu lintas lancar-lancar saja. Namun seiring berjalannya waktu, untuk ukuran sebuah fast-growing-city sebesar Makassar, pada akhirnya toh macet menjadi salah satu menu keseharian juga. Seolah ingin mempertegas kenyataan bahwa ciri khas kota metropolitan adalah macet (padahal haruskah?).

Ini adalah antrian menuju lampu merah di daerah Tello. Jika dibiarkan, salah-salah bisa jadi macet sungguhan.
(maaf, kamera hape saya kurang stabil kalau mengambil gambar sambil bergerak jadi gambarnya kurang jelas)

Sehingga diperlebarlah jalanan-jalanan utama kota menjadi nyaris dua kali lipatnya. Namun bagaimana hasilnya? Apakah memperlebar jalanan lantas secara otomatis menjadi solusi kemacetan? Coba  tanyakan saja pada warga Makassar, pasti jawabannya tidak. Tetap saja macet. Meski kalau boleh saya katakan, macetnya masih cukup ‘sopan’. Dibandingkan dengan Jakarta misalnya. Kemacetan di Makassar, terkadang terjadi karena kasuistik semata. Misalnya ada demo, jelas macet. Banjir, itu juga macet. Ada kecelakaan, wajarlah macet. Busy hour, di mana orang-orang serentak pergi-pulang rumah untuk bekerja maupun sekolah, biasanya padat merayap. Di potongan jalan, di mana orang-orang biasanya memutar kendaraan dan ada polisi cepek (eh seribu) di sana, berpotensi macet. Atau pada antrian lampu merah, salah sedikit jadinya macet. Begitulah. Eh, jadi kapan ngga macetnya?

Jadi, sekarang bagaimana? Solusinya apa? Apakah perlu dibuatkan aturan khusus terkait prosedur dan syarat kepemilikan kendaraan? Ataukah mau diperbanyak pertumbuhan jalan raya, lingkar tengah dan sejenisnya? Entahlah, terserah!

Gambar ini pernah saya tampilkan di artikel tentang banjir di makassar.
Nah yang tampak di sebelah kiri angkot itulah cikal jalan lingkar tengah yang saya maksud.

Yang jelas, tertitip tanya, mau dibawa ke mana kota molek yang strategis, ekonomis, dan manis ini? Apakah kemacetannya, yang saya ibaratkan seperti penyakit, hendak dicegahkah atau dibiarkan saja kronis? You tell me…

Sumber bacaan :

11.1.13

Banjir Jalanan Makassar dalam Gambar


Hari itu hujan sedang mereda di Makassar. Untuk mengurangi rasa bosan para bocah yang sudah cukup lama terkurung di rumah, --padahal mereka sedang liburan--, akhirnya kuputuskan untuk membawa mereka keluar. Opsinya hanya satu yaitu jalan-jalan mencari tempat rekreasi yang kering dan anti banjir, ehmm …mall, hehehe.

Ketika menyebutkan tujuan kami pada om sopir taksi, serta merta beliau mengabarkan bahwa jalanan menuju mall tujuan kami saat itu sedang macet parah. Saya cukup tercengang. Yaelah, macet. Males banget sih. Tapi ya sudahlah, toh kami sudah melaju juga. Saya berharap semoga saja macetnya tidak semacet itu, kau tahu kan maksudku…

Ketika sampai di depan pintu I Universitas Hasanuddin, terbuktilah ucapan om sopir taksi tadi. Muacettt! Terpaksa saya menelan ludah. Kalau sudah macet di situ ya sudah, tinggal ikuti saja. Mau minta berputar juga tak bisa, karena jalanan di sekitar jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar ini, jarang sekali memiliki tempat berputar. Pembatas tengah jalanan nyaris tertutup semua di sepanjang jalan Perintis Kemerdekaan ini! Di sepanjang pintu I Unhas sampai pertigaan Tello hanya ada satu bukaan. Jadi kapan pun terjadi macet cuma bisa pasrah.

“Ini macetnya kenapa sih?” gumamku.

“Banjir, Bu, di depan sana,” sahut si om sopir taksi.

Banjir?

Yap. Banjir. Dan benar saja, di depan kampus STMIK Dipanegara Makassar, di jalur jalan raya menuju pusat kota, air meluber ke mana-mana, entah dari mana. Dan saya pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Mau menyalahkan curah hujan yang meningkat belakangan ini? Mau menyalahkan sistem drainase? Mau menyalahkan pembangunan yang kurang memperhatikan tata lingkungan? Mau menyalahkan oknum yang kurang memperhatikan kebersihan lingkungan? Atau mungkin mau menyalahkan rumput yang bergoyang? Entahlah, you tell me!

Mengabaikan semua itu, berikut ini adalah hasil jeprat-jepret saya ketika mobil melintasi sungai eh jalan raya yang terendam air itu. Terakhir, mari sama-sama berharap semoga kondisi ini menjadikan kita manusia yang mau belajar dari pengalaman. Dan mari berharap semoga lepas dari musim hujan, jalan raya yang sempat terendam air itu tidak rusak!


Beberapa pengendara motor menyatakan pikir-pikir, terobos nggak yaa?

Sungguh! Ini bukan sungai.
Ini calon jalan alternatif yang entah kapan akan selesai pengerjaannya...

tampak belakang


Pete-pete mogok penumpang pun bubar!

Angkot yang di tengah jalan itu, menyerah, mogok juga...

Beda tipis sama Venesia ;p

Ga usah jauh-jauh ke Itali ;p

Tebak! Ini naik apa di mana? :D

Akhirnya, secercah harap di ujung sana... akhir dari banjir!
Mari jadi lebih baik! :)

8.12.12

OSN Pertamina : Ajang Unjuk Prestasi Anak Negeri

OSN Pertamina atau Olimpiade Sains Nasional Pertamina merupakan sebuah kompetisi bagi para mahasiswa di bidang sains yang diselenggarakan oleh PT Pertamina yang bekerja sama dengan Universitas Indonesia. Di tengah seliweran berita yang terkadang membuat telinga terasa pekak, demo anarkis, kerusuhan bahkan tawuran, ajang ini menjadi semacam oase yang menyejukkan. Mendengar bahwa para generasi penerus bangsa saling adu prestasi, baku hantam pemikiran untuk dipersembahkan sebagai kontribusi terbaiknya sungguh menjadi secercah harapan bagi masa depan bangsa ini. Rupanya masih ada asa di sana.


Menilik secara objektif kompetisi ini, bagi pihak yang memprakarsai tentunya terselip harapan besar di balik program Olimpiade Sains Nasional yang ditujukan bagi para mahasiswa dengan latar belakang sains ini, selain sekadar sebagai tanggung jawab moral dalam hal ini PT Pertamina (Persero) terhadap masyarakat sebagai bagian dari program CSR perusahaan. Harapan agar lahir saintis-saintis muda yang memahami betul disiplin ilmu yang mereka tekuni sehingga pada akhirnya akan menghasilkan penemuan-penemuan baru dalam bidang ini.

Sementara bagi pihak peserta, kiranya ajang ini akan menjadi wadah pembuktian intelektualitas mereka di antara sesama civitas akademika di seluruh Indonesia. Terlebih lagi memasuki tahun kelima pelaksanaan kompetisi ini pesertanya telah mencapai 19.000 orang. Selain gengsi tentu juga menjadi investasi pribadi bagi masa depan mereka. Bukan semata soal hadiah yang diperebutkan yang mencapai besaran 2,8 Milyar, ada hal lain lagi yang tentunya lebih menggiurkan terutama bagi para pemenang. PT Pertamina menyebut akan memberikan privilege kepada para pemenang ketika kelak mereka ingin berkarir di perusahaan tersebut. Di zaman sekarang penghargaan khusus seperti ini tentu menjadi sesuatu yang sangat berarti. Bahwa prestasi anak negeri sudah selayaknya diberi tempat istimewa terutama di dalam negeri sendiri. Sehingga  tak perlu terjadi putra-putri terbaik bangsa  ‘membelot’ dengan membawa otak brilian mereka ke luar negeri hanya gara-gara di luar sana lebih menghargai kerja cerdasnya,

Salah satu kategori yang dikompetisikan dalam Olimpiade Sains Nasional Pertamina yang telah diselenggarakan sejak 5 tahun lalu ini adalah di bidang science project. Sebuah terobosan yang cukup cerdik mengingat hasil pemikiran para pesertanya tentu sangat aplikatif untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh saja, karya dari sang pemenang, Grandprix Thomryes yang berjudul “Aplikasi Zeolit Alam Indonesia dan Na-Zeolit Alam Indonesia sebagai Katalis Rengkah Polietlena menjadi Fraksi Minyak Bumi”. Selain sangat sinkron dengan jargon ‘Mencetak Generasi Sobat Bumi Berprestasi’ yang diusung PT Pertamina sebagai tema OSN tahun 2012 yang diselenggarakan dalam rangka memperingati miladnya yang ke-55, dalam kehidupan sehari-hari aplikasi semacam ini memang sudah sangat dibutuhkan. Di antara melimpahnya limbah plastik dewasa ini, mengingat rasa-rasanya hampir seluruh aspek kehidupan kita dirajai oleh plastik, semoga saja proyek ini benar-benar dapat direalisasikan segera. Pun hasil karya para peserta yang tidak menjadi juara, tentunya bukan berarti buruk. Menang atau tidak ini hanya soal kompetisi sehingga harus dipilih juaranya. Namun sebuah mahakarya tentu baru benar-benar berguna jika telah ditindaklanjuti. Dan yang terpenting adalah untuk membuktikan bahwa para generasi muda Indonesia pun mampu menghasilkan kontribusi positif bagi umat manusia.

Semoga di masa mendatang Olimpiade Sains Nasional Pertamina ini akan semakin berkembang bahkan merambah hingga ke bidang ilmu yang lain dengan cakupan tingkatan peserta yang lebih luas lagi.


3.11.12

Surat Cinta untuk Masjid Terapung Makassar

Keberadaan ikon khas bagi sebuah kota, tak dapat dimungkiri, sangatlah penting. Demikian pula halnya bagi kota yang terkenal dengan julukan Anging Mammiri, Makassar. Pantai Losari, kalau boleh hanya menyebut satu, nyaris dipastikan ikon inilah yang akan disebut ketika kita mendeskripsikan wisata kota di Makassar. Mewakili semua kriteria paling dicari oleh para pelancong, terutama yang berasal dari luar Sulawesi Selatan, alamnya, kulinernya, dan gaulnya. Ke Makassar tak akan lengkap jika belum menginjak pantai Losari. Pasti!

‘Mendompleng’ ketenaran pantai Losari, maksud saya letaknya yang sama-sama berada di kawasan teluk Makassar, kini terciptalah sebuah ikon baru bernama Masjid Amirul Mukminin atau yang lebih dikenal dengan masjid terapung. Tentunya tidak sungguh-sungguh terapung ala perahu, hanya letaknya di atas laut makanya dikatakan terapung. Andaikan masjid ini tidak terapung, saya yakin keberadaannya tidak akan ‘semenarik’ ini. Ketika pengunjung melewatinya paling hanya akan berkata, “Oh masjid baru”, alih-alih “Wow, masjid terapung!” Begitu.

Memukaunya setiap lekuk arsitektur masjid terapung ini bukan berarti menyurutkan secercah rasa prihatin saya mengenai beberapa hal yang terkait dengan masjid ini. Ada dua hal yang berhasil menggelitik nurani saya, dalam arti andai dua hal itu bisa dieliminir tentu ikon baru kota Makassar ini akan semakin sempurna pesonanya.

Tata Tertib Pengunjung

Satu hal yang membuat saya mengembus napas agak berat setiap mengunjungi masjid ini adalah banyaknya muda-mudi berpasang-pasangan yang entah mereka sudah menikah atau belum, berduaan menikmati sunset di sana. Entahlah, mungkin perasaan saya saja ataukah memang ada yang kurang patut dari kenyataan itu. Ini masjid, Dik. Rumah Tuhan.

Sebagai orang awam saya berharap esok lusa ada kebijakan khusus mengenai tata tertib pengunjung khusus terkait hal tersebut. Mengingat salah satu daya tarik masjid ini memang terletak di sana. Pada romantisme suasana sunsetnya yang … subhanallah. Bahkan saya berani mengusulkan, jika memungkinkan, bagi para pasangan yang sedang merencanakan pernikahan, ucapkanlah ijab kabulmu di masjid terapung ini, setelah waktu asar menjelang magrib. Duh, pasti manis sekali!

Kembali ke soal tata tertib pengunjung tadi, saya yakin pihak penanggung jawab masjid terapung ini, melalui para takmir, pasti sanggup melakukannya. Wong sandal saja bisa ditertibkan ketika melewati batas suci apalagi manusia yang memiliki nurani. Pasti bisa! Toh hal tersebut demi menjaga kehormatan masjid itu sendiri, bukan?

Masjid Terapung vs Sampah Terapung

Bukan proses perampungan areal masjid yang belum 100% yang mengganggu saya ketika mengunjungi masjid terapung beberapa waktu lalu. Tumpukan pasir, kerakal dan bebatuan yang terserak masih jauh lebih indah dibandingkan satu hal yang cukup mengusik ini. Sampah! Ya, sampah yang mengapung di sekitar perairan di bawah masjid. Miris melihatnya. Bukan salah masjid sehingga sampah-sampah itu melayang-layang di  atas air. Selain karena masjid ini masih baru, para pengunjung masjid pun tak ada yang makan-makan sehingga harus menyampah. Justru sampah-sampah tersebut seolah menjadi prasasti betapa tidak sanggupnya kita selama ini untuk menahan diri agar tidak membuang sampah sembarangan, ke laut.

Jika sudah seperti ini lalu bagaimana? Yang jelas sekadar saling menuduh tidak akan pernah membawa kepada solusi. Justru jauh lebih baik jika sesekali dilakukan semacam gerakan jaring sampah agar setidaknya pemandangan yang mengganggu itu bisa segera dienyahkan. Dengan menggandeng komunitas-komunitas lokal kemudian mempromosikannya melalui media sosial, seperti tren saat ini, sedikit banyak akan menghasilkan efek positif.

Sayang sekali bukan jika seluruh citra yang hendak dibangun atas sebuah ikon baru kota ini menjadi tercemar gara-gara sampah-sampah yang keberadaannya seolah menyaingi julukan sang masjid, sama-sama terapung?

foto : dok. pribadi

(Tulisan ini pernah saya kirim ke salah satu media lokal di Makassar sekitar 2 bulan lalu, tapi sepertinya tidak cukup menarik untuk dimuat atau semacamnya hehehe)

21.10.12

Voorrijder


Voorrijder. Dengan dobel r. Keren ya kata itu? Terdengar sangat berkelas. Eh, tapi sebenarnya artinya apa sih? Dan cara ngucapinnya gimana sih? Karena saya mengenal kata ini selalunya ketika di televisi beredar berita mengenai seorang petinggi negeri yang, kalau bukan menggunakan maka menolak menggunakan voorrijder ini.

Ketika kita mencari referensi petinggi-petinggi negara yang menolak menggunakan pasukan pengawal, memang kebanyakan nama-nama asinglah yang muncul. Eh, berarti voorrijder ini artinya pasukan pengawal ya? Sebut saja Presiden Filipina, Benigno Aquino, Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, atau PM Inggris, David Cameron dan juga Presiden Mesir, Mursi. Namun tentu saja referensi petinggi negeri sendiri juga ada dong. Apalagi yang paling mutakhir, yap!, sang fenomenal, Joko Widodo, gubernur Jakarta. Beliau mengucap ikrar bahwa jika menjabat sebagai gubernur dirinya tidak akan memakai jasa voorrijder ini. Beliau memilih untuk turut bermacet-macet di rimba jalan raya ibukota bersama segenap warganya. Nah, jadi sebenarnya voorrijder ini pasukan pengawal atau pengurai kemacetan sih?

Untuk menuntaskan penasaran saya mencoba untuk menelusuri kata voorrijder ini melalui google. Dan seperti yang saya duga kata ini memang adalah kosa kata dalam bahasa Belanda. Dan ketika saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia ternyata artinya orang berkuda. Oke. Case closed. Eh tapi, lalu di mana kudanya?

Gagahnya pasukan berkuda ini! (sumber gambar : republika)

Entah kenapa kata dalam bahasa Belanda ini selalu dipakai untuk mengistilahkan pasukan pengawal atau pengurai kemacetan jalan raya atau apapun maksudnya, bagi pejabat tinggi negara. Atau mungkin kata ini sudah termasuk kata serapan yang umum dipakai di mana-mana untuk menyebut pasukan pengamanan semacam itu?

