Tampilkan postingan dengan label Tentang Mereka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Mereka. Tampilkan semua postingan

4.2.12

Bergizi, kok!

Pagi itu waktu menunjukkan sekitar pukul 07.30 WITA. Saya sedang bersiap-siap mengantar Fatih ke sekolah. Sembari mengisi waktu menunggu saya dengan cara menonton kartun di tivi, Fatih yang sudah siap dengan seragamnya tiba-tiba nyeletuk ketika jeda iklan ditayangkan, “Ummi aku mau makan mie gelas.”
Wajahnya senyum-senyum jail karena ia tahu persis apa yang akan menjadi jawaban saya.
“Nggak boleh!” jawabku sambil menciptakan ekpresi tegas-jenaka-seperti marah.
Ia pun tertawa lalu berkata, “Bergizi kok, Mi,” katanya sambil menunjuk iklan di tivi yang memang menyebutkan kata ‘bergizi’ dalam tayangannya.
Saya sempat melongo lalu terbahak dalam hati, ha ha ha, pinteran kamu, Nak ngelesnya.
“Ahh, iklan kan belum tentu benar, Nak,” ujarku menutup percakapan.

Gizi apaan?

29.1.12

My Baby Has Grown Up

Pagi ini kaka Taris dan ade Fatih sedang sibuk menggambar dan mewarnai. Tiba-tiba saja ade Fatih nyeletuk ke kaka Taris,”Kaka, sembarang mo gambarnya nanti ummi bilang bagus ji!” Yang dalam bahasa Indonesia artinya adalah apapun gambar yang mereka hasilkan pasti saya akan bilang bagus…

-_-“

Suer, manyun saya dengernya… ;p

Oalah… sampai sejauh ini saya memang masih selalu mengapresiasi karya-karya ade Fatih dengan kata ‘bagus’ atau kata-kata positif lainnya bagaimanapun bentuk karyanya. Maksud saya adalah untuk menyuntikkan semangat positif. Ternyata, siapa sangka my baby has grown up … sudah ‘dewasa’ ternyata pemikiranmu ya, Nak. Baiklah mulai saat ini siap-siaplah menerima kritik dan saran atas semua karya-karyamu.

:D

22.12.11

Selamat Hari Ibu bag.2

Menyambung postingan saya sebelumnya, Selamat Hari Ibu, ada sedikit lanjutan cerita bersama mama saya ketika sore harinya kami mengobrol via telepon.
Mama : “Ris, tadi pagi kan kamu sms hari ibu itu ya, nah siangnya Dewi (my sister in law) sama Jaki (adik saya) juga nelpon bilang selamat hari ibu. Memangnya hari ibu itu apa sih, piye ceritane?”
Saya  : (melongo lalu terbahak) “Ha ha ha, iya Ma lagi tren.”
He he he ternyata ketulusan ibu tak perlu diperingati hari khusus, ibu-ibu jadul sudah membuktikannya. Happy Mommy’s Day ^_^

Selamat Hari Ibu

SELAMAT HARI IBU. Tema yang paling ngetop hari ini di hampir semua media sosial. Saya sendiri ikut-ikutan latah sampai-sampai salah menulis status di akun facebook saya, he he he. Saya lupa cara menangkap layar jadi saya copy saja page url-nya ^_^ http://www.facebook.com/profile.php?id=100000415078514. Saya sebut ikut-ikutan latah karena secara pribadi terus terang saya kurang memiliki ikatan emosional dengan hari ibu-hari ibu-an seperti ini. Bukannya skeptis, hanya saja selalu terlintas tanya di hati mengapa sih ada hari ibu segala? Perlukah? Toh tak ada bedanya juga rasanya berdasarkan pengalaman satu dekade saya menjadi ibu ;p. Bagi saya dengan atau tanpa hari ibu tidak akan menggeser kemuliaan posisi ibu. Justru takutnya ada hari ibu malah akan menjadi bumerang. Nanti anak-anak mengira hanya ada waktu satu hari untuk mengistimewakan ibu. Ah, konyol.. mana ada anak seperti itu ya? ;p
Tapi meskipun saya mengaku bukan fans fanatik dari peringatan hari ibu ini, mau tidak mau saya harus mengakui bahwa tren hari ibu sangat familiar untuk anak-anak jaman sekarang. Entah apa yang ada di pikiran mereka tapi contohnya saja anak-anak saya, pagi ini mereka memberikan kejutan hari ibu untukku. Ketika saya sedang mengepel teras depan rumah, mereka diam-diam menempelkan kartu-kartu ucapan selamat hari ibu buatan mereka sendiri di pintu kulkas. Tentu saja saya kaget, terharu malah, hampir saja menangis. Kapan mereka membuatnya kok bisa saya tidak tahu? Ternyata kecil-kecil anak-anak saya sudah pandai melakukan persekongkolan yang sangat manis.


***
Ibu saya pagi ini saya kirimi SMS ucapan selamat hari ibu. Ehhh beliau malah tertawa terbahak-bahak. Saya jadi malu, bukan era ibu saya ternyata tren hari ibu ini hi hi hi. 

13.12.11

Pantul Sinar

Narator
(Pada suatu siang Ummi sedang asyik mengetik sedangkan Fatih menonton channel favoritnya, Jim Jam)

Fatih : “Ummi, tolong carikan senter dong!”
Ummi : (masih tetap mengetik) “Aduh nak cari sendiri dulu kah, Ummi lagi repot ini. Seharusnya kan ada di laci paling atas toh.”
Fatih : “Nggak ada.”
Ummi : (Ummi menghentikan ketikan lalu beranjak ke laci dan mencari senter. Ternyata ada di laci kedua) “Ini senternya, buat apakah?”
Fatih : (menyalakan senter) “Ihh kenapa tidak mantul?” (Fatih mengarahkan sinar senter ke cermin bedak ummi yang sedari tadi sudah dia pegang terlebih dulu)
Ummi : “Oh, Fatih mau memantulkan sinar ya? Coba lihatnya di tempat yang lebih gelap, arahkan ke tembok.”
Fatih : (melakukan instruksi ummi) “Iya, mantul ya.” (mukanya berseri-seri)
Ummi : “Fatih dapat ide darimana kah itu tadi?”
Fatih : (sambil menunjuk televisi) “Tuuh, Anthony Ant …”

Narator
(Andai saja tontonannya sinetron kira-kira apa yang akan ditiru ya? Fiuuffhh, untung saja…)

11.12.11

Jenis Kelamin Lainnya?

Narator
(Gara-gara Ummi rajin nge-blog belakangan ini, kaka Taris jadi tertarik dan minta diajari cara membuat blog juga)

Ummi: “Kamu harus buat email dulu, nak. Ayo masuk ke gmail dulu.”
Taris  : (mengetik www.gmail.com) “Sudah, Mi. Ini diisi ya?”
Ummi : ”Iya, kamu isi sudah..”
Taris   : “Mi, ini jenis kelamin diisi apa kok ada lainnya?”


Ummi : (bingung, memperhatikan poin yang ