24.4.12

Ki Hujan | Risablogedia


Aurum menapakkan selangkah kakinya di trotoar batu paving berlumut tipis. Pertama kalinya sejak sepuluh tahun yang lalu.
“Selamat datang kembali, wanita ayu berkerudung ungu!” suara syahdu Ki Hujan terdengar menyapa dari kejauhan. “Sekian lama aku tak melihatmu, masihkah kau mengingatku?”
Aurum mengedarkan pandangannya ke rerimbunan dedaunan yang saling tumpang tindih membentuk kanopi. Ia menghirup aroma udara pagi. Bias senyum terpampang di wajahnya. Kilas kenangan datang dan pergi memenuhi ruang pikirnya. Sepuluh tahun lalu hampir tiap pagi ia bergegas melintasi trotoar kampus ini. Melangkahkan kaki lebar-lebar membelah udara dingin yang berebutan menerpa pipi. Membuatnya bersemu merah, segar.
“Sssrrtttt …. Ssrrrttt … Sssrrttt …,” terdengar suara mesin pemotong beberapa jarak dari Aurum. Bau rumput segar yang tergilas bilah besi serentak menguar. Wangi. Aurum menajamkan penciumannya, menikmati aroma yang sangat disukainya sejak sepuluh tahun lalu. Yang seringkali dengan setia menemani derap langkahnya mengejar mata kuliah pertama.
“Duhai, wanita ayu berhati lembut. Tidakkah kau dengar nyanyianku menyambut?” Ki Hujan kembali menyapa tak putus asa.
Aurum masih melayangkan pandang ke arah kanopi alam. Mata hitamnya mencari-cari sesuatu.
“Ahh, kalian masih juga setia berdiri di tempat masing-masing. Memayungi semangat muda yang haus ilmu. Menaungi idealisme seantero civitas akademika di sini, menyejukkan. Tapi di manakah ia?” suara jernih Aurum terdengar mengalir.
Aurum berjalan semakin dalam mengikuti trotoar batu paving berlumut tipis di sepanjang pintu gerbang kampus. Lalu tiba-tiba ia memekik perlahan, “Aha! Kau di sana rupanya!”
Aurum sontak setengah berlari. Udara dingin pagi lembut membelai pipinya mengiringi langkah ringannya menuju sebuah titik. Lalu ia berhenti. Napasnya terengah namun di wajahnya terbit sebuah senyum lebar sembari berseru, “Ki Hujan!”
Danau Unhas, 22 April 2012


 Ki Hujan : (samanea saman) salah satu jenis pohon peneduh

13 komentar:

  1. Kayaknya kalau disini, yang disebut Ki Hujan bukan pohon seperti itu. Apa karena beda daerah ya, jadi beda penyebutannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau yang saya tampilkan di foto mungkin saja memang bukan ki hujan, mbak :))

      Hapus
  2. Ki Hujan ? Pasti suka hujan2 atau pernah kursus pawang hujan ya nduk.
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. ha ha pakdhe bisa aja. tapi emang nama pohonnya gitu lho, dhe :)

      Hapus
  3. bagus cerita yang berjudul Ki Hujan ini.... hmmm... saya suka membacanya mbak.....

    "Ki Hujan....!"

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah kalo ada yang suka :D

      Hapus
  4. Nama pohonnya Ki Hujan? pasti sering dipke orang buat ngiyup kala hujan.. #ngawur#

    Oya, ikutan kontes saya ya Risa.. poto sembarang boleh kok :)
    http://ceritayuni.blogdetik.com/2012/04/21/bloggerkartinian-potret-kartini-masa-kini/

    eh saya koment pke akun gmail ya, soalnya gak ada pilihan buat blogdetik..

    BalasHapus
    Balasan
    1. insha alloh ntar saya coba ikut deh, yuni :)

      Hapus
  5. Sering liat pohon itu di Unhas kakak.... ^^
    Dekat Meskam... :)
    D manaki tinggal kak??

    BalasHapus
    Balasan
    1. yep! memang yang itu pohonnya ...
      tapi kurang tahu saya apakah itu ki hujan juga atau bukan?
      (kalau fitrah bersedia tolong di cek-kan dong pohon apakah gerangan)
      kalau ki hujan yang saya lihat ada di sekitar parkiran rektorat :D

      Hapus
    2. Insya Allah kak... tapi sudah jarang ke Unhas ;)

      Hapus