27.4.12

Tips Mewarnai : Dari Pemula untuk Pemula


Mewarnai adalah salah satu aktifitas yang sangat digemari oleh anak-anak usia TK. Selama ini saya mengira bahwa mewarnai yang baik itu adalah asal rapi dan tidak keluar garis. Seperti itu hingga ketika putra saya masuk TK. Di awal semester, sekolah mengadakan lomba mewarnai bagi ibu dan anak. Demi turut memeriahkan acara dan menyenangkan anak, saya pun berpartisipasi dalam lomba tersebut. Menurut saya ketika itu, hasil mewarnai saya sudah sangat bagus sekali. Eehhh tapi kok kalah! Usut punya usut, ternyata ibu-ibu lain karyanya memang jauuuhhh lebih bagus dari saya. Bagaimana tidak, mereka mewarnai dengan teknik! Saya baru tahu bahwa ternyata mewarnai pun ada tekniknya J

Nah, atas dasar itu saya bermaksud membuat tulisan ini, sekadar berbagi sedikit ilmu yang saya tahu mengenai teknik mewarnai bagi pemula. Karena setelah saya kalah di lomba mewarnai yang saya ceritakan tadi, saya browsing mengenai tips mewarnai bagi pemula namun sulit saya temukan artikel yang membahasnya secara gamblang dan sederhana. Pun ketika saya browsing contoh hasil mewarnai yang baik, saya juga kesulitan menemukannya. Makanya saya buat saja catatan ini, siapa tahu ada yang membutuhkannya.

Inti dari teknik mewarnai bagi pemula adalah terletak pada permainan gradasi warna. Jangan mengubah letak dan susunan pewarna misalnya crayon, yang berbaris rapi di dalam tempatnya, karena seperti itulah posisi gradasi warna yang benar (menurut Mr. Ikhsan, guru les mewarnai anak saya). Kecuali kamu sudah menghapal letak urutan gradasi warna tersebut tentunya.

susunan warna crayon dari sananya


Mari kita analisa dua gambar di atas. Bisa dipahami maksud saya mengenai gradasi, bukan? Kepala hewan yang diwarnai anak saya tidak hanya terdiri dari satu unsur warna tetapi dua, sesuai tingkatan gradasinya, warna terang dibingkai gradasi gelapnya. Demikian pula gambar rongga mulut dan sayap. Seperti itulah yang baik, masih menurut guru les mewarnai anak saya, lho. Kemudian untuk warna latar, pilihlah warna yang kesannya tidak meredupkan warna objek utamanya. Jangan sampai warna latar lebih ‘wah’ dari warna objek utama. Demikian, masih kata beliau. J

Gambar berikut ini akan mencontohkan gradasi warna yang semakin kompleks, yang ketika dipandang memang tampak semakin atraktif.



Jika dua gambar pertama menampilkan dua gradasi saja, dua gambar terakhir meningkat menjadi gradasi tiga warna. Badan ikan berwarna merah-oranye-kuning. Warna daun teratai : hijau tua-hijau muda-kuning (eh, tapi yang ini kok gradasinya lompat ya? Hmmm, art … sometimes it is unpredictable :D)

Nah, bagaimana? Mudah-mudahan bisa membantu kawan-kawan yang sedang mempunyai kasus sama dengan saya seperti di awal cerita. Bagi kawan-kawan yang sudah ahli mungkin berkenan mengoreksi atau menambahkan tips mewarnai bagi pemula ini.

25.4.12

Berbagi Pengalaman dan Tips Memilih Franchise (bag. 2) | Risablogedia


Setelah postingan terdahulu saya tentang tips memilih franchise yaitu menyesuaikan budget, menentukan jenis usaha serta menentukan lokasi dan pasar, sekarang markilan mari kita lanjut yaaa J

4. Memilih karyawan

Lepas 3 bulan pertama setelah outlet saya berjalan dengan sangat memuaskan, saya baru berkeinginan serius untuk mencari karyawan. Maklum, dalam hal mengelola usaha saya benar-benar baru belajar. Tadinya saya takut rugi, takut tak bisa membayar karyawan, takut modal tak bisa kembali dan lain-lain. Alhamdulillah, setelah 3 bulan pertama tersebut kepercayaan diri saya meningkat. Ternyata berbisnis itu begini toh, begitulah kira-kira pelajaran berharga yang berhasil saya petik. Terlebih lagi saya sudah hampir mencapai BEP. Modal saya hampir kembali! Benar-benar prestasi terbaik dalam hidup saya, sungguh J

Maka akhirnya bulan-bulan berikutnya saya pensiun menjadi bakul crepes. Ada karyawan yang menjalankan usaha saya. Tugas saya kini hanya mengawasi. Saya kira mengawasi itu adalah hal yang mudah, namun kenyataannya tidak seperti itu. Well, tergantung sifat dasar karyawan juga sih. Saya pernah mengalami beberapa kali gonta ganti karyawan dengan dinamika masalahnya. Paling banyak adalah karyawan yang tidak amanah. Yang suka diam-diam nilep uang jualan. Hikmah bagi saya yang sempat mengelola sendiri outlet adalah saya tahu persis mekanisme pengeluaran dan pemasukan tiap harinya. Jadi kalau ada selisih sedikit saja pasti ketahuan. Susah kalau mau ngeles he he he.

Buatlah aturan main yang tegas, enak bagi kita, enak juga bagi karyawan. Agar kita senang, karyawan juga tidak merasa terdholimi dan berpikir dia yang capek kerja kita yang terima uangnya.

Ah iya, apabila suatu waktu ada karyawan kita yang telah susah payah kita bina, kita ajari, tiba-tiba keluar ingin mandiri dan membuka outlet sendiri, jangan marah, berlapang hatilah, anggap saja amal jariyah. Okeyyy…

5. Ketika Usaha berjodoh dengan Rezeki

Ketika secara maksimal kita telah mengerahkan segala kemampuan dan usaha kita dalam rangka menjemput rezeki dan ternyata berjodoh alias penghasilan lancar, maka bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan-kemungkinan berikut :
  • Uang sewa tempat semakin naik

Ini adalah salah satu resiko ketika usaha kita statusnya nebeng di tanah orang lain. Ketika bisnis berkembang biasanya induk semang akan menaikkan harga sewa. Tipikal … J Maka beruntunglah jika kamu memiliki tempat sendiri semisal ruko atau tempat strategis lainnya yang tidak perlu memikirkan harga sewa tempat.
  • Pesaing akan berdatangan

Ada ungkapan jika memang rezeki tidak akan lari kemana pun. Benar, tidak diragukan lagi! Tapi bukan berarti dalam sebuah rule of biz *deuuhh bahasanya!* lantas bisa berlaku seenaknya. Mentang-mentang bisnis sejenis franchise ini cukup murmer modalnya dan laris di kalangan anak sekolah maka akhirnya yang lain pun mendatangkan satu, dua, tiga bahkan empat outlet baru dalam kantin. Iklimnya menjadi super panas, tidak ideal lagi.
  • Melihat saat yang tepat : Ada mula ada akhir

Kombinasi antara naiknya harga sewa, pesaing bertambah sementara pasar segitu-segitu juga, maka pada akhirnya saya pun memilih goodbye saja. Cukuplah dua tahun menjadi sebuah pengalaman super berharga bagi saya. Terlebih lagi mumpung outlet saya masih ada nilai jualnya maka saya pun akhirnya melepasnya dengan harga nyaris mendekati harga beli semula. Meneruskannya kepada yang lebih muda, yang pernah saya bahas sedikit profilnya di sini J

(Hingga tulisan ini dibuat saya masih belum menemukan pengganti kegiatan bisnis saya. Justru sekarang saya malah senang menulis, sebuah aktifitas yang sangat menyita waktu namun tidak (belum) menghasilkan materi sebanyak waktu yang dihabiskan. Tapi secara batiniah, kepuasannya puolll :D. Fyi, saat ini saya tertarik menjajaki bisnis pendidikan, jadiii … jika di antara kawan-kawan ada yang punya pengalaman atau tips merintis jenis usaha tersebut sudilah kiranya berbagi kepada saya ^_^)

bye-bye gerobak ^_^
<fin>

24.4.12

Ki Hujan | Risablogedia


Aurum menapakkan selangkah kakinya di trotoar batu paving berlumut tipis. Pertama kalinya sejak sepuluh tahun yang lalu.
“Selamat datang kembali, wanita ayu berkerudung ungu!” suara syahdu Ki Hujan terdengar menyapa dari kejauhan. “Sekian lama aku tak melihatmu, masihkah kau mengingatku?”
Aurum mengedarkan pandangannya ke rerimbunan dedaunan yang saling tumpang tindih membentuk kanopi. Ia menghirup aroma udara pagi. Bias senyum terpampang di wajahnya. Kilas kenangan datang dan pergi memenuhi ruang pikirnya. Sepuluh tahun lalu hampir tiap pagi ia bergegas melintasi trotoar kampus ini. Melangkahkan kaki lebar-lebar membelah udara dingin yang berebutan menerpa pipi. Membuatnya bersemu merah, segar.
“Sssrrtttt …. Ssrrrttt … Sssrrttt …,” terdengar suara mesin pemotong beberapa jarak dari Aurum. Bau rumput segar yang tergilas bilah besi serentak menguar. Wangi. Aurum menajamkan penciumannya, menikmati aroma yang sangat disukainya sejak sepuluh tahun lalu. Yang seringkali dengan setia menemani derap langkahnya mengejar mata kuliah pertama.
“Duhai, wanita ayu berhati lembut. Tidakkah kau dengar nyanyianku menyambut?” Ki Hujan kembali menyapa tak putus asa.
Aurum masih melayangkan pandang ke arah kanopi alam. Mata hitamnya mencari-cari sesuatu.
“Ahh, kalian masih juga setia berdiri di tempat masing-masing. Memayungi semangat muda yang haus ilmu. Menaungi idealisme seantero civitas akademika di sini, menyejukkan. Tapi di manakah ia?” suara jernih Aurum terdengar mengalir.
Aurum berjalan semakin dalam mengikuti trotoar batu paving berlumut tipis di sepanjang pintu gerbang kampus. Lalu tiba-tiba ia memekik perlahan, “Aha! Kau di sana rupanya!”
Aurum sontak setengah berlari. Udara dingin pagi lembut membelai pipinya mengiringi langkah ringannya menuju sebuah titik. Lalu ia berhenti. Napasnya terengah namun di wajahnya terbit sebuah senyum lebar sembari berseru, “Ki Hujan!”
Danau Unhas, 22 April 2012


 Ki Hujan : (samanea saman) salah satu jenis pohon peneduh