2.8.13

Romi, Daeng Cilik Penjual Buah Tala

Hari ini seseorang menceritakan pada saya mengenai Romi, daeng cilik penjual buah tala. Dalam rangka menghidupkan kembali blog risablogedia ini, akan saya re-tell kisah tersebut  khusus untuk kawan-kawan semua.

Namanya Romi. Anak lelaki itu usianya sekitar 10 atau 11 tahun, ia kini duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Entah sudah berapa lama Romi si daeng cilik ini berjualan buah tala. Atau, entah dalam rangka apa sampai ia harus berjualan buah tala -- apakah sekadar mengisi waktu liburan atau apa--, entah, nara sumber saya tidak sempat menanyakan padanya. Yang jelas, satu hal yang membuat keadaan Romi semakin menarik adalah bahwa menurut penuturannya, ia tinggal di Jeneponto. Sebagai informasi, jarak antara Jeneponto – Makassar adalah sekitar 70 km! Istimewa? Tentu saja. Jeneponto itu di luar kota Makassar. Dan jarak sejauh itu bisa jadi ditempuh selama 2 jam menggunakan kendaraan. Sementara menurut pengakuan Romi, ia naik angkutan umum saja menempuh jarak sejauh itu. Wow, terbayang oleh saya, berapa kali ia gonta-ganti angkutan? Belum lagi setibanya di tujuan ia harus memikul dagangannya ke mana-mana, berat, sembari menantang panasnya sinar terik matahari Makassar!


Ini dia, Romi, daeng cilik penjual buah tala

Terlepas dari semua masalah yang jika memang benar seperti itu faktanya tentu saja sangat sangat menakjubkan. Maksud saya, seorang anak kelas 5 SD, dari kampung turun ke kota demi menjual buah tala, masya allah! Di balik itu semua, betapa seorang anak kecil seperti Romi, telah paham arti berjuang dalam hidup. Ia tidak mengemis, tidak meminta-minta, tidak menadahkan tangan begitu saja, melainkan ia bekerja, ia berusaha! Sungguh sebuah sikap gentlemen yang ditunjukkan oleh bocah belia itu. sebuah sikap yang bila dimotivasi secara tepat pasti akan menghasilkan seorang yang hebat kelak suatu saat. Sebuah sikap yang membuat saya sukarela menghantar doa untuknya, semoga perjalanannya ini kelak akan menghantarmu menuju takdir terbaik dalam hidupmu, duhai Romi, daeng cilik penjual buah tala.

10.5.13

Tentang Buku


Seorang anak umur 9 tahun di Ukraina, mengajar sejarah di hadapan mahasiswa! Berita itu sungguh membuatku menganga pada suatu pagi yang sudah tak buta. Waw, bagaimana bisa? Kabarnya, sang bocah ini, yang pupil matanya berwarna keabuan, dengan senyum di bibir merah menawan, dan bukan artis namun sungguh rupawan, sejak kecil senang melumat ensiklopedi sejarah. Makanya di usianya yang seumuran anak kelas 3 SD, capable mengajar setara dosen.

***

Membandingkan jumlah buku yang terbit per tahun, antara AS dengan Indonesia, maka akan muncul angka berikut ; 75K vs 10K (sumber bacaan : http://www.indonesiaprintmedia.com). Jauh lebih banyak AS! Terlepas dari itu semua, tentang siapa menyalahkan siapa, saya jadi tergelitik untuk bertanya, jumlah buku terbit yang dimaksud tersebut, idealnya bergenre apa sih, agar sebuah bangsa dikatakan bisa menjadi lebih pintar? Angka 75K buku yang terbit di AS per tahun, itu persentasenya seperti apa ya kira-kira? Maksud saya, berapa yang berupa textbook, berapa buku ilmiah, berapa fiksi, berapa dongeng, dll? Saya sungguh penasaran dengan hal itu. Terlebih lagi ketika saya melirik isi rak buku saya, kok ternyata kebanyakan, ehm, buku cerita saja. Sementara sang bocah Ukraina yang kuceritakan tadi, yang dilalap adalah ensiklopedia. Duh, saya nggak punya, nggak menyediakan untuk anak-anak saya.
 
sumber gambar : www.mizan.com
Harus saya akui, setiap saya menonton film-film barat, di mana di sana ada adegan sekolah-sekolahannya, contoh populer, Twilight, ehm, atau Harry Potter, atau National Treasure! Ketika belajar, para siswa itu pasti menggenggam buku-buku yang tuebel, hardcover, pokoknya keren banget deh. Bandingkan dengan memori saya akan buku-buku sekolah saya yang... yah begitulah...

Nah, jadi bagaimanakah seharusnya? Apakah yang dimaksud dengan jumlah buku yang diterbitkan oleh sebuah negara dalam setahun, di mana Indonesia menempati posisi bawah? Adakah yang bisa bantu mencerahkan pemikiran saya?

19.4.13

Be a Writer : Grup Rahasia Penulis Indonesia


Be a Writer atau BaW adalah nama dari sebuah grup yang mengakomodir para penulis Indonesia, secara rahasia. Bukan hanya penulis yang sudah jadi, namun juga yang masih dalam proses belajar untuk menjadi penulis. Grup ini didirikan oleh sang founder-nya yaitu Leyla Hana, justru bertujuan untuk memfasilitasi orang-orang yang serius ingin belajar menulis. Sepertinya bu Kepsek, demikianlah biasa kami memanggilnya, memahami betul bahwa salah satu problem yang kerap ditemui oleh writers wannabe adalah sukarnya menemukan sebuah wadah yang sanggup dengan tangan dan hati terbuka memberikan bimbingan yang intens, kontinyu, anytime dan ehm, free hehehe. Eh, maksud saya setidaknya itulah yang saya rasakan.

Adalah menjadi suatu kebahagiaan tersendiri bagi saya, maksud saya dengan reputasi saya yang belum jadi apa-apa dalam dunia tulis-menulis, beliau berkenan mengundang saya untuk bergabung ke dalam grup Be a Writer atau BaW ini. Berawal dari keseringan saya tanya-tanya ini itu melalui inboxnya, mungkin, sehingga akhirnya diseretlah saya ke dalam grup.

Dan Alhamdulillah dengan diseretnya saya ke dalam salah satu grup rahasia penulis Indonesia ini, Be a Writer, saya seperti menemukan rumah baru di dunia maya. Sekarang tujuan saya online kebanyakan adalah untuk menyimak aktivitas grup ini. Apalagi aturan main dalam grup ini lumayan ketat, meski sekaligus dinamis. Tujuh hari dalam seminggu, memiliki tema bahasan yang berbeda-beda. Ada tema Diary Day di hari Senin, Sharing Day di hari Selasa, Blogging Day di hari Rabu, Promo Day di hari Kamis, Review Day di hari Jumat, Business Day di hari Sabtu, daaaaan Free Day di hari Minggu. Dengan variatifnya tema pembahasan maka beragam pulalah para anggota BaW, atau para BaWers meluapkan segala isi kepalanya terkait tema-tema tersebut setiap harinya. Ramaaaiiii selalu perbincangan di grup ini.