23.6.12

Review Film 'The Next Three Days'


sumber gambar dari sini

John adalah seorang dosen di sebuah perguruan tinggi. Ia memiliki sebuah keluarga yang boleh dikata ideal. Didampingi oleh seorang istri yang jelita, Lara Brennan juga seorang anak balita yang manis, Luke. Kehidupan mereka digambarkan harmonis dan bahagia. Dikisahkan bahwa Lara adalah seorang wanita bekerja yang acapkali bersitegang dengan atasannya yang juga seorang wanita.

Sebuah rutinitas yang menarik yang berusaha digambarkan kepada penonton adalah setiap pagi Lara selalu memotret kebersamaan mereka bertiga, “Hingga Luke berumur 18 tahun,” ujarnya. Seperti pagi itu, semua berjalan seperti biasa, seperti seharusnya, Lara tengah bersiap-siap bekerja ketika tiba-tiba ia menemukan ada noda darah di punggung mantelnya. Lara diam-diam bergegas menuju wastafel dan buru-buru mencuci sebercak noktah merah tersebut. Belum selesai ia membersihkannya, -- tangannya sedang berusaha mengucek di bawah kucuran keran--, tiba-tiba pintu belakang digedor dengan keras. John membuka pintu dan betapa terkejutnya ia karena yang muncul di pintu adalah kepolisian setempat yang tanpa komando langsung merangsek masuk dengan satu tujuan, menangkap Lara. Atas tuduhan pembunuhan terhadap sang bos! Lara yang sedang sibuk dengan noda darah di bawah kucuran keran tentu saja mati kutu tertangkap tangan dengan barang bukti seperti itu…

sumber gambar di sini
Cerita berlanjut dengan penggambaran yang sangat kentara dan terasa, betapa John sangat terluka sama besar seperti Lara, mengingat mereka adalah keluarga yang sangat dekat dan saling menyayangi satu sama lain. Terlebih lagi sejak Lara ditahan di penjara Luke tak pernah lagi mengeluarkan sepatah kata untuk berbicara pada Lara, apalagi mencium Lara, sang ibu, ketika ia dibawa berkunjung ke penjara.

Pesan yang ingin disampaikan dari film ini intinya adalah soal kepercayaan dan kesetiaan. Betapa John sebagai seorang suami, sangat memercayai istrinya tanpa keraguan sedikitpun. Ia bahkan tak pernah sekali pun menanyakan, mengkonfirmasi kepada Lara apakah ia benar telah membunuh seperti yang dituduhkan. Dan selama sang istri di penjara John tetap setia pada istrinya meskipun  ‘ujian kecil’ datang melanda ketika ia berkenalan dengan seorang single mom cantik jelita di taman bermain.

Kelebihan film ini sehingga membuat saya tertarik mereview bukan hanya pada tema inti tadi namun lebih dari itu ada ketegangan yang sangat mengasyikkan dari usaha John untuk membebaskan sang istri dengan cara yang melanggar hukum. Ya, kabur dari penjara! Karena dengan semua tuduhan, saksi dan bukti seolah tak ada celah bagi Lara untuk bebas. Sementara John meyakini bahwa sang istri tak melakukannya dan tentunya sebagai pemimpin yang sangat mencintai keluarganya ia tak ingin keluarganya berakhir seperti itu. Maka tak ada jalan lain ia terpaksa mencari cara agar bisa membawa kabur Lara dari penjara.

Nah, disinilah thriller dari film ini yang sangat menarik diikuti hingga durasi waktu terakhir. Betapa John membuat perencanaan yang sangat sempurna untuk pelarian tersebut. Menghubungi seorang mantan narapidana yang pernah berhasil kabur tujuh kali dari penjara untuk menyerap ilmunya. Mempelajari cara membuat kunci pembobol segala pintu ‘fat key’ dari youtube … yup youtube! Mengurusi dokumen aspal berupa passport, SIM serta nomor jaminan sosial secara illegal. Hingga mengobrak-abrik sarang mafia narkoba demi mendapatkan uang untuk bekal pelariannya.

Singkat cerita dengan segala pengamatannya, kesabarannya, dan kecerdikannya, John berhasil membawa kabur Lara dari penjara. Seperti kata sang mantan napi, kabur dari penjara itu ‘mudah’ tapi  bertahan agar tak tertangkap setelah kabur itu yang sulit. John hanya memiliki waktu 35 menit sebelum semua pintu keluar dari negerinya diblokir oleh polisi. Dalam keheningan, tanpa dialog, hanya soundtrack dan suara dari penunjuk arah otomatis di dalam mobil, John dan Lara bergegas menjemput Luke yang saat itu tengah menghadiri pesta ulang tahun kawannya di kebun binatang.

Sementara batas waktu aman dari 35 menit tersisa tinggal beberapa menit saja. Ketika sampai di tikungan terakhir sebelum kebun binatang, John malah membanting setir ke arah lain, alih-alih menjemput Luke di sana. Kaget, Lara tak mengerti mengapa John tidak jadi menuju kebun binatang. John meminta agar Lara mempercayainya dan mereka akan menemukan cara lain untuk membawa Luke. Ada nomor telepon orangtuanya di saku jaket Luke. Ia akan diantarkan ke sana, sementara ini yang penting adalah bagaimana mereka bisa berhasil melarikan diri dulu. Lara shock. Tak terbayang baginya meninggalkan putranya begitu saja.

Dan sebuah keputusan dramatis mengiringi keputusasaannya, Lara membuka pintu mobil dan bermaksud membuang diri dari sana. Baginya lebih baik mati daripada berpisah dari anaknya. Adegan yang sangat menegangkan ketika John berhasil menarik lengan Lara tepat sebelum ia jatuh dan membuat mobil mereka berputar tak terkendali di atas jalanan bahkan nyaris tertabrak truk kontainer!

Penasaran dengan ending film ini? Segera temukan selengkapnya dalam ‘The Next Three Days’. Film keluaran tahun 2010 yang berdurasi sekitar 2 jam dan dibintang-utamai oleh Russel Crowe (John) dan Elizabeth Banks (Lara). Selamat menonton J

18.6.12

Puisi : Warisan Ibu


Anakku,
Ibu punya satu warisan untukmu
Bukan intan, berlian atau pun zamrud
Namun dengannya [Insha Allah] dunia kan ada dalam genggammu

Anakku,
Warisan Ibu ini tak kasatmata
Sebuah mesin konversi paling mutakhir di alam semesta
Yang sanggup mengubah tangis menjadi senyum manis
Yang sanggup mengubah duka lara menjadi gelak tawa
Yang sanggup mengubah lonely-feeling menjadi lone-ranger
Yang sanggup mengubah galau menjadi kilau

Anakku,
Kelak jika hendak kau gunakan warisan Ibu ini
Jangan kau lupakan kedua kata kunci
Sabar…
Syukur…
Maka ianya akan membawamu taklukkan yang fana


Dedicated to my beautiful princess, Taris and my prince charming, Yusuf


note : gambar diperoleh dari sini

14.6.12

Flu Singapura : Menurut Catatan Seorang Ibu

“Gatal lidahku, Ummi!” gerutunya ketika mengunyah makan siangnya. Aku menatapnya putus asa. Lalu kuminta ia membuka mulut untuk mengecek lidahnya. Semua tampak baik-baik saja, tidak ada yang berbeda, normal. Aku menghela napas. Di antara sekian banyak alasannya malas makan hal tersebut, lidah gatal, adalah alasan paling baru yang pernah diutarakannya. Dan tentu saja aku tak bisa merasakan benar tidaknya. Biasanya ia menyebut sakit perut atau apalah ketika sudah merasa kenyang meskipun baru sedikit makanan yang masuk.

Satu hari, dua hari, kejadian ini masih berlangsung pada beberapa kesempatan makan. Hingga di hari ketiga, siang itu lagi-lagi ia mengeluhkan lidahnya gatal setelah beberapa suap makanan masuk ke mulutnya. Karena merasa, antara gemas dan penasaran ada apakah sebenarnya, kali ini aku memeriksa rongga mulutnya dengan lebih saksama. Dan betapa kagetnya ketika kudapati langit-langit rongga mulutnya penuh dengan ruam-ruam kemerahan! Sungguh, selama lebih dari satu dekade aku mengasuh anak baru pernah aku mendapati kasus seperti ini. Panik? Tentu saja. Penyakit apakah gerangan yang menghinggapi putraku yang belum genap berumur 6 tahun ini? Aku ingin menduga sariawan, tapi biasanya sariawan tak seperti itu….

Akhirnya sore harinya kubawa ia langsung ke dokter spA langganan kami. Menurut dokter yang telah bertitel profesor tersebut, ruam-ruam itu adalah akibat infeksi radang yang meluas. Masuk akal, mengingat selama satu minggu anakku memang sedang batuk pilek. Tadinya aku ‘senang’ karena batuk pileknya selama seminggu itu tanpa disertai demam. Sebuah prestasi, karena biasanya ia batuk pilek pasti plus demam. Eh, tapi ternyata demamnya tak muncul malah berganti ruam-ruam di rongga mulut seperti itu, yang mana malah lebih menyeramkan tentunya.

Sembari meresepkan obat dan mengajariku cara penggunaannya, sang prof menasehatiku dengan nasehat paten khas beliau. Melarang anakku makan : nugget, sosis, snack ringan full MSG, minuman manis murmer favorit anak-anak dan sebangsanya. Kemudian memberitahuku bahwa yang masih dalam lingkup aman dikonsumsi agar anakku cepat sembuh adalah roti, biscuit dan susu (bukan yang dalam kemasan kotak UHT). Setiap kali anakku sakit dan kubawa ke sana selalu seperti itu nasehatnya, sampai hapal aku dengan segala petuah sang prof itu.

Lalu di akhir semua nasehatnya, sang prof sempat mengutarakan kekhawatirannya, “Hati-hati dengan penyakit KTM.”
“KTM? Penyakit apa itu, Dok?” tanyaku benar-benar tak mengerti.
“Kaki Tangan Mulut. Atau orang biasa menyebutnya Flu Singapura.”

***

Esok harinya, ketika kuperiksa rongga mulutnya, ia mengeluhkan tangannya sakit. Katanya susah kalau hendak memegang apa-apa. Lalu kuperiksa memangnya ada apa di tangannya? Dan ternyata, kutemukan ruam-ruam seperti yang ada dalam rongga mulut itu di sana! Lemas rasanya hatiku. Aku langsung teringat dengan kata-kata sang prof kemarin. KTM. Buru-buru ku-browsing tentang penyakit tersebut. Dan dari beberapa situs yang kubaca (salah satunya ini : http://id.wikipedia.org/wiki/Flu_Singapura) dengan sangat sedih aku berani menyatakan anakku telah terkena penyakit itu, KTM, Flu Singapura.

Setiap kali anakku sakit sering aku merasa gagal sebagai seorang ibu. Gagal menjaga. Apalagi kali ini penyakitnya cukup serius. Aku hanya bisa berdoa semoga virus yang menjangkiti anakku ini bukan versi ganasnya. Aku berpikir untuk kembali ke dokter itu lagi tapi aku takut anakku malah diterapi dengan obat kimia yang macam-macam. Akhirnya aku putuskan untuk melawan virus tersebut dengan meningkatkan daya tahan tubuh anakku ke level maksimal. Karena setahuku virus adalah soal kekebalan tubuh. Dan seperti yang tertera di situs-situs yang kubaca penyakit ini termasuk penyakit-yang-akan-sembuh-sendiri. Insya Allah.

Jadi, kuterapilah anakku ini dengan madu (aku pakai merek Al-Bayan, ini bukan iklan tapi semata karena merk itu mudah diperoleh di apotik mana saja hehe), habbats oil, vermint, zinc (resep dokter), nymiko (obat sariawan resep dokter) dan imboost force. Sembari tentunya pasrah padaNya Yang Maha Menyembuhkan.

Alhamdulillah, ketika catatan ini kubuat, ia sudah benar-benar pulih. Tapi meski begitu aku masih meliburkannya dari sekolah karena aku tak ingin kawan-kawannya terkena juga. Padahal minggu ini adalah minggu terakhirnya di Taman Kanak-kanak. Tapi tak mengapalah daripada menulari anak-anak lain, ya kan?


Siapa tahu ada blogger dokter yang sempat membaca catatan saya ini, just in case ada pemahaman saya yang keliru mohon koreksinya J