8.4.12

Bira Beach : Memburu Keindahan 200 km dari Makassar

Tergoda oleh unggahan foto beberapa orang sahabat melalui salah satu jejaring sosial ketika menikmati pantai Bira, Bulukumba – Sulsel, membuat saya dan keluarga pun akhirnya memutuskan mengisi liburan lebaran tahun lalu untuk menyaksikan dan membuktikan sendiri keindahan yang mereka publikasikan itu. Membayangkan jarak kurang lebih 200 km yang harus ditempuh dari kota Makassar, dengan kondisi jalanan yang menurut laporan mereka ketika itu, ada yang mulus dan ada pula yang masih dalam perbaikan, maka saya dan suami memutuskan untuk tidak mengajak siapa-siapa lagi dalam melakukan perjalanan kali ini, hanya kami berempat : saya, suami dan anak-anak. Bukan kenapa-kenapa namun dengan menggunakan mobil Terios maka empat orang penumpang tampaknya sudah sangat pas. Suami di belakang kemudi dan saya di sebelahnya bertindak sebagai semacam navigatornya. Sementara si sulung di kursi tengah dan si kecil di belakang, masing-masing berhak menguasai sederet kursi tersebut dengan tujuan agar selama perjalanan mereka bisa tidur sambil leluasa berbaring agar fisik tidak terlalu lelah. Saya tidak ingin liburan di pantai Bira nantinya berubah judul menjadi pegal-pegal hanya gara-gara kecapaian selama perjalanan.

Perjalanan menuju pantai Bira, Bulukumba, yang terletak sekitar 200 km dari kota Makassar itu, berarti kami akan melalui beberapa kota kabupaten sebelumnya. Di antaranya adalah Gowa, Takalar, Jeneponto dan Bantaeng. Seumur saya menetap di Makassar rute jalur atas terjauh yang pernah saya kunjungi adalah kabupaten Takalar. Maka dari itu saya cukup bersemangat dalam perjalanan kali ini, mengunjungi daerah-daerah yang benar-benar baru dan asing.

Melewati Takalar, kami disuguhi dengan pemandangan jajaran kebun semangka di hampir sepanjang sisi jalan utama. Kemudian memasuki kabupaten Jeneponto yang terkenal dengan daerah kering, dan ternyata memang benar-benar kering sampai-sampai saya sempat terpikirkan darimana penduduk lokal di sini memperoleh sumber air? Alih-alih lahan yang hijau justru tambak garam yang banyak menghiasi tepi jalur utama kendaraan. Sangat menarik.

Lepas dari Jeneponto, kami tiba di kabupaten Bantaeng. Ada satu hal mencolok yang segera tertangkap mata begitu tiba di kabupaten yang sejuk dan asri ini. Adalah rambu-rambu lalu lintas religius semacam ‘riba itu haram’ menyemarakkan tepian jalan protokol sepanjang kota kecil tersebut. Sangat khas dan menentramkan. Dan satu hal yang cukup mengagumkan yang saya saksikan ketika itu adalah Bantaeng merupakan satu-satunya kabupaten yang saya lewati yang paling sibuk membangun. Di beberapa titik sedang dilakukan perbaikan jalan dan jembatan, padahal secara umum jalanan di sana tidak ada masalah. Dan rupanya mereka sangat terstruktur melakukan pekerjaan itu, terbukti dengan pada setiap titik pembangunan ada dua orang petugas khusus yang disiapkan untuk mengatur lalu lintas melalui jembatan yang sedang direnovasi. Agar kendaraan bergantian lewat dan tidak perlu terjadi kemacetan. Jujur saja, saya benar-benar terpesona dan salut dengan kota yang satu ini.

Setelah kota Bantaeng, kini sampailah kami di Bulukumba, kabupaten tempat pantai Bira berada. Masih sekitar 40 km untuk menuju ke hamparan pasir putih yang sejak tadi sudah menari-nari di benak kami. Masih cukup jauh, namun dibandingkan dengan ratusan kilometer yang telah kami lalui rasanya itu bukan menjadi masalah. Mengabaikan jalan raya yang agak ‘keriting’, persis seperti yang digambarkan oleh sahabat-sahabat saya yang telah lebih dahulu mengunjungi pantai Bira, kami lebih memilih untuk fokus dengan bayangan keindahan panorama yang akan kami dapati di pantai Bira alih-alih memikirkan hal-hal selain itu.

Setelah berkendara selama kurang lebih lima jam, akhirnya sampailah kami di sana, pantai Bira yang terkenal itu. Salah satu primadona pariwisata Sulawesi Selatan yang namanya cukup tenar hingga ke mancanegara. Begitu tiba di sana kami pun langsung menuju ke Amatoa Resort yang memang telah kami pesan sebelumnya. Sebuah resort yang benar-benar tertata apik dengan letak yang sangat strategis, di atas tebing karang. Sang pemilik resort rupanya benar-benar totalitas menggarap tempat tetirah ini. Dengan target utama pengunjung wisatawan asing! Pantas saja standar yang ia berlakukan pun adalah standar internasional, kontras dengan penginapan-penginapan lain yang bertebaran di sekitarnya. Sebuah catatan yang sungguh menohok hati bagi saya pribadi.

tanjung bira tampak dari Amatoa Resort

idem

Setelah melepas penat sejenak di kamar, tanpa membuang waktu kami langsung bergegas berjalan kaki menuju pantai Bira. Saat itu hari telah sore, waktu yang sempurna untuk mengejar suasana mentari lindap di ufuk barat. Anak-anak semakin tak mampu lagi menyembunyikan semangat liburan mereka. Mereka menyusuri sepanjang jalanan berkarang sembari tak henti-hentinya berceloteh.
bintang pantai Bira

pasir putih itu... adalah tugas kita untuk menjaga selalu kebersihannya
Dan akhirnya, untuk pertama kalinya, saya menapakkan kaki di pasir putih sehalus tepung, The Bira Beach! Subhanallah, rupanya pantai ini memang sungguh indah. Pantas saja selalu menjadi buah bibir hingga mancanegara. Meski sinar mentari telah meredup condong ke barat namun tetap saja masih sanggup memantulkan putihnya hamparan pasir pantai nan luas ini, menyilaukan. Tanpa kacamata-matahari maka bersiaplah untuk selalu memicingkan mata.

sunset

ramai wisatawan mengisi senja yang cerah di Bira

ini bukan ritual pemujaan atau sejenisnya,
hanya para pemuda yang sedang berdendang bersama menikmati senja :)

well, sepertinya butuh banyak penataan yang lebih apik, ya?

salah satu sudut pandang lain dari Bira

Jika kesan pertama adalah tentang suasana senja di pantai Bira, maka menginjak hari berikutnya tema liburan adalah tentang pasir, pasir dan pasir. Sejak pagi-pagi sekali, kami berempat sudah meninggalkan kamar untuk segera menjejakkan kaki di atas hamparan pasir putih. Bermain ombak, membangun istana pasir, menumpulkan pecahan karang hingga foto-foto menjadi kesibukan kami hingga menjelang siang. Menghabiskan waktu di tempat seindah itu benar-benar membuat jarum jam terasa lebih cepat berputar. Tiba-tiba saja tengah hari menjelang dan kami sekeluarga harus segera berkemas untuk kembali pulang ke Makassar.

aneka souvenir khas yang bayak dicari pengunjung

last moment...
Aneka souvenir dan beberapa lembar pakaian basah teronggok di bagasi belakang mobil berbagi ruang bersama kami menapaki 200 kilometer kembali menuju ke Makassar. Tentunya dengan tambahan sejuta kenangan indah tentang Bira yang memenuhi folder memori kami berempat. Menanti untuk kembali ditapaki suatu hari nanti.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Konten Blog Bertema : "Strategi Pengembangan dan Promosi Wisata Sulawesi Selatan"

21 komentar:

  1. Wow!

    What a wonderful Bira..

    kapan ya bisa menjejakkan kaki di sana??

    BalasHapus
  2. asyik banget bisa langsung pergi ke pantai bira ya, kalau ditempatku jauh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, mbak ... alhamdulillah :)

      Hapus
  3. MasyaAllah.. Mba Risa bikin iriiii >,<

    Bira is beautiful beach.. WONDERFUL!

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan iriiii xixixi
      sana pada kopdaran di bira
      *_*

      Hapus
  4. Warna pasirnya bagus banget yak @_@
    Semoga menanggg~

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin ... makasih mba una ^_*

      Hapus
  5. suka deh lihat pasir putih begitu mbak...

    BalasHapus
  6. Salam kenal dari Lampung, Mbak. Wah aku suka pasirnya. Moga" ada kesempatan main ke Makassar. Beberapa waktu lalu sempat merantau ke Manado, maunya si main" ke Makassar, tapi belum ada kesempatan hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin ... semoga ya ^^
      salam kenal kembali, mbak heni

      Hapus
  7. keren eyyy pantainya

    BalasHapus
  8. sebuah postingan yang sangat bagus; bisa jadi panduan wisata bila suatu saat ke sana (sungguh, jadi kepengen ke sana neh...), juga foto2nya bagus2. Semoga sukses ikutan lombanya ya, Mbak Marisa Agustina.

    BalasHapus
    Balasan
    1. insha alloh suatu saat nanti mas azzet sampe di bira deh :)

      makasih doanya ^^

      Hapus
  9. Makassar sebuah kota yang layak dikunjungi, semoga suatu saat aku bisa ke kotamu ya Mbak ^^

    Gudlak lombanya...

    BalasHapus
  10. apa disini bira bisa tempat cari istri n berwisata juga moga2 aq bisa menggunjunginya kelak

    BalasHapus
    Balasan
    1. cari istri di bira? -_-"
      yang ada pasir ;p

      Hapus
  11. apa disini bira bisa tempat cari istri n berwisata juga moga2 aq bisa menggunjunginya kelak

    BalasHapus