Ah, apapun itu jujur saja saya salut dengan apa yang dilakukan oleh Gubernur Jakarta, Joko Widodo. Beliau berpendapat bahwa jika dirinya tidak merasakan langsung yang namanya macet bagaimana mungkin ide untuk mengentaskannya bisa muncul? Jangan sampai gara-gara menggunakan pasukan pengawal atau petugas pengurai macet atau voorrijder atau apalah istilahnya, seorang petinggi negeri bahkan tak sadar bahwa kemacetan sesungguhnya masih terjadi. Iyalah, bagaimana mau menyadari, wong mereka nggak pernah merasakan. Jadi bagaimana solusi untuk mengatasi kemacetan yang akan dilakukan oleh Gubernur Jakarta? Kita lihat saja nanti.

Dan apapun itu, solusi kemacetan itu, saya hanya berharap, hurry up!, cepet-cepetan sama program peluncuran mobil “murah-meriah” aneka merk itu…!

16.9.12

Bahaya Kebakaran Mengintai di Musim Kemarau


Salah satu musibah yang rawan terjadi di musim kemarau adalah kebakaran. Angin yang mengembuskan udara kering ditambah cuaca panas seringkali tanpa disadari turut andil dalam terjadinya kebakaran. Seperti halnya yang terjadi di sebuah perumahan di Makassar, Jumat sore, 14 September 2012. Siapa nyana niat baik seseorang untuk membersihkan rerumputan yang tumbuh liar di halaman rumahnya berubah menjadi bencana. Api yang dimaksudkan untuk melalap rumput kering yang telah berhasil dikumpulkannya berubah menjadi monster merah panas yang justru malah menyambar rumah dan menghanguskannya. Yang lebih memilukan lagi, sebuah rumah persis di sebelah rumah yang menjadi sumber api pun turut terbakar habis.


Sungguh, sesuatu yang harus menimpamu takkan luput darimu begitu pula sesuatu yang luput darimu takkan pernah menimpamu.

Saya membayangkan si empunya rumah, di pagi hari pastilah mereka tiada tebersit sedikitpun bahwa sorenya mereka akan kehilangan tempat bernaung. Namun siapa yang sangka ternyata semua ini harus terjadi. Innalillah…




Terlepas dari semua kejadian itu, sebuah takdir yang ketika Tuhan bersabda “Jadi!” maka tiada yang akan dapat menghentikannya, sebagai manusia lagi-lagi kita hanya bisa memetik hikmahnya.

Meski tampak sepele mari lakukan hal-hal sederhana seperti berhatilah-hatilah dengan api, sekecil apapun bentuknya. Jangankan di musim kemarau sedangkan di musim penghujan saja kebakaran akibat keteledoran manusia masih memungkinkan untuk terjadi.

Sedikit tips ketika kita hendak membakar sampah dedaunan kering di halaman : perhatikan sekitar, jangan membakar sampah di dekat bahan lain yang mudah terbakar atau di bawah jalur kabel listrik. Jangan membuat tumpukan yang terlalu besar. Sampah berupa daun kering biasanya akan membentuk api yang mudah berkobar cukup besar. Yang meski durasi proses pembakarannya sebentar namun seperti contoh kasus di atas bisa berakibat fatal. Bila memungkinkan siapkan selang dengan keran air yang berfungsi di dekatnya untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan.

Kemudian mari membenahi tata kota dan melengkapi sarana serta prasarana yang diperlukan demi keselamatan seluruh warganya. Mengaca pada peristiwa kebakaran yang terjadi, beberapa saksi menyatakan mobil pemadam kebakaran sedikit terlambat tiba di TKP. Saya yakin penyebabnya tentu melibatkan banyak faktor. Bisa saja ketika kejadian berlangsung alih-alih segera menghubungi pemadam, warga malah terpana menyaksikan api yang membara.

Atau bisa saja ketika pemadam telah berhasil dihubungi dan mereka tengah mengerahkan segenap kemampuannya untuk mencapai lokasi tepat waktu, ada lagi faktor lain yang menyebabkan mereka terpaksa tiba melenceng dari target waktu yang diinginkan. Sebutlah faktor lalu lintas misalnya. Bayangkan saja, sore hari, boleh dikata bersamaan dengan jam pulang kantor, dengan jarak antara lokasi markas pemadam dan TKP yang cukup jauh, tentu butuh waktu yang cukup lama bagi pemadam untuk tiba di lokasi.

Saya jadi membayangkan perasaan para empunya rumah yang terbakar itu, pada saat kejadian pasti hati kecil mereka berharap andai lokasi perumahan ini dekat dengan markas pemadam mungkin ceritanya boleh jadi berbeda. Yang pada akhirnya menyisakan gelitik tanya dalam benak saya, untuk cakupan sebuah kota besar seperti Makassar ini misalnya, berapa banyak idealnya markas-markas pemadam kebakaran yang seharusnya dipersiapkan demi mengantisipasi terjadinya musibah-musibah yang tak diinginkan? Dalam radius berapa seharusnya markas pemadam itu ada untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan? Begitu pula dengan ketersediaan hydrant-hydrant sebagai sumber air manakala musibah kebakaran ini tak lagi dapat dicegah, apakah siap?


Entahlah, mungkin pemikiran saya sebagai seorang rakyat jelata yang masih shock memikirkan nasib tetangganya yang baru saja terkena musibah, terlalu berlebihan dan mengada-ada. Entahlah…

18.8.12

Aku cinta Indonesia! Kamu?


Seperti yang pernah saya nyatakan dalam pembukaan tulisan saya tentang batik, saya katakan bahwa saya merasa beruntung terlahir di lingkup negeri indah penuh berkah melimpah bernama Indonesia. Bukan berarti saya antipati dengan negeri-negeri di belahan dunia yang lain, hanya saja … ah, entahlah, aku cinta saja dengan negeri ini… dengan segala ke-BHINEKA-annya tentu saja. Dari mulai keragaman suku bangsa, bahasa, kebudayaan dan lain sebagainya.

Manakala sebuah negeri pernah dijajah oleh negeri lain, biasanya ia akan memiliki hari merdeka. Pun demikian halnya dengan Indonesia ini. Adalah 17 Agustus, sebuah hari yang tampaknya akan selalu dikenang sepanjang negeri ini berdiri. Meski hingga detik ini sebagian orang akan mempertanyakan, “yakin sudah ‘merdeka’?”

Okey, cukup! Bukan itu yang ingin saya bahas. Saya membuat tulisan ini karena tiba-tiba saja saya terpikir, mengapa perayaan hari kemerdekaan Indonesia itu identik dengan perlombaan semacam lari karung, makan kerupuk, balap kelereng, sepakbola lelaki memakai rok, dan aneka permainan ‘aneh’ semacam itu? Aneh saya bilang karena terkadang orang dewasa pun bersedia melibatkan diri di dalamnya.

Saya bukan hendak mengkritik tradisi (hey, tradisikah ini?) karena sewaktu saya kecil saya sungguh menikmati perayaan seperti ini. Ramai-ramai di lapangan. Bersenang-senang. Karnaval. Hmmm … Namun semakin dewasa (untuk tidak menyebut tua) perasaan itu rupanya semakin sirna. Lagipula tradisi itu (sekali lagi saya mempertanyakan, tradisikah itu?) kian hari kian pudar. Apalagi ketika 17 Agustus bertepatan dengan bulan Ramadhan, seperti ketika pertama kali diproklamirkan. Sepertinya orang-orang lebih memilih memikirkan takjil ketimbang makan kelereng eh balap kerupuk eh? :D

Okey, cukup (lagi)! Saya bukan bermaksud mengkritik tradisi (lagi). Eh, tradisikah ini? Hanya saja, saya merasa ada sesuatu yang kurang pas. Kalau memang harus ada perayaan baiknya bagaimana sih? Apakah yang selama ini sering kita lakukan hingga menjadi sangat identik dengannya ini, sudah tepat? Bagaimana kalau begini : adakanlah lomba desain dan rancang teknologi pesawat terbang, jangan muluk-muluk dengan kriteria yang setara jumbo jet, setara CN-235 dan N-250 dululah. Dengan batas umur peserta antara 17 – 25 tahun, tidak lebih dari itu. Bukan apa, selain tujuannya ingin menguji dan mengasah para pemuda harapan bangsa, jangan sampai jika tak dibatasi usia nanti Pak Habibie turut serta! 

sumber gambar : blog unique
                                      
Atau mungkin adakanlah lomba rancang tata kota yang aman, nyaman, sejahtera, bebas macet, bebas banjir. Atau lomba tata negara yang bebas korupsi, adil dan makmur. Atau lomba strategi jitu pembebasan harta kekayaan alam Indonesia. Pasti akan sangat menarik, bukan? Apalagi jika hadiahnya fantastis, katakanlah memperebutkan uang sejumlah 7 miliyar (kenapa 7 M? Karena menurut nara sumber sebuah perbincangan di televisi swasta, perayaan kemerdekaan di istana alokasi dananya sekian, katanya lho ya, hehehe)! Wuuiihh kalau generasi muda ditantang seperti itu kira-kira akan membawa dampak positif tidak, ya, untuk kemajuan negeri ini?

Baiklah, sebelum saya menuai ucapan –huuuu-- dari kawan semua ijinkanlah saya ngaciiirrr sambil menjinjing bakiak. Satu, dua, satu, dua, kiri, kanan, kiri ……

Ah, aku cinta Indonesia! Kamu?

25.5.12

Risablogedia | Have Fun With 'Bahasa Indonesia'


gambar diambil dari google

Menulis itu menyenangkan. Tidak bagi semua orang namun setidaknya beberapa orang pasti akan mengangguk sepakat. Terkadang mampu membantu menghalau galau yang meradang. Terlebih lagi bagi orang-orang yang jarang berbicara, pendiam.

Tapi bahkan terkadang seorang penulis pun sering kehilangan kelincahan tarian jemarinya, semisal ketika patah hati,,, patah pula penanya. Semacam itulah.

Sebenarnya saya mau posting apa sih ini?
--“
Baiklah, let’s just make it simple…

Dalam dunia kepenulisan, salah satu hal yang saya berhasil pahami adalah adanya standar kata yang baku. Berhubung bahasa induk saya adalah bahasa Indonesia, tentunya acuannya adalah pada KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Memang sih dalam sebuah tulisan tidak semua harus baku. Apalagi ‘hanya’ untuk sebuah blog pribadi. Justru sentuhan personal terkadang akan sangat mencairkan suasana dan membentuk karakter serta ciri khas si blog itu sendiri. Namun entah mengapa setiap kali saya menulis, saya selalu seperti ini, cenderung baku. Kebiasaankah atau bagaimana saya sendiri tak mengerti. Tapi jujur saja, pernah tebersit di benak saya setidaknya kalau tulisan-tulisan saya cenderung menggunakan bahasa baku, ketika andaikata ada orang asing yang penasaran dan mencoba menerjemahkannya ke dalam bahasa mereka, kan jadi mudah *plakkk!!*

Salah satu alasan lain saya lebih nyaman menggunakan bahasa baku dalam tulisan adalah karena dalam percakapan sehari-hari saya sudah menggunakan bahasa campur aduk aneka logat daerah. Aturan saya ketika bicara adalah asalkan lawan bicara saya mengerti. Makanya dalam tulisan saya berusaha untuk menampilkan bahasa Indonesia yang normal. Selain itu, saya sedang belajar untuk pada akhirnya bisa menghasilkan tulisan-tulisan panjang semisal novel best seller *uhukk!* yang mana biasanya syarat yang diminta oleh penerbit adalah tulisan harus baku. Yup, makanya saya membiasakan diri dan akhirnya cukup memengaruhi cara menulis saya diii mana pun.

Kawan tahu tidak, niat awal saya membuat postingan ini sebenarnya adalah untuk segera mencabut kehiatusan blog saya tercinta belakangan ini. Tadinya saya cuma ingin menulis tips ringan seputar kata-kata baku saja, tapi kok jadi keterusan begini ya?

Pertama kali saya belajar menulis saya pun terkadang tak peduli, menulis ya menulis saja. Eksperimen kata sesukanya. Namun belakangan ini saya selalu mengecek kata-kata yang saya pilih apakah ada dalam kamus atau tidak, persis seperti kuis main kata di televisi itu. Nah, dalam rangka berbagi sedikit hal yang saya tahu, —ilmu yang baik itu sesedikit apapun paling bagus ketika dibagi kan?—berikut ini saya bocorkan beberapa kata yang biasa menjadi common-mistakes bagi orang-orang yang sedang belajar menulis, macam awak ini lah J

  • UBAH

Pernah tidak kawan menemukan kalimat seperti ini, “Kamulah yang harus merubah sendiri keadaan itu!”
Kata dasarnya ubah, dear, bukan rubah, jadinya mengubah ya jangan merubah lagi. Rubah kan kata benda bukan kata kerja hehehe.

  • PIKIR

“Saya tak bisa berfikir lagi!”
Nah, nyaris tak terasa tapi besar bedanya, lho. Coba deh cek kata fikir di pojok kanan atas beranda blog saya, tempat Kamus Bahasa Risa bertengger. Pasti nggak akan ditemukan artinya. Karena bentuk bakunya pikir bukan fikir.

  • EMBUS dan NAPAS

“Saya menghembuskan nafas lega.”
Di mana kelirunya? Yang baku adalah ‘embus’ dan ‘napas’. Jadi, saya mengembuskan napas lega. Nggak percaya? Cek lagi saja pojok kanan atas beranda blog saya, hehehe.

  • SEKADAR

“Saya hanya sekedar bercanda, kok!”
Nyaris tak terdeteksi! Apalagi bila diucapkan dengan cepat. Padahal, coba deh dicek di … yup, kau tahulah di mana, hahaha, yang baku penulisannya ya –sekadar– J

And so many more (kebayang njelimetnya tugas para editor, ya). Saya sendiri pun masih belajar. Yuk, sama-sama belajar.

Kawan tahu tak, saya punya pendapat pribadi, sebuah novel itu romansanya akan semakin kental terasa manakala para lakonnya menggunakan bahasa yang baku, lho. Tengok saja novel-novel terjemahan, baku-baku semua bahasanya hehehe. Kecuali novel-novel yang ngocol tentu saja. Tapi itu hanya pendapat pribadi saya saja, ding. What do you think?

12.5.12

Telepati Lampu Lalu Lintas


nemu gambar disini

Berkendara di beberapa ruas jalan raya Makassar belakangan ini rasanya sungguh amazing. Menakjubkan betapa antara sesama penikmat aspal telah terjalin komunikasi telepati yang tak kasatmata. Misalnya saja di perempatan pintu I Unhas. Dari arah timur (rute Daya ke kota) dan utara (gerbang I kampus), lampu lalu lintas tak berfungsi sehingga para pengendara ketika hendak melintas perempatan itu terpaksa menggunakan kode tak resmi, lirik-lirik ke depan, baku atur sendiri. Bila barisan paling depan dari arah barat (rute kota ke Daya) berhenti, itu berarti antrian kendaraan dari arah utara bisa melaju. (Jangan tanya yang dari arah timur, kendaraan dari sana nonstop melaju. Rupanya ketika lampu lalu lintas tak berfungsi selalu disepakati maknanya sebagai tanda : don’t stop …! >> jadi inget kampanye sesuatu)

Sekali waktu, beberapa hari lalu, saya hendak pulang dari arah kota menuju Daya, yang berarti posisi saya di perempatan itu berada di arah barat, satu-satunya di perempatan tersebut yang lampu lalu lintasnya selamat dari demo kenaikan bbm yang sempat terjadi beberapa waktu lalu itu. Jelas-jelas lampu masih menunjukkan warna hijau. Sebagai pengendara yang patuh pada aturan, adalah hak saya untuk terus melaju menembus perempatan itu, bukan? Meskipun saya melihat antrian kendaraan dari arah gerbang kampus sudah mulai merangsek maju sebelum waktunya. Maklumlah, di sisi mereka lampunya tak berfungsi. Jadi demi melihat hanya saya yang melaju dari kejauhan mereka pikir bisa ‘menghentikan’ saya. Tapi dasar saya kadang ngeyel juga, --- lagipula memang lampu hijau di sisi saya, kok! --- maka saya tidak menunjukkan tanda mau mengalah. Justru dari jauh saya ribut menyalak, menekan klakson maksudnya, agar mereka tahu ini masih giliran saya melalui intersection tersebut. Alhamdulillah, meski rada nekat saya berhasil lolos.

Sebal? Iyalah … Pada siapa? Entahlah. Mungkin pada para pengendara itu? Atau pada para perusak fasilitas umum? Atau pada pemda? Entah.