21.10.13

Kinanthi Terlahir Kembali (Tasaro GK), Apa Bagusnya?

Judul : Kinanthi Terlahir Kembali
Penulis : Tasaro GK
Penerbit : Bentang Pustaka
Penyunting : Dhewiberta
ISBN : 978-602-8811-90-3

Tentu saja itu bagus, Tasaro GK yang nulis wooii! Kalo buku ini diibaratkan tembok rumah, lapisan plester aci yang menutupi permukaannya halus banget, jadinya temboknya mulus, enak dielus. Kinanthi ini, terserah dia mau disebut terlahir kembali atau apa, adalah novel kedua karya Tasaro yang saya baca setelah Rindu Purnama. Entah menurutmu, tapi menurutku ada semacam kesamaan pola antara kedua novel itu. Keduanya sama berintikan kisah seorang perempuan yang berusaha menemukan kembali cintanya. Ada latar Jawa yang juga sama kental, dan nama tokoh utama lelakinya yang berakhiran 'j' ... Ajuj... Gaj Ahmada. Hehehe.

Membaca bab pertama Kinanthi, sebenernya saya ragu apa bisa menamatkan novel itu atau  tidak. Maksudku, ya ampun, halamannya 500an! Belum lagi saya cukup terganggu dengan pengisahan kedua tokoh utama ketika berumur 11-12 tahun, kelas 6 SD, namun digambarkan telah begitu dekat. Ke mana-mana berdua, saling melindungi, saling mencari, berkorban. Entahlah, mungkin lumrah saja ya, karena konteks kejadiannya di kampung di daerah Jawa di mana pernikahan belia adalah hal biasa? Entahlah... yang pasti apapun alasannya saya tetep kurang suka dengan penggambaran kedua tokoh di masa kecilnya itu. Saya masih lebih suka dengan Nono-nya eyang Djokolelono, Ikal-nya Andrea Hirata, atau bahkan Rindu-nya Tasaro GK sendiri!

Kemudian persoalan pemakaian bahasa Jawa yang sangat banyak di bab pembuka itu. Aduh.. bukan ngga suka atau ngga bagus… tapii… ah, mbuhlah ;p

Tapi harus saya akui, semua itu berhasil membangun kesan kuat dari tokoh-tokohnya. Siapa Kinanthi, siapa Ajuj, siapa orangtua mereka dan tokoh-tokoh lain yang terlibat di dalamnya. Demikian juga tentang latar tempat dan budaya. (Bocoran sedikit, di awal-awal, ada sekilaaaas banget cerita perselingkuhan antara Sumikem yang mulutnya ga bisa mingkem dengan seorang lelaki misterius. Entah kenapa saya sudah bisa menebak dengan siapa Sumikem selingkuh, lho, hehehe. Dan di akhir cerita terbuktilah tebakan saya itu benar wahahaha! *tepuktangansendiri

Meskipun begitu, nyatanya saya tidak berhenti baca. Kenapa ya? Pertama, mungkin karena ini Tasaro, sang juru dongeng, jadi seneng aja baca dongengannya.  Kedua pengin membuktikan, Kinanthi, katanya sih bagus. Ketiga, karena saya pembaca yang (sedang belajar jadi) penulis, jadi pengin sekaligus belajar biar bisa berkarya selicin beliau itu.

Oke lanjut!
Beruntung Kinanthi ini, oleh Tasaro, dia dinisbati intelegensi tinggi. Pas tamat SD, NEM nya paling cemerlang, wow! Lalu secara dramatis, kebersamaan Kinanthi - Ajuj dikisahkan berakhir sampai di penghujung sekolah dasar ini. Kenapa? Baca sendiri deh yaaa..

Lalu pada sebuah setting lain. Di negeri gurun pasir beronta, Saudi Arabia, Kinanthi yang seumur anak SMP bertualang menjadi TKW yang bernasib sungguh malang. Tiga kali pindah majikan tiga kali pula dia harus mengalami siksaan yang sangat memilukan. Nah, ini... dengan kapabilitas Tasaro yang sangat pandai mendongeng, saya sebagai pembaca benar-benar hanyut dan jatuh iba pada nasib Kinanthi. Bukan itu saja saudara-saudara, saya juga jadi ikut terstigma memtidaksukai para majikan itu. Yep, those Arabics! Duh, kenapa harus begitu sih kisah TKWnya, Mas Tasaro (uhuk!). Iya sih banyak kisah tragis TKW di Arab, tapi kan nggak semua, ya? Iya sih, cerita itu dibuat untuk membangun plot yang kokoh akan kontrasnya kehidupan Kinanthi kelak. Iya sih, you did try to say that Islam and Arab were not identical. Tapi kaaann... (jadi penasaran saya sama bukunya yang tentang kisah nabi Muhammad itu!)


Kemudian setelah akhirnya berhasil keluar dari negeri kaya minyak itu, dan hengkang ke Miami (ceritanya ikut majikan) weelah.. kok ya sempat-sempatnya ternyata si majikan yang membawa dia itu rupanya kerabat salah satu majikan Arabnya terdahulu yang hendak balas dendam ke Kinanthi! Maka yang terjadi adalah meski sudah di Amerika namun tetep saja dia disiksa juga karena majikannya, yep, Arab juga -_-"

Hingga akhirnya Kinanthi kabur lalu ditemukan oleh sebuah keluarga Muslim di sana, salah satunya orang Indonesia. Mereka membantu Kinanthi untuk mendapat perlindungan hukum dari negeri Paman Sam. Dan berhasil. Entahlah mungkin saya yang terlalu perasa atau bagaimana, tapi sepintas kesannya jadi : Arab jahat dan America adalah penyelamatnya, huhuu.

Kalau ada yang penasaran bagaimana Kinanthi bisa menjadi dokter, maka kisahnya dimulai dari sini (masih ingat kan kalau Kinanthi ini dinisbati karakter pintar?). Kinanthi akhirnya diangkat jadi anak oleh seorang muslimah India. Dia dididik, disekolahkan, hingga akhirnya mendapat beasiswa kedokteran. Kenapa harus kedokteran sih, Mas Tasaro? Sementara di depan sana, dalam ceritanya, titelnya itu tak banyak disinggung. Kesan sebagai praktisi kesehatan kayaknya nggak dapet, even ada satu cerita ketika dia berusaha nolongin seseorang. Atau mungkin karena ceritanya dia sudah professor ya? Tapi kan kalau hanya demi layak disebut profesor, menurutku sih gelar dasarnya bagusan jangan di bidang kedokteran, di bidang literasi aja atau kebudayaan misalnya hehehe (what? berani-beraninya ngritik ini bocah ingusan! kata backsound-nya).

Satu hal yang menarik selama Kinanthi diasuh oleh ibu angkatnya, Asma, Tasaro menyelipkan beberapa isu internasional, menovelisasikannya, menjadi pelengkap cerita. Seperti isu tentang Aminah Wadud yang memimpin jemaah sholat pria. Dan yang lebih menggelitik, Tasaro mempertukarkan karakter dan nama pelaku yang sebenarnya. Maksud saya, di dunia nyata wanita yang nekat memimpin salat lelaki namanya kan Aminah Wadud, nah di novel ini Aminah adalah nama tokoh penentang Asma. Baik jadi jahat, jahat jadi baik hehe, what is the maksud ya kira-kira?

Mungkin hal-hal ini kali ya yang membuat saya bertahan membaca novel ini? Saya semacam baca koran bergaya novel hehehe.

Lalu si Ajuj nasibnya bagaimana? Kasian dia, di sebagian besar kisah yang puanjang itu bahkan namanya pun kian jarang disebut. Hmmm, kayak kisah di Rindu Purnama. Tokoh lelaki yang dicari-cari tokoh wanitanya malah hilang di tengah-tengah.

Selama petualangan kehidupannya, di Saudi Arabia hingga Amerika, Ajuj hanya hadir di relung hati dan pikiran Kinanthi. Mengisi setiap jengkalnya, menyulut semangatnya, dengan kenangan-kenangannya terutama soal GALAKSI CINTA. Note that, galaksi cinta. Ada apa dengan galaksi cinta? Aiihh baca ndiri deh hihihi.

Saya sempat bilang tadi, kenapa harus kedokteran? Kenapa coba? Padahal Kinanthi tak pernah digambarkan menghadapi pasien. Hanya dikisahkan dia banyak sekali memproduksi tulisan-tulisan nonfiksi, dan karya-karyanya sangat brilian sehingga dia dikagumi banyak orang. Hingga pada suatu ketika Kinanthi memutuskan untuk menulis novel. Seorang profesor menulis fiksi, macam prof Habibie gitulah kalau zaman sekarang hehe. Dia juga melakukannya sebagai pelepasan emosi jiwanya atas Ajuj. Begitu kalau kata saran editor Kinanthi, Zhaxi, seorang Tibet yang diam-diam mencintainya, yang namanya susah banget ditulis tapi kalo diucap jadi agak terdengar seperti ‘saksi’ yak :D. Bicara soal Zhaxi, yang profesinya adalah editor berprinsip teguh, ini menarik juga untuk disimak terutama tentang kenapa si Tibet ini sangat keras dalam menilai naskah yang masuk. Saya paling suka di bagian pas dia mengatakan kalau dia tidak ingin penerbitan tempatnya bekerja akan bernasib sama dengan semua penerbit yang menolak naskah Harry Potter! Geli saya bacanya karena memang itu bener banget! Hehehe.

Singkat cerita, Kinanthi akhirnya kembali ke Indonesia. Ke kampung halamannya, Gunung Kidul, untuk mencari Ajuj. Sewaktu Kinanthi kembali ke sana, statusnya dia adalah warga negara Amerika dan nyaris tak beragama. Yah, begitulah Kinanthi. Wanita ini, saking kerasnya hidup memperlakukannya, dia sampai tak memercayai agama lagi. Islam, tapi sudah sejak kecil tak pernah melakukan kewajiban apapun sebagai seorang muslimah.

Bertemukah Ajuj dan Kinanthi? Yep, tentu saja! Apakah akhir kisah mereka bahagia? Ha! Kalau soal satu ini, saya sendiri, pas memasuki lembar-lembar akhir buku, sempat ga yakin. Saya bahkan sempat mengancam (siapa?) awas aja kalo nggak happy ending! Ya ampuunn, saya udah baca 500an lembar ini, please deh!!! :D

Ketika setting kembali ke Indonesia, lagi-lagi, dengan cerdas Tasaro menovelisasi salah satu peristiwa alam yang terjadi di sekitar Jogja sebagai bahan cerita. Wah saya suka nih hehehe.

Hanya sayangnya, ada adegan deja vu tebing kapur runtuh yang menurut saya terasa sedikit berlebihan, karena terjadi dua kali. Kenapa harus dua kali? Harusnya sekali aja! Pas pertemuan Kinanthi - Ajuj dewasa, harusnya ngga usah dilatari oleh tebing kapur runtuh dulu. Apa sajalah, upacara keagamaan misalnya, tapi jangan tebing kapur runtuh. Biar itu di simpan menjadi satu adegan krusial di penghujung cerita. Hehehe, memang enak banget jadi komentator ;p

Tapi ya sudahlah. Intinya, meski puanjaaanggg, baca deh Kinanthi. Dia mengayakan...

Yuk, ah! Tabik….

(semoga pak guru Tasaro ngga marah karyanya saya review begini -_-“)

4 komentar:

  1. lebih afdol baca langsung bukunya ya

    BalasHapus
  2. Sepertinya saya ada tuh bukunya yang Muhammad Ris. Tapi, lagi2 belum selesai bacanya udah ketumpuk2 yang lain. Bagus nih resensinya...

    BalasHapus
  3. Buku kinanthi terlahir kembali sama dengan galaksi kinanthi nggaak?

    BalasHapus
  4. Buku kinanthi terlahir kembali sama dengan galaksi kinanthi nggaak?

    BalasHapus