10.12.16

Gita Cinta Dari SMA : Kisah Cinta Klasik Galih dan Ratna (Review Novel)

Siapa tak kenal Galih dan Ratna? Dua sejoli yang menjadi tokoh utama sebuah novel bertajuk Gita Cinta Dari SMA. Novel legendaris karya Eddy D. Iskandar yang gaungnya sudah tak asing bagi generasi remaja tahun 90-an.

Jujur saja, meski tokoh Galih dan Ratna tak asing bagi saya, tapi cerita sebenarnya tentang mereka berdua baru benar-benar saya pahami sekarang, ketika novel Gita Cinta Dari SMA tersebut dirilis ulang. Secara penampakan novel ini tipis, sangat memungkinkan untuk dilalap dalam waktu sejam saja. Gaya penulisan yang dipakai pun sederhana, namun diksinya cukup kuat.
Sunyi itu kadang-kadang mengerikan.
Sepi itu kadang-kadang melelapkan.
 

Saya menemukan beberapa kosa kata yang cukup membuat tergelitik seperti istilah 'perempuan bau bensin' (halaman 10). Pada masa itu cewek matre sepertinya identik dengan perempuan bensin. Munculnya ungkapan ini seiring dengan tokoh Galih yang adalah seorang anak SMA yang naik sepeda ke sekolahnya. Ketika Ratna minta dibonceng pulang, Galih selalu menolak dengan alasan takut membuat Ratna malu. Nah, disinilah Ratna menyebut bahwa dirinya bukan perempuan bensin. Kalau dibawa ke zaman sekarang perempuan bensin sepertinya akan diupgrade menjadi perempuan pertamax?

6.12.16

Tips Mahir Berenang Secara Otodidak Bagi Pemula

Tips Mahir Berenang Secara Otodidak Bagi Pemula

Berenang adalah salah satu jenis olahraga. Berbeda dengan olahraga yang dilakukan di darat, maka berenang dilakukan di dalam media air. Secara keseluruhan semua anggota badan bergerak di dalam air. All body in the water.

Selain soal medianya, berenang pada dasarnya sama saja dengan olahraga lainnya. Sama dari segi runutan aktivitas, pemanasan - inti - pendinginan. Sama dari segi bahwa kita harus tetap mengutamakan keselamatan, mengingat yang kita sasar adalah untuk tujuan kesehatan. Lain lagi jika tujuannya adalah untuk membina karir, tentu itu adalah pembahasan berbeda.

Beberapa perenang seringkali melupakan kesamaan olahraga air ini dengan olahraga lain. Misalnya saja, gara-gara medianya air, perenang lupa bernapas di sepanjang gerakan. Akibatnya terjadilah ngos-ngosan sepanjang jalan. Bisa dibayangkan jika kita berlari di lintasan sambil menahan napas, seperti itulah sebenarnya analogi berenang tanpa bernapas. Pasti melelahkan. Padahal inti dari olahraga adalah olah gerak dan olah napas. Hanya dengan harmonisasi keduanya, olahraga apapun yang kita lakukan akan memperoleh manfaat maksimal.

Jika ini adalah pertama kali Anda ingin menjajal olahraga renang, secara otodidak, beberapa gerakan dasar berikut ini mungkin bisa membantu. Meski tentu saja, yang paling baik tetaplah mencari pelatih yang profesional.

3.12.16

Jika Tugasmu Hanyalah Menyampaikan Lalu Perubahan Itu Tugas Siapa?

Pernah tidak Anda menyampaikan sesuatu kepada orang lain dengan harapan orang lain itu mau berubah? Katakanlah orang yang Anda sayangi adalah seorang perokok lalu Anda menyampaikan padanya tentang bahaya rokok. Bahwa rokok itu berpotensi menggerogoti kesehatan, menyakiti diri sendiri, mencemari lingkungan dan sebagainya dan sebagainya. Anda berharap, memohon dengan sangat, berlinang air mata, hingga berdarah-darah rasanya hati Anda berharap dia mau mendengarkan dan berubah. Tapi tidak. Tak seinci pun dia mengabulkan. Tetap bergeming dengan pilihannya.

30.11.16

Tombol SAVE pada FACEBOOK, Apa Saja Kegunaannya?

Beberapa waktu belakangan, sebelum ramai orang saling unfollow hingga unfriend bahkan saling block, facebook seolah menjadi media sosial tempat postingan resep ramai sekali dibagikan. Dalam sehari beapa akun bisa nge-share postingan resep yang sama di timeline. Sampai takjub saya dibuatnya. Takjub sama yang bikin postingannya dishare banyak orang maksudnya. Padahal tak jarang kalau kita jeli membaca, beberapa postingan resep yang dibagikan itu asal saja. Bukan sekadar asal dari segi komposisi dan teknik, ada juga yang asal comot sumber aslinya. Yang penting viral. Tapi mendinganlah kalau yang dishare secara viral itu hanyalah resep yang sifatnya hoax (soalnya kadang ada hoax-hoax sensitif misalnya yang menyinggung SARA atau politik, yang, duh, ujungnya bikin musuhan orang-orang yang tidak saling kenal. Bayangin, kenal aja belum eh udah musuhan!). Paling efek hoax-nya hanya berlaku personal kepada si pencoba. Itu pun kalau resep yang dibagikan tersebut dicoba loh ya. Kadang kan ada tuh orang yang gemar membagikan postingan resep tanpa sekali pun mencoba. Saya itu loh maksudnya hahahaaa. Soalnya jujur saja, kadang saya ikut membagikan postingan resep hanya karena gambarnya bagus dan menarik, kenyang lihat gambar saja. *malu*

Nah, belakangan ini tren membagikan postingan resep agaknya mulai mereda. Sebagai gantin

26.11.16

Kopi Enak di Kantor Regus Makassar

Saya bukan pecinta kopi. Cuma suka wanginya saja. Jadi kalau ada yang bilang, eh di suatu tempat kopinya enak loh, indera pengecap saya langsung terbayang cappucino sachetan dan membatin enak mana sama itu? Acuan saya cuma kopi semacam itu soalnya. Itu juga kalau boleh dianggap kopi hehe. Hingga sore tadi di acara kopdar komunitas IIDN Makassar, saya memberanikan diri memilih kopi sebagai minuman saya. Gara-gara penasaran karena katanya ada Kopi Enak di Kantor Regus Makassar tempat kopdar kami diadakan.

Sambil berlangsung bincang interaktif plus dishooting sama wartawan dari NET, saya tuanglah itu kopi ke dalam cangkir. Warnanya hitam pekat, pertanda kopi keras ini, menurut saya. Wanginya juga harum, pertanda kopi asli ini --> kalau itu menurut televisi karena katanya kalau dicampur sianida jadi ada bau-bau almondnya gitu. Sebelum balik ke kursi, saya sempatkan ambil satu bungkus gula yang tersedia, just in case saya ga kuat minum kopi pahit.

27.10.16

Jangan Iri Dengan Hasil Panen Orang Lain, Memangnya Apa yang Sudah Kau Tanam?

Mungkin pernah tebersit di dalam hati, di saat menyaksikan orang lain memperoleh sesuatu, bukannya ikut senang tapi malah sakit rasanya.


Sebagai penulis, ketika melihat penulis lain berbagi rasa syukur akibat karya-karyanya diakui, misalnya. Maka alih-alih iri, tanyakanlah pada diri sendiri, memangnya apa yang sudah kau tulis? Karya apa yang sudah kau usahakan untuk dapat diakui juga? Tidak ada? Ya, jangan iri. Kalau pun ada, ya tetap jangan iri. Semua orang memiliki jalan rezekinya masing-masing. Tidak akan salah alamat. Maka turut berbahagialah. Doakan agar industri bacaan tetap berkesinambungan, sehingga semua penulis akan senantiasa ada lowongan. Karena naskah akan selamanya diperlukan. Jadi para penulis sebaiknya selalu bergandengan tangan, seiring sejalan. Eh, kok jadi berima xixixi.

24.10.16

Indonesia Sang Mutiara Khatulistiwa



Seringkali, ketika membincang mengenai perjuangan mengalahkan rasa sakit dan membungkusnya dengan kesabaran, kita akan menyebut filosofi kerang mutiara. Tidak berlebihan rasanya analogi tersebut, karena pada kenyataannya proses lahirnya sebutir mutiara memang mewakili kerja keras, kegigihan, sampai akhirnya tiba pada hasil akhir yang bukan hanya berharga namun juga indah.



Saya mengenal mutiara pertama kalinya sejak remaja, sekitar tahun 1990-an. Saat itu saya bersama orang tua menetap di  kota Ambon. Ibu saya, akibat dikompori oleh teman-teman dharma wanitanya, ikut-ikutan tertarik menjadi pearl hunter. Menurut cerita beliau, waktu itu ia membeli mutiara langsung ke rumah-rumah penduduk. Jadi dari kabar yang berembus dari mulut ke mulut bahwa di sini dan di sana ada yang jual mutiara, ibu saya bergerilya mencari mutiara yang disukainya.

23.9.16

Oh, Ternyata Tidak Semua Buku Terbit Itu Melalui Proses Penyuntingan?

Saya sebenarnya bukan tipe pembaca buku yang bawel. Menyadari ada sebagian diri saya yang menyandang profesi penulis, uhuk, pemula, saya sangat mengapresiasi rekan seprofesi atas karya-karya yang mereka hasilkan. Selain itu takut kualat juga kalau saya terlalu membaweli tulisan orang lain :D

Pun ketika ada sebuah buku terbit kemudian masih terdapat typo, saya berusaha memaklumi. Kebayang tugas seorang editor, berapa banyak naskah yang harus ia tangani, pasti puyeng. Jadi kalau ada satu atau dua typo, okelah.

Tapi ketika saya membaca karya seorang penulis bernama besar dengan penerbit yang juga besar, melakukan begitu banyak typo di dalam buku terbitnya, saya kok rasanya jadi ingin bawel, ya? Itu kenapa kok bisa gitu? Editornya siapa, masak tidak menyadarinya? Lantas saya membuka halaman identitas buku untuk mencari tahu, dan mendapati fakta yang cukup mencengangkan. Ternyata tidak ada nama editor, penyunting, pemeriksa aksara, atau apa pun istilahnya yang terkait dengan pekerjaan tersebut. Saya kaget. Oh, ternyata tidak semua buku terbit itu melalui proses penyuntingan, ya? Saya baru tahu.

Sebagai penulis yang beberapa kali terlibat dengan proses editorial, saya ya sedikit cemburu kan jadinya ;p. Eh, tapi enggak juga, ding, karena sejauh ini editor saya baik-baik semua dan sangat mendukung naskah saya. Tapi maaf beribu maaf, saya jadi tidak bisa berhenti bertanya-tanya, apakah mungkin karena nama besar makanya tidak perlu lagi melalui proses editing? Atau mungkin proses itu tidak dituliskan di identitas buku saja? Untuk menjawab tanya hati saya sendiri, saya sampai membongkar isi rak buku untuk membacai halaman-halaman identitas buku koleksi saya. Berbagai pengarang, berbagai penerbit.

Dari hasil bongkar-bongkar, saya mendapati bahwa nama sebesar Dee pun karyanya masih melalui proses sunting. Alih-alih puas, saya malah kian penasaran, apakah sebenarnya proses editing itu pilihan yang entah berpulang kepada siapa, penulis atau penerbit? Ya, tidak mengapa sih jika naskahnya tepercaya seratus persen tidak akan ada salahnya. Hanya saja ketika ternyata ada, dan di beberapa bagian cukup fatal, saya pikir ke depannya seharusnya proses penyuntingan ini tidak dilewati, sebesar apa pun nama penulis atau penerbitnya. Demi ketenteraman penikmat buku seperti saya, yang ada satu aja typo suka bikin dahi berkerut. Apalagi salah tokoh, kan bingung jadinya, ini sebenarnya saya lagi baca buku seri ke berapanya? Gitu, hehehe. Ya, penulis juga pasti pernah siwer lah dengan naskahnya sendiri, kan, kan? Toh bahkan JK Rowling pun punya editor.

Eh, iya, kan, JK Rowling punya editor? :D

31.8.16

Janjiku Janji Pelaut

Janjiku janji pelaut. Kalau tidak salah saya dengar kalimat itu di salah satu serial Spongebob, diucapkan oleh mister Crab pas mau ngapain gitu, lupa, hihi. Yang jelas kalimat itu membekas. Meski jujur saja, saya enggak paham ada makna apa di baliknya. Yang pasti biasanya si penulis cerita Spongebob itu risetnya luar biasa. Nyaris semua hal yang dia sebut di filmnya itu ada nyatanya. Kadang saya geli sendiri ketika menemukannya. Contoh, duh apa ya? Lupa juga! Hahaha payah nih memori! Pas pengen nulis malah pas ga inget :p

Janjiku janji pelaut. Kamu kepikiran tidak apa makna kalimat tersebut? Kenapa janji dilekatkan kepada profesi pelaut? Saya awalnya tidak pernah kepikiran, hingga saya berteman dengan beberapa kawan yang suaminya pelaut. Saya sering merenungi kehidupan mereka, hubungan jarak jauh mereka. Aneh juga sih, mereka yang menjalani kenapa saya yang merenungi, sibukku deh! :v Tapi seriusan, kadang tidak perlu kita yang mengalami, pelajaran hidup boleh datang dari hasil renungan, kan? *uhuk*

Mbuh, yang kepikiran kok malah gambar ini ;p
Ambil gambar dari dailymail.co.uk

Kalau kamu punya pasangan seorang pelaut, maka sudah pasti hubungan kalian akan menjadi sebuah LDR, long distance relationship. Ya habis bagaimana, namanya pelaut kerjaannya ya di laut, mengarungi samudera tanpa ada kemungkinan bisa memboyong anak istri tinggal bersama. Ya, masak tinggal di kapal, kan? Hehehe. Jadi tidak ada pilihan selain LDR. Dan dari dengar-dengar cerita, LDR pelaut tidak sama dengan LDR yang lain, dalam arti keterbatasan komunikasi kadang menjadi salah satu menu yang harus dinikmati. Paham kan maksud saya? Enggak? Hadeeeh! :D

Begini, untuk LDR selain pelaut, kamu bisa tiap hari mengontak kekasih hatimu. Mau whatsapp, bbm, atau lainnya, itu memungkinkan. Tapi di lautan, hal itu tidak bisa karena sepertinya samudera memiliki blankspot di mana-mana. Bisa saja berhari-hari keluarga di darat harus putus komunikasi dengan sang pelaut. Yep, putus kontak berhari-hari! Wih, hebat ya yang sanggup menjalaninya?

Nah, kembali ke janjiku janji pelaut, di situlah saya merasa menemukan jawaban akan makna kalimat tersebut. Sekali seorang pelaut berjanji maka pasangan pelaut harus memiliki hati yang lapang seluas samudera untuk memegangnya. Untuk tidak berpikir yang bukan-bukan. Untuk saling menjaga. Saling setia. Bayangkan! Ketika berhari-hari tidak ada kontak seperti itu, kalau kamu, bisakah kira-kira tetap berpikir waras? Untuk terus percaya, percaya, dan percaya. Karena pada kenyataannya seorang pelaut biasanya akan selalu tahu jalan pulang, ke mana mereka harus kembali berlabuh. Janjiku janji pelaut.


30.8.16

Uang Panai', berapa sih standarnya?

Berbicara soal uang panai' sebagai sebuah adat, saya tidak berani, nda cukup referensi ta' kodong! Jadi yang akan saya tulis ini lebih ke soal filmnya saja, ya? Dan kalau ada sedikit komentar itu sekadar opini saja.

Masih lanjut membahas Uang Panai', film, yang sebelumnya saya tulis liputannya di sini, kali ini saya ingin merenungi cetusan kawan saya selepas kami menonton. Jangan sampe nanti uang panai'nya Risna dijadikan acuan, kurang lebih begitu kata teman saya. Wah, iya juga ya! Nanti yang nonton pada terinspirasi gimana, dong? Atau jangan-jangan justru sebaliknya? Maksud saya, bukan tak mungkin justru the movie makerlah yang menjadikan fakta lapangan sebagai referensi besaran uang panai' yang berlaku umum di masyarakat. Atau boleh jadi keduanya sama sekali tak berhubungan. Bisa saja yang disebut di film pure hanyalah fiktif.

Keluarga Risna menyebut angka 200 juta rupiah sebagai syarat Uang Panai'. Setelah melalui proses nego (nonton deh, seru!), akhirnya disepakati di angka 120 juta rupiah. Kalau kata Tumming dan Abu ketika menyebutkan kriteria; gadis sarjana, bekerja, haji pula, maaaatemija!

Poster ambil dari movie.co.id

Salut untuk anak muda seperti Ancha. Ia berusaha mengumpulkan Uang Panai'nya sendiri, tidak merengek pada ibu bapak. Dan seharusnya memang Uang Panai' itu seperti itu kan, ya, filosofinya? Hasil kerja keras calon pengantin sebagai isyarat keseriusannya melamar anak orang?

Kembali ke film, sebesar 120 juta rupiah itulah yang akan diperjuangkan Ancha demi Risna. Soal mau dijadikan acuan atau tidak, ya saya pikir itu pada akhirnya kembali kepada setiap masing-masing orang. Adat itu baik adanya, dimaksudkan untuk melindungi kaum perempuan, mencegah para pria untuk tidak main-main ketika berniat mengarungi bahtera pernikahan. Ketika agama justru memberi kemudahan dalam urusan pernikahan, kadang beberapa oknum malah memanfaatkannya dalam arti negatif. Bosan - ganti, ga suka - tinggalkan. Nah, kemungkinan disitulah adat mengambil perannya.

Dan uang panai' ini konon cukup efektif juga menjadi sarana penolakan secara halus ketika keluarga wanita tak berkenan terhadap sang calon. Sebutkan saja angka yang tinggi dan tak masuk akal, kelar hidup lo, man! :p

28.8.16

Uang Panai', Seasyik Nonton Upin Ipin?

Saya tadinya tidak berencana nonton film yang sejak beberapa bulan terakhir promosinya gencar hadir di beberapa lini masa media sosial saya ini. Saya pikir Uang Panai' itu masalahnya anak muda, film Indonesia, dan buat emak-emak rempong kayak saya urusan pergi ke bioskop itu tak semudah membalik jemuran basah haha. Mohon maaf, bukan kenapa-kenapa saya nyaris tidak pernah nonton film Indonesia yang tayang di bioskop. Beberapa alasannya adalah, pada dasarnya saya memang jarang nonton apalagi ke bioskop. Kalau sampai saya ke bioskop berarti pasti ada sesuatu. Kalau bukan ditraktir diajak, berarti ada film yang benar-benar menarik perhatian. Itu saja.

Tapi sore itu seorang sahabat mengabarkan bahwa dirinya lagi di Makassar dan ngajak ketemuan, so spontan saya cetuskan soal nonton Uang Panai' ini. Si dia oke, maka jadilah kami meluncur ke salah satu studio XXI pagi itu. Saya bilang sama sobatku ini, kita datangnya cepat saja soalnya konon antrian panjaaaaang. Dan ternyata bukan konon tetapi memang begitulah adanya. Bahkan pintu studio belum buka pun para calon penonton sudah membludak. Kami berdua jadinya geli sendiri, sadar umur di antara mereka para pemuda calon pelaku Uang Panai' dan segala problematikanya :D :D
Hayooo, ada pembagian uang panai' gratiskah?

Sebelum film dimulai saya bertanya-tanya ini kira-kira ceritanya akan seklise apa ya? Uang Panai', masalah apa sih yang akan timbul selain mahal dan bikin susah calon mempelai prianya? Lalu soal bahasa, kira-kira film ini akan disajikan dalam bahasa apa ya? Duh, kalau banyak istilah Bugis Makassar, matemija nda da kutau itu!

Hinggaa akhirnya setelah si Dolby berbisik "All around you" dan tayangan dimulai, suprise..... dialognya ternyata dalam bahasa sehari-hari Makassar dan lengkap dengan subtitle bahasa Indonesia! Wohoooo, hatiku tercuri dah! Gila, berani juga ini film! Buat saya yang sudah puluhan tahun berdomisili di Makassar tentu saja film ini jadinya sangat akrab. Seperti menonton kehidupan sehari-hari di kota Daeng ini. Dan asyiknya lagi para pemerannya benar-benar natural aktingnya, dialognya, lucu-lucuannya. Saya jadi penasaran seandainya kalian yang tidak pernah bersentuhan dengan budaya Makassar sebelumnya kemudian nonton film ini kira-kira komentar kalian akan seperti apa ya?

Soalnya saya langsung teringat sama ikon fenomenal Upin Ipin itu lho! Film yang latar budayanya, bahasanya, sama sekali asing buat saya tapi saya suka sekali nontonnya. Dan saking nyandunya nonton Upin Ipin --astaga inget umur woy!-- saya jadi merasa ikut pandai logat Malaysie pun. Nah, saya penasaran apakah Uang Panai ini bisa mendapat tempat seistimewa Upin Ipin di hati masyarakat Indonesia? Coba dooong, temen-temen di luar Makassar nonton dan testimoni :D

Kalau dari segi cerita, saya akui saja yah bahwa ceritanya sih klise, kisah cinta antara Ancha dan Risna, di mana keluarga Risna menetapkan nominal Uang Panai' yang cukup fantastis. Pontang-pantinglah Ancha berusaha untuk memenuhinya. Masih lebih heboh kisah nyata Risna yang batal nikah gara-gara uang panai lalu datang ke nikahan mantannya dan memeluknya itu loh hihi. Tapi cara menyuguhkannya yang kreatif, sudut pandang kamera yang unik, menjadikan film ini jadi sangat menarik. Apalagi dengan kehadiran Tumming dan Abu, wah mereka ini layak dapat award kalau menurut saya. Rasa-rasanya film Uang Panai' bisa-bisa hambar tanpa mereka!

Jadi, bagaimana teman-teman, tolong bantu jawab penasaran saya, apakah benar penilaian saya bahwa Uang Panai' ini seasyik serial Upin Ipin?

28.6.15

Kakak-Adik, Forever Love

Sore itu saya tengah bergegas berjalan menyusuri trotoar di sebuah kompleks perumahan di daerah Sukabumi. Ada janji buka puasa bersama seorang sahabat yang hendak saya hadiri. Di tengah perjalanan, dari jarak kurang lebih tiga meter saya dikejutkan oleh suara tangisan yang cukup keras. Rupanya seorang anak kecil yang sedari tadi setengah berlari membuntuti ibunya, terjatuh. Si anak kecil berbaring tengkurap di tepi jalan. Saya masih terus berjalan ketika mendengar sang ibu, alih-alih membantu si anak berdiri malah marah-marah. Kata-kata seperti, makanya tadi sudah dibilangin jangan ikut, kurang lebih seperti itu omelannya. Dari jauh mata saya sempat bertemu dengan matanya selama satu detik. Tatapan kaget saya beradu dengan tatapan emosinya. Lalu detik berikutnya sang ibu itu berbalik dan meninggalkan si anak yang masih terus menangis.

Oh my... saya jadi bengong. Bu, kau bercanda, kan? Anakmu jatuh, menangis, sekesal apa pun dirimu tapi masak kau tinggal sih? Itu kalimat dalam batin saya saja, lho. Saya tidak memiliki cukup keberanian untuk berlari menuju mereka dan ikut campur. Belum habis keterkejutan saya, dari jarak sekitar tiga rumah, seorang gadis cilik berlari menyongsong si anak lelaki yang terjatuh tadi. Serta merta si gadis cilik memeluk lalu tampak mengucapkan kata-kata hiburan untuk menenangkan. Kemudian ia dengan sedikit susah payah membopong si anak lelaki yang dugaan kuat saya adalah adiknya itu, sembari tak lupa satu tangannya membawa sendal sang adik.

Mari abaikan sikap sang ibu yang mungkin saat itu tengah diburu waktu akibat tugasnya menyiapkan makanan belum selesai, atau mungkin dia tengah punya persoalan lain, atau mungkin dia hanya lelah...

Abaikan juga sikap saya yang hanya bisa tercekat dari kejauhan...

Saya terharu dengan sikap sang kakak. How sweet,loving, and caring she is. Lantas saya teringat kepada dua bocah saya di rumah. 

Salah satu yang sangat ingin saya tanamkan kepada anak-anak saya adalah rasa saling menyayangi, saling peduli, saling empati di antara mereka. Kini, nanti, selamanya. Betapa kuat keinginan saya agar keduanya selamanya akan selalu saling menjaga, di manapun mereka kelak, Jangan sampai, naudzubillahi min dzalik, mereka saling melupakan, saling berebutan, atau hal lain yang tak patut. Apalagi hubungan kakak-adik, ketika mencapai usia dewasa, ketika pertumbuhan fisik mencapai batas maksimal, sepertinya umur bukan lagi menjadi acuan, ya? 

Belum lagi faktor kehidupan, kita tak pernah tahu takdir siapa akan bagaimana? Siapa yang akan lebih dulu dititipi kesuksesan, misalnya. Sungguh besar harapan saya bahwa mereka akan selamanya saling mendukung demi kebaikan bersama.

Yah, begitulah :)

Bagaimana dengan hubungan teman-teman blogger bersama kakak/adiknya? Kalau berkenan sharing dong...

26.6.15

Tersapu Gelombang Sampai Lupa Ngeblog

Kata sebuah komentar di blogpost terakhir saya, tersapu gelombang sampai lupa ngeblog, itu sungguh menghunjam hati, hahaha. Apalagi tanpa disangka yang ngomong adalah Mas Rawins. Fakta bahwa beliau mengingat blog saya itu sangat sesuatu. Jadinya ya begini, jadi malu sama blog saya ini yang penuh debu, bulu ayam mana bulu ayam...

Saya mungkin sedang mengalami yang namanya staknasi dalam tulis menulis. Menulis apa saja, bahkan termasuk status di media sosial. Yang masih kadang update paling status bbm, ada yang butuh pin? :p Enggak tahu kenapa... Ya benar sih kata Mas Rawins tadi, tersapu gelombang sampai lupa ngeblog. Tersapu gelombang sampai hasrat nulis karam kembali ke dasar palung yang terdalam sehingga tak seorang pun yang bisa menarikku kembali. L e b a y  hihi.

Yeah, semoga dua paragraf kacau balau ini menjadi pembuka bagiku kembali ke dunia perblog-an. Mungkin besok-besok kalau saya ngeblog, saya udah nggak akan terlalu memikirkan tampilan dan segala pernak-pernik apalah-apalahnya dulu yang cukup menyita waktu. Yang penting hidup dululah ini blog.

Sekali lagi terima kasih kepada Mas Rawins atas 'tersapu gelombang sampai lupa ngeblog'nya :D


31.3.15

(Supernova) Gelombang : Sebuah Review

(Supernova) Gelombang : Sebuah Review

Sejujurnya saya belum pernah membaca satu pun novel dari serial Supernova karya Dee Lestari. Saya sempat ragu, akankah saya sanggup mencerna Gelombang? Namun demi agar bisa terpilih ikut Dee's Coaching Clinic, nekatlah saya memboyong Gelombang pulang. Mulanya saya lumayan terpana dan rasa ragu kembali datang ketika membuka lembaran daftar isi. Bayangkan, untuk novel setebal  400an halaman, sub judul hanya ada dua! Keping 43 dan Keping 44. Apa pula itu? Apa yang terjadi di dalam keping 1 - 42? Meringis saya. Tapi apa mau dikata, saya pasrah saja :D

Membaca keping 43, yang ternyata hanya beberapa lembar saja, sungguh saya semakin cemas. Meski saya langsung terpikat dengan cara bertutur Dee (seperti halnya ketika saya membaca Madre) tapi tetap saja saya bingung, siapakah gerangan tokoh-tokoh ini? Kenapa ringkas sekali keping 43 ini? Paniiikkk rasanya.... Kemudian memasuki keping 44, dari setting Amerika Selatan dalam keping sebelumnya, mendadak beralih ke Sianjur Mula-mula. Lalu tokoh-tokohnya tidak ada satu pun yang disebut dalam keping sebelumnya. Baiklah. Sepertinya petualangan baru akan dimulai.

Adalah seorang anak lelaki bernama Thomas Alfa Edison, dari marga Sagala, dengan huruf f bukan v, yang menjadi tokoh istimewa dalam cerita ini. Menginjak umur  12 tahun, bocah ini menjadi seorang yang terpilih untuk disinggahi roh leluhur dalam sebuah ritual adat Batak. Atas sebab itu Alfa diperebutkan oleh dua petinggi adat untuk dijadikan murid. Sebagai seorang bocah, sungguh merepotkan baginya yang tiba-tiba saja harus berurusan dengan para tetua adat. Salah satunya adalah jadwal bermainnya menjadi terganggu karena ia jadi sering dipanggil oleh para guru spiritualnya itu. Terlebih lagi, sejak malam itu Alfa menjadi sering dihantui mimpi buruk. Mimpi yang selalu sama, hingga akhirnya mengubah Alfa menjadi seorang insomnia. Ia sengaja menjauhi tidur demi menghindari mimpi. Perebutan status murid atas dirinya pada suatu titik akhirnya berpuncak pada sebuah tragedi percobaan pembunuhan. Salah satu calon gurunya berniat melenyapkan Alfa dengan menenggelamkan dirinya ke danau!

Alih-alih menjadi gangguan, Alfa Sagala justru menjadikan insomnia menjadi sebuah potensi positif. Memiliki jumlah waktu bangun yang lebih banyak ketimbang orang kebanyakan, ia justru mengisinya dengan belajar lebih banyak hal, membaca lebih banyak ilmu pengetahuan. Hasilnya tingkat intelegensi Alfa menjadi di atas rata-rata. Hal ini sangat berguna ketika dengan modal nyaris 100% nekat ia ikut seorang kerabat jauh merantau ke Amerika. Seorang anak remaja tamatan SMP mengarungi hampir separuh bola bumi, mengadu peruntungan di negeri orang dengan predikat sebagai pendatang ilegal. Sungguh sebuah mimpi buruk sempurna yang nyata.

Meski raganya telah jauh dari tanah tempat kelahirannya, namun mimpi-mimpi Alfa yang telah menghantuinya sejak berumur 12 tahun rupanya masih tetap mengikutinya. Mimpi buruk yang biasanya terjadi jika Alfa sampai tertidur lebih dari satu jam. Mimpi buruk yang selalu berakhir dengan dirinya nyaris mati kehabisan oksigen akibat tanpa sadar dirinya sendiri menutup erat wajahnya dengan bantal.

Mencerna Gelombang, seolah kita tengah menyantap sepiring hidangan lezat. Gaya bertutur yang memikat khas Dee, kedetilan, dan kaya referensi. Setting serta latar kebudayaan Batak, yang banyak digambarkan di awal cerita, benar-benar terasa feel-nya. Selain karena ada darah Batak yang mengalir dalam diri penulis, riset langsung rupanya benar-benar membuat penggambarannya akan tanah leluhur ini menjadi begitu dalam. Demikian pula ketika menggambarkan setting-setting lain, deskripsi penulis benar-benar hidup. Salah satunya adalah gambaran kehidupan Alfa  yang tinggal di apartemen tua di Hoboken yang menjadi sarang gangster dari aneka negara, menggelitik untuk dibaca.

Selain setting, karakter tokoh juga menjadi kekuatan novel ini. Alfa Sagala dengan ketakutannya akan mimpi buruk, sehingga memilih untuk terjaga di sebagian besar waktu hidupnya. Yang dengannya hal ini justru menjadikan Alfa sebagai seorang yang jenius. Cukup jenius hingga ia berhasil memperoleh beasiswa penuh dari beberapa universitas di Amerika. Lalu orang-orang di sekeliling Alfa, mulai dari Bapak dan Mamaknya juga saudara-saudaranya di tanah air, hingga sahabat-sahabatnya di Amerika hingga ke Tibet. Semua memiliki peran yang khas untuk mendukung eksistensi Alfa sebagai tokoh sentral.

Jika boleh mengajukan keberatan atas novel ini, mungkin hanya soal porsi percakapan dalam bahasa Inggris yang cukup banyak saja yang kadang membuat saya berpikir, mengingat kosakata. Kalau soal adegan dewasa, apa mau dikata novel ini peruntukannya memang untuk orang dewasa (yang oleh karenanya saya terpaksa melarang putri saya untuk membacanya).

Dan, ya, sebagai novel serial yang saya baca lepasan, maksud saya membacanya tanpa tahu cerita serial sebelum-sebelumnya, rupanya tidak masalah. Seperti halnya yang dilakukan oleh seorang Alfa Sagala, novel ini adalah tentang pencarian, tentang menemukan.

(Supernova) Gelombang : Sebuah Review ini ditulis untuk diikutkan sebagai syarat  Dee’s Coaching Clinic, wish me luck!

20.12.14

REVIEW : Rengganis Altitude 3088


Judul buku : Rengganis Altitude 3088
Pengarang : Azzura Dayana
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Jumlah halaman : 232 halaman
Tahun terbit : Agustus 2014

ISBN : 978-602-1614-26-6








Dewo dan para sahabatnya bertemu untuk melakukan pendakian ke puncak Argopuro. Persiapan yang boleh dikatakan sempurna telah dilakukan untuk menaklukan misi tersebut. Terlebih lagi Dewo dan sebagian besar dari rombongan ini bukanlah pendaki pemula. Mereka telah terbiasa melakukan pendakian di gunung lain sebelumnya. Melakukan pendakian untuk menaklukkan puncak tidak hanya memerlukan kesiapan fisik yang prima. Kesiapan mental pun menjadi sebuah keharusan. Ego. Menaklukkan ego, menaklukkan puncak. 

Dalam perjalanannya, mulai tampak ketegangan yang halus di antara Dewo sang leader dengan Rafly salah satu anggota tim. Apalagi ketika sepanjang perjalanan mereka banyak membahas mengenai sebuah legenda yang lekat dengan puncak Argopuro. Kisah tentang Dewi Rengganis yang dahulu konon diasingkan ke puncak dan kemudian menghilang tanpa kabar berita. Berkaitan dengan legenda tersebut banyak pula kisah mengenai para pendaki yang juga turut menghilang seperti halnya sang dewi. Rafly, dengan semua egonya, pada satu kesempatan justru seolah menantang alam dengan menyatakan keinginannya untuk dipertemukan dengan Dewi Rengganis. Hingga pada suatu malam ketika rombongan itu berkemah di Taman Hidup, Rafly benar-benar lenyap tak berjejak! 

Azzura Dayana, dengan sangat apik mengisahkan perjalanan delapan sahabat mendaki Argopuro. Deskripsi mengenai jalur-jalur pendakiannya sungguh memikat. Membuat pembaca seolah melihat, merasakan, dan turut serta melakukan pendakian. Demikian pula dengan segala ketegangan yang mengiringi jejak langkah para pendaki itu. Penulis berhasil membuat pembaca turut tercekam ketegangannya. Alur maju yang sangat smooth, pemilihan diksi yang manis, dan ending yang memuaskan seluruh rasa penasaran pembaca, menjadikan novel ini layak menyandang predikat : direkomendasikan.

17.1.14

Online Shopping, Kenapa Tidak?

Pernah sekali waktu saya kepingiiiiin banget jalan-jalan untuk sekadar cuci mata ke mall. Istilah canggihnya, window shopping gitu. Cuma karena malas ke luar rumah, irit bensin hohoho, dan nggak ada yang mau nemenin jadinya batal. Tapi nggak hilang akal, demi memenuhi keinginan tersebut, saya bukalah internet dan browsing bermacam-macam online shop sejagat raya maya. Widiiihh, ternyata sama saja seperti di dunia nyata, jalan-jalan di online shop juga butuh waktu banyak. Gimana enggak, satu situs saja isinya banyak. Lengkap, semua ada. Contohnya saja, salah satu pusat belanja fashion online, Zalora ^__^

Tapi tentu saja, ada beda ; kelebihan juga kekurangan ketika kita belanja secara online dan offline. Di tulisan kali ini, saya bahas soal kelebihan online shop yang nggak akan pernah saya dapat 100% dari offline shop ya.

  • Belanja online dijamin nggak akan disuruh titip tas

Saya punya pengalaman, beberapa kali ketika hendak masuk ke sebuah toko, suka disuruh titip tas oleh satpam. Jujur saja, permintaan seperti itu sangat menyakiti perasaan saya, lho. Emang tampang saya tampang kriminil apa gimana? Apalagi kalau memperhatikan para pengunjung lain bebas-bebas saja melenggang membawa tas-tas mereka, yang bahkan seringkali jauh lebih besar ketimbang milik saya. Sebagai informasi, untuk bepergian saya lebih suka memilih tas kecil, biasanya selempang atau model ransel, yang cuma muat dompet, kantong hape, sama kamera saku. Nah, tas imut saya disuruh titip? Hmmmm, mendingan saya nggak jadi masuk toko deh kalau kayak gitu!
  • Belanja online dijamin nggak akan ketemu wajah pramuniaga jutek

Pernah nggak ketemu sama penjaga toko yang senyum aja nggak pernah? Rasanya pasti nyebelin, kan? Kita datang ke toko ceritanya ingin mengeluarkan isi dompet, eh malah dijutekin, bisa-bisa batal transaksi deh! Memang iya, sih, kadang kita masuk ke sebuah toko paling hanya lihat-lihat saja, alias window shopping, tapi emang itu dilarang? Nggak kan? Mana tahu ujug-ujug kita menjadi amat sangat tertarik dengan sebuah barang, sehingga yang tadinya nggak niat belanja malahan jadi borong? Kalau keburu dijutekin terus nggak jadi belanja, yang rugi siapa coba? J
  • Belanja online nggak perlu merasa nggak enak karena mengacak-acak display barang

Sudah menjadi tabiat saya, kalau hendak beli barang pasti maunya barang yang baru. Maksud saya, misalnya baju merk A ukuran Z sudah fit saya coba, dan hendak saya beli, pasti saya akan meminta baju tersebut tapi yang kondisinya masih terlipat, masih baru, bukan barang display. Nah, untuk tujuan ini tak jarang kita harus dong mengacak-acak tumpukan yang terlipat rapi. Apalagi kalau barang yang kita mau keselip di bagian paling bawah. Mending kalau sang pramuniaga memiliki jiwa csr tinggi, kalau emosi jiwanya yang tinggi? Hmmmm hihihi.
  • Belanja online nggak perlu keder sama harga barang

Salah satu prinsip belanja yang harus selalu saya pegang teguh adalah jangan sampai besar pasak daripada tiang. Makanya kalau di offline shop, nggak pernah saya berani masuk ke toko-toko yang jualannya seperti pepatah tadi. Sepatu harganya 7 digit rupiah, tas harganya 8 digit rupiah. Weeew! Sekedar masuk buat lihat-lihat aja nggak berani :D
 
Pierre Cardin Hand Bag
IDR 2,700,000
sumber gambar : zalora.co.id


Nah, jelas kan jadinya beberapa kelebihan online shop dibanding offline shop. Apakah kawan sepakat denganku? Well, selamat berbelanjaaaa ^_^

14.1.14

Kuis Family 100

Kuis Family 100 selalu menjadi tontonan kuis favorit saya. Dulu dan kini. Dulu terutama, waktu zamannya saya masih kuliah. Entahlah, kok saya seneng banget sama kuis yang satu ini sih ya. Apalagi kalau nontonnya bareng keluarga. Terus ikut nebak-nebak hasil survey yang dipertanyakan. Sok tau gitu deh. Serrruuu sekali! :D


Nah, belakangan ini saya baru tahu kalau Kuis Family 100 ini tayang lagi di televisi, dengan embel-embel ‘new’. Tapi meski begitu format acaranya masih sama persis. Dengan niat nostalgia dan keyakinan penuh bahwa acara kuis ini ramah-anak, saya ajaklah anak-anak saya nonton. Sedikit surprised, eh host-nya om Tukul Arwana. Jujur saja, feeling saya jadi nggak enak tuh. Mana udah gembar-gembor sama anak-anak bahwa ini kuisnya seru lho, tontonan favorit umi dulu. Pas tau hostnya om Tukul langsung getir rasanya. Maaf, Om, tapi dirimu identik dengan lawakan yang bukan selera saya soalnya =_=

Tapiiii, berbekal prasangka positif, akhirnya saya teruskan nonton kuis itu. Terus? Yah begitulah, persis seperti yang saya khawatirkan. Humor-humor a la Tukul banyak menghiasi tayangan kuis bergenre keluarga ini. Humor-humor yang terkadang belum layak didengar oleh anak-anak SD karena terlalu ‘dewasa’ hiks. Tidak cukup hanya itu, saya menilai beberapa pertanyaan yang disurvey kok kadang agak aneh sih ya, nggak kayak dulu. Masak saya pernah mendapat satu episode dengan pertanyaan, aktivitas apa yang menggunakan pakaian minim? Maksudnyaaah??!! Bayangin aja jawaban-jawaban yang muncul plus guyon-guyonnya, haduh haduh….

Ada satu lagi episode di mana om Tukul menyanyikan lagu ‘Burung Kakatua’ di mana baris terakhir lagu tersebut beliau ubah. Lalu para penonton di latar belakang tertawa dengan keras. Itu sungguh terlalu menurut saya untuk sebuah kuis yang peruntukannya bagi keluarga ini. Plis deh!
 
Kuis Family 100 dan Sony Tulung
(sumber gambar : google)

Eh, Darius pernah jadi host-nya juga ding hehe
(sumber gambar : idem)

Jadi kangen ketika Sony Tulung membawakan Kuis Family 100 ini. Padahal kala itu ratingnya juga selalu bagus kan, ya, meskipun dibawakan dengan sangat sopan dan elegan begitu? Bahkan Family 100 ini termasuk kuis dengan episode terbanyak dalam sejarah televisi Indonesia.

Hmmmm, semoga ke depannya Kuis Family 100 ini lebih ramah-anak deh supaya saya nggak kuatir lagi ketika anak-anak saya nonton. Jarang lho, anak-anak saya nonton acara tivi selain Upin-Ipin, JimJam, atau Disney Junior ^___^


Ayo dukung tontonan sehat bagi anak Indonesia :v

Jalan-jalan di Jalan Braga

Sekian lama pernah tinggal dan selalu terhubung dengan kota Bandung, tidak berarti membuat saya pernah menginjakkan kaki di jalan Braga. Buktinya setelah 8 tahun menghabiskan masa kecil di kota yang dulu berslogan 'Berhiber' ini, dan ketika dewasa bolak-balik ke sana kalau liburan, baru awal tahun ini saya lewat di jalan Braga! Akhirnya.... saya jalan-jalan di jalan Braga hahaha.

Eh, memangnya ada apa sih di jalan Braga sampai dia jadi jalan yang menarik untuk dikunjungi di Bandung? (Padahal perasaan lebih menarik jalan Riau deh dengan segambreng FO-nya, eh! :D)

Ternyata, kejadulan jalan Braga-lah yang membuat jalan ini menarik untuk dilewati. Seperti yang kami lakukan hari itu. Mobil kami parkir di ujung jalan masuk jalan Braga ini. Setelah mobil diparkir sempurna, seorang petugas berbaju oranye membimbing adik saya menggunakan mesin parkir otomatis. Mesin parkir tersebut digagas oleh pak wali Ridwan Kamil, yang pertama kali diterapkan di jalan Braga ini sebagai percontohan. Sukses ya, Pak dengan programnya! :)
Ituuuu yang nyempil di pojok tuuuh mesin parkirnya hehehe

Beres urusan parkir, kami pun segera beranjak menyusuri sepanjang jalan Braga. Konon, narsis-narsisan di jalan Braga bukan sesuatu yang terlarang. Tinggal berdiri lalu jeprat-jepret di trotoar jalanan satu arah ini, sok mangga. Atau mau foto-foto sama tembok bangunan yang ada di sepanjang jalan, silakaaan. Bahkan, mau foto bareng batuan penyusun jalanan yang tampak unik, kotak-kotak, yang katanya masih asli dari (zaman?) Belanda itu, boleh bangeeeet. Soooo... mari fotoooo hahaha.


Well, harus saya akui, keindahan masa lalu masih terasa di sepanjang jalan Braga. Ketika pandangan mata kusapukan di sepanjang jalan, saya bisa mendeteksi kekunoan di mana-mana. Bangunan-bangunan jadul, dinding bata, jendela dan lorong-lorong tua, namun sayangnya kebayakan kusam, berdebu, dan ehm, bau pesing menyeruak di sana-sini. Hweeeek! Sorry to say....

bangunan jadoel


Salah satu spot yang pesingnya minta ampuuun!
jadi fotonya sambil nahan napas nih qiqiqi :v

Tapiiiii terlepas dari beberapa hal yang masih patut disayangkan itu, saya yakin di masa depan, jalan-jalan di jalan Braga akan menjadi kian nyaman. Yakinlah ya, pak wali yang sekarang kan arsitek, bukan? Pasti semakin dipoleslah itu jalan Braga, setidaknya no more bau pesing deh hihihi :v

25.12.13

Hujan, Banjir, dan Macet di Makassar

Saya pikir saya tidak akan lagi menuliskan soal ini sebagai reportase di blog saya. Tapi rupanya saya salah. Saya masih tetap harus menulis juga soal ini. Seperti ritual tahunan ternyata. Sayangnya, bukan sesuatu yang membanggakan, sorry to say. Padahal dengan saya menulis soal ini setahun lalu, saya sungguh berpikir baik bahwa akan ada perubahan tahun depan. Perubahan signifikan yang jaauuuuh lebih baik. Well, saya salah.

Eh, ini soal apa sih sebenernya? Hihihi…

14.12.13

Sepatu Baru Merani si Gurita Merah (Cerita Anak)

Sepatu Baru Merani si Gurita Merah

Di halaman rumah, Merani si gurita merah sedang merasa gundah. Sebentar lagi festival Bunga Karang akan berlangsung. Ia ingin sekali memiliki sepatu baru untuk menghadiri festival itu.
“Coba lihat empat pasang sepatuku ini!” ujarnya sendu kepada Lili si ikan pari manta sahabatnya. Ia mengangkat semua sepatunya ke hadapan Lili. Merani memiliki delapan buah alat gerak sehingga ia harus mengenakan empat pasang sepatu.
“Sepasang berlubang bagian depannya.” Merani menatap dua buah sepatunya yang bolong.
“Sepasang lagi talinya putus,” Merani mengangkat tali sepatunya.
“Yang dua ini warnanya pudar. Sepasang yang lain solnya mangap,” ujarnya sedih.