3.12.16

Jika Tugasmu Hanyalah Menyampaikan Lalu Perubahan Itu Tugas Siapa?

Pernah tidak Anda menyampaikan sesuatu kepada orang lain dengan harapan orang lain itu mau berubah? Katakanlah orang yang Anda sayangi adalah seorang perokok lalu Anda menyampaikan padanya tentang bahaya rokok. Bahwa rokok itu berpotensi menggerogoti kesehatan, menyakiti diri sendiri, mencemari lingkungan dan sebagainya dan sebagainya. Anda berharap, memohon dengan sangat, berlinang air mata, hingga berdarah-darah rasanya hati Anda berharap dia mau mendengarkan dan berubah. Tapi tidak. Tak seinci pun dia mengabulkan. Tetap bergeming dengan pilihannya.

30.11.16

Tombol SAVE pada FACEBOOK, Apa Saja Kegunaannya?

Beberapa waktu belakangan, sebelum ramai orang saling unfollow hingga unfriend bahkan saling block, facebook seolah menjadi media sosial tempat postingan resep ramai sekali dibagikan. Dalam sehari beapa akun bisa nge-share postingan resep yang sama di timeline. Sampai takjub saya dibuatnya. Takjub sama yang bikin postingannya dishare banyak orang maksudnya. Padahal tak jarang kalau kita jeli membaca, beberapa postingan resep yang dibagikan itu asal saja. Bukan sekadar asal dari segi komposisi dan teknik, ada juga yang asal comot sumber aslinya. Yang penting viral. Tapi mendinganlah kalau yang dishare secara viral itu hanyalah resep yang sifatnya hoax (soalnya kadang ada hoax-hoax sensitif misalnya yang menyinggung SARA atau politik, yang, duh, ujungnya bikin musuhan orang-orang yang tidak saling kenal. Bayangin, kenal aja belum eh udah musuhan!). Paling efek hoax-nya hanya berlaku personal kepada si pencoba. Itu pun kalau resep yang dibagikan tersebut dicoba loh ya. Kadang kan ada tuh orang yang gemar membagikan postingan resep tanpa sekali pun mencoba. Saya itu loh maksudnya hahahaaa. Soalnya jujur saja, kadang saya ikut membagikan postingan resep hanya karena gambarnya bagus dan menarik, kenyang lihat gambar saja. *malu*

Nah, belakangan ini tren membagikan postingan resep agaknya mulai mereda. Sebagai gantin

26.11.16

Kopi Enak di Kantor Regus Makassar

Saya bukan pecinta kopi. Cuma suka wanginya saja. Jadi kalau ada yang bilang, eh di suatu tempat kopinya enak loh, indera pengecap saya langsung terbayang cappucino sachetan dan membatin enak mana sama itu? Acuan saya cuma kopi semacam itu soalnya. Itu juga kalau boleh dianggap kopi hehe. Hingga sore tadi di acara kopdar komunitas IIDN Makassar, saya memberanikan diri memilih kopi sebagai minuman saya. Gara-gara penasaran karena katanya ada Kopi Enak di Kantor Regus Makassar tempat kopdar kami diadakan.

Sambil berlangsung bincang interaktif plus dishooting sama wartawan dari NET, saya tuanglah itu kopi ke dalam cangkir. Warnanya hitam pekat, pertanda kopi keras ini, menurut saya. Wanginya juga harum, pertanda kopi asli ini --> kalau itu menurut televisi karena katanya kalau dicampur sianida jadi ada bau-bau almondnya gitu. Sebelum balik ke kursi, saya sempatkan ambil satu bungkus gula yang tersedia, just in case saya ga kuat minum kopi pahit.