9.6.12

Dapur : Beberapa Kecelakaan Kecil Yang Mungkin Terjadi


(sumber gambar : google)

Apakah di antara kawan ada yang berprofesi ibu rumah tangga yang gemar memasak? Berarti sering ke dapur, kan? Well, sebenarnya yang bukan IRT bahkan seorang lelaki pun takkan pernah luput dari kegiatan di dapur. Right? Memasak, menyeduh teh/kopi, mencari sesuatu untuk dimakan atau bahkan sekadar mengicip-icip … dapurlah tempatnya.

Sebagai tempat yang cukup krusial, dapur pun tak urung dari kecelakaan-kecelakaan yang mengintai kita setiap saat, lho. Tidak percaya? Berikut ini akan saya beberkan beberapa kecelakaan kecil yang memungkinkan terjadi di tempat paling produktif dan kreatif di rumah tersebut :

  • Teriris pisau

Ouuch! Kawan pernah mengalami? Terbayang kan rasanya ketika secara tak sengaja jari kita teriris pisau saat mengupas bawang misalnya. Apalagi pas masak kita sambil bbm-an, sms-an, twitter-an, facebook-an, hmmm …
Apa yang biasa kawan lakukan ketika terjadi kecelakaan kecil seperti itu? Kalau saya biasanya mengolesi luka dengan madu. Tipikal saya, sedikit-sedikit madu, apa-apa madu … Kalau masih belum puas, baru ambil betadine dan setelah itu jangan lupa memplester luka agar kegiatan bisa kembali dilanjutkan. Dan lain kali berhati-hatilah ketika beraktivitas dengan benda semacam pisau. Put your gadget out of the kitchen and concentrate!

  • Tepercik minyak panas

Ouuchh! Kawan pernah mengalami? Sama seperti teriris pisau, rasanya tentu sakit jugalah. Mau tahu bagaimana pertolongan pertama saya terhadap insiden semacam ini? Yup, back to you, honey! Olesi madu. Atau bisa juga dengan membasuh area yang terkena panas di aliran air keran. Agar suhunya segera normal kemudian lekaslah oleskan madu alih-alih odol atau yang lainnya, sebagai pertolongan pertama.

  • Salah racik/masakan gosong

Kemanisan, keasinan, kegaringan alias gosong. Berapa kali kawan sering mengalami ini? Apalagi kalau masak sambil ngobrol di telepon atau (lagi) bbm-an, sms-an, twitter-an, facebook-an. Hmmm… untuk yang satu ini solusi saya kembali ke poin pertama, put your gadget out of the kitchen, please!

  • Memecahkan barang

Tentunya dalam konteks tak sengaja, bukan yang sengaja (emang ada? entahlah?). Jika terjadi hal seperti itu biasanya saya akan langsung berteriak begini, “JANGAN BERGERAK!” kepada seluruh penghuni rumah. Takutnya pecahan kaca yang menyebar terinjak dan melukai salah seorang dari mereka. Setelah memastikan situasi aman, saya akan segera mengambil sapu, kantong plastik dan sehelai kain. Jangan lupa kain yang telah dipakai untuk mengelap lantai pasca terjadinya perpecahan barang ;p harap dibuang ya!

Demikian beberapa ulasan singkat saya tentang dapur dan beberapa kecelakaan kecil yang mungkin terjadi di sana. Mungkin kawan punya pengamatan lain dan ingin menambahkan?


6.6.12

Lomba Resensi Novel Republika 2012 | Risablogedia


Tulisan saya tampil di ROL, Republika OnLine! Seperti itulah kesenangan tertinggi yang saya rasakan atas sebuah resensi yang baru-baru ini saya buat. Menembus ‘begitu saja’, secara sukarela, di salah satu media prestisius. Juga berkesempatan merasakan sensasi ketika url tulisan tersebut muncul di TL akun twitter ROL.
Sejenak kemudian, seperti biasanya, saya pun melakukan aksi norak ala saya ketika diliputi perasaan senang, men-share link tersebut di akun-akun media sosial saya sembari tak lupa mentag beberapa orang teman yang memang selalu menjadi target tag saya. Karena saya tahu bahwa mereka-mereka itu takkan keberatan kalau saya tag, hehehe.

Okey… lagi-lagi sebuah pengakuan. Tulisan saya yang berupa resensi itu, bisa muncul di ROL bukan karena sangat bagus sekali sehingga pihak Republika tertarik menampilkannya. Tapi tulisan itu muncul di sana karena saya mengikuti lomba. He he he. Dan salah satu apresiasi dari penyelenggara lomba tersebut adalah seluruh karya dari peserta akan ditampilkan di ROL tertanggal 3 Juni 2012 di rubrik “senggang”.
Berikut ini saya sertakan link saya. Jika kawan ada waktu lebih … please give me a click J


Dibandingkan dengan peserta lain, jujur saja, jumlah viewer saya masih  sangat rendah. Padahal  jumlah viewer menempati porsi 30% penilaian. Jadi kalau kawan menyempatkan diri membaca link tadi berarti you help me one vote and I am very appreciate and thankful for that.
Sekilas cerita tentang resensi saya itu. Tanpa adanya lomba ini sebenarnya saya memang sudah berniat membuat resensi buku Lontara Rindu. Alasannya sebenarnya pribadi, karena sang penulis adalah guru dari putri sulung saya. Saya senang mendapati kenyataan bahwa salah satu orang yang sering ‘berkeliaran’ di sekitar saya, yang hampir setiap hari saya bisa saja bertemu, adalah seorang penulis hebat. Mengabaikan kenyataan bahwa beliau menghadiahi saya buku tersebut, tetap saja saya akan membuat resensi dengan seobjektif mungkin.

Bahkan dengan adanya info mengenai lomba ini, saya tetap tidak terlalu serius berminat mengikutinya. Tadinya. Buktinya, saya tidak grasa-grusu mencari tahu syaratnya, caranya, dan yang terpenting, deadline-nya. Apalagi bulan Mei saya benar-benar sedang kehilangan passion menulis. Jadi entah kenapa tiba-tiba hari itu, tanggal 31 Mei, saya sangat ingin menulis resensi Lontara Rindu ini. Maka menulislah saya. Setelah selesai saya berniat untuk mempostingnya di blog dan mendedikasikannya untuk pak guru. Then I connected to the internet. Sebelum posting saya iseng mencari berita soal lomba resensi Republika itu. Dan betapa kagetnya saya, deadline-nya ternyata tepat hari itu, 31 Mei itu! Maka kalang kabutlah saya. Waduh nggak jadi dipost di blog kalau begitu, karena syaratnya lewat email langsung ke republika. Well, jadi ya begitulah ceritanya ………… (ada yang tertidur baca dongeng saya ini?)

Dan ternyata viewernya masih sedikit dibandingkan yang lain. Kenapa ya? batin saya. Mungkin karena judulnya kelewat(an) aneh ;p Mungkin karena gaya meresensi saya yang terlalu terbuka, hampir semua inti cerita dikupas. Mungkin karena kepanjangan :D Mungkin karena tidak mengikuti pattern lazim sebuah resensi. ENTAHLAH …

Yang jelas viewer masih sedikit, padahal nilainya 30%. Tebersit di pikiran saya, bagaimana kalau saya online sepuluh menit per hari lalu mengkhususkan diri untuk mengklik-mengklik  terus link tulisan saya hingga mencapai angka ribuan viewer misalnya *ha ha ha tanduk muncul di kepala* Emang ini kontes idol apa? Eh, tapi serius lho, menurut kawan gimana? Should I do that or not?

However, soal rezeki, maksud saya soal siapapun yang akan jadi pemenangnya nanti, pada dasarnya semua sudah ada dalam catatanNya. Dan soal bagus tidaknya karya saya itu, itu juga relatif. Selera orang berbeda-beda. Tapi toh saya tetap akan berusaha melakukan apa yang saya bisa untuk mencari dukungan. Keep on fighting till the last second of the appraisal, right? … hehehe.

Jadi, kawan udah nge-klik berapa kali? #Eh … ;p

1.6.12

Proses Kelahiran Kucing | Risablogedia


Saya pernah menyaksikan kelahiran bayi kucing. Okey, tidak benar-benar pas kucing itu lahir sih, tapi tepatnya beberapa detik setelah bayi kucing itu keluar dari rahim induknya. Masih belepotan darah. Masih belum bernapas dengan baik. Saya menyaksikan si induk kucing tampak sibuk dan sangat berupaya keras untuk membersihkan sisa darah sembari berseru, – andai ia bicara bahasa manusia – “C’mon, baby … breath … breath!” Begitu. Kemudian, bernapaslah ia dengan baik. Dan mengeong lemah. Aihh, I’m officially an aunty cat, I guess :D



Setelah itu saya sedikit menyesal, kenapa saya tidak datang tepat sewaktu si bayi kucing keluar dari jalan lahir induknya? Padahal hal itulah yang sangat ingin saya lihat. Menyaksikan kelahiran (berhubung tak mungkin saya menyaksikan diri saya sendiri ketika melahirkan dulu, kan?).

Kemudian kembali saya memerhatikan si induk kucing. Eh, dia masih tampak kesakitan. Tidak teriak-teriak macam saya dulu sih (ini apa sih kok membandingkan manusia dengan kucing!) tapi dari ekspresi wajah kekucingannya (hmmm) beliau (c’mon!) tampak demikian nelangsa. Kayak sakiiittt banget. Matanya nyaris selalu terpejam menahan kepayahan. Saya perhatikan perutnya. Tampaknya masih besar. Wah, masih ada harapan bisa menyaksikan kelahiran nih, pikir saya. Maka saya pun stay di dekatnya sambil tangan siap dengan kamera. Semenit … dua menit … sepuluh menit … lima belas menit … bahkan saya sempat menyodok-nyodok perut si induk kucing dengan jari, kok belum ada tanda-tanda mau melahirkan lagi ya? Tapi saya perhatikan jalan lahirnya beberapa kali masih tampak mengucurkan darah segar. Dan si induk kucing ini sudah sangat gelisah, persis kayak orang sedang kontraksi, bolak-balik cari posisi ke sana kesini tidak ada yang nyaman. Bedanya, tiap kali ada darah mengucur tiap kali itu pula si induk kucing menjilatinya sampai bersih. Itulah makanya jangan heran, ketika kucing melahirkan tempatnya tidak akan kotor karena semua darahnya akan langsung ‘dibereskan’ sang induk itu sendiri.


Setelah hampir setengah jam, akhirnya …. keluar sesuatu dari jalan lahir itu! Warnanya pink dan berkerut-kerut, bukan bayi kucing! Saya terpana sampai lupa merekam. Begitu sadar beberapa detik sesudahnya baru kamera on (saya ingin mengupload videonya tapi kok tidak berhasil ya?). Lalu tak lama kemudian si induk mengangkat kepala dan hap! Ia memakan sesuatu itu! Lalu kriet, kriet, kriet! Ia mengunyahnya! Lalu glek! Ia menelannya! OMG!

Oalah … rupanya plasenta kucing tadi itu! Maka bersamaan dengan itu terlepaslah saluran penghubung antara si bayi kucing dengan plasentanya. No scissor, no knife, just some sharp teeth!

Berhubung saya pernah menyaksikan tayangan yang menjelaskan bahwa plasenta kucing memang akan dimakan oleh sang induk dengan tujuan menumbuhkan ikatan kasih si induk terhadap anaknya, begitu kata penelitian, maka saya tidak terlalu heran dengan perilaku si kucing. Cuma kaget saja tadi … ooohhh rupanya itu toh plasenta, maklum selama ini tak pernah lihat plasenta sih hehehe.

Saya masih berharap akan melihat kelahiran bayi kucing lagi setelah keluarnya plasenta itu. Tapi sepertinya harapan saya tidak terkabul. Karena setelah itu, si induk kucing bangun dan pergi mencari air minum. Yaaahhh …. Pertunjukan telah berakhir rupanya. Tapi tak apalah … saya sudah cukup puas bisa menyaksikan sendiri momen langka seperti itu  dan membagi kisah ini dengan kawan semua.

Oh iya, satu hal lagi yang saya saksikan dari momen berharga saat itu adalah tentang IMD, Inisiasi Menyusui Dini. Pada bayi kucing hal tersebut berlaku pula. Ketika si bayi kucing masih dalam proses dibersihkan oleh sang induk, secara naluri makhluk kecil yang lemah itu sudah langsung mengendus-endus di sekitar tubuh induknya, mencari tempat ASIK, Air Susu Induk Kucing. Dan si induk juga tak berupaya, semisal menggendong si bayi agar segera menemukannya atau semacamnya atau memberinya sufor mungkin #halah, tapi ia dengan ‘tega’ membiarkannya mencari sendiri. Dan akhirnya memang dapat sih … IMD J

Well, subhanallah … betapa Sang Khalik telah menciptakan seluruh makhlukNya lengkap dengan ‘manual book’nya. Sudah include semuanya … hingga naluri kucing pun tercipta sepaket dengan si kucing. Makanya tak pernah ada terdengar RSBK, Rumah Sakit Bersalin Kucing -___-“”

Hanya saja, sayang sungguh sayang, cerita ini tak berakhir bahagia. Karena ketika sore hari menjelang, beberapa jam setelah si bayi kucing lahir, datanglah seekor kucing jantan. Tadinya saya pikir bapak si bayi kucing yang hendak datang menjenguk. Yah terserah lah, pikir saya. Saya juga tak ingin terlalu memikirkan kucing-kucing itu karena si induk kucing sebenarnya juga bukan kucing adopsi resmi saya. Ia hanya seekor kucing penghuni halaman belakang saya saja. Jadi saya membiarkan saja ketiga kucing itu bertemu.
So sweet … baru saja saya berpikir seperti itu ketika tiba-tiba saya mendengar si induk kucing menggeram-geram marah. Lalu saya buru-buru ke halaman belakang untuk mengecek. Dan kawan tahu apa, si bayi kucing lenyap! Dan si kucing jantan ngacir pergi. Hingga saat saya menulis postingan ini tidak pernah lagi ada tanda-tanda keberadaan si bayi kucing itu. Entahlah apa yang sebenarnya terjadi, hanya Tuhan dan kucing-kucing itu yang tahu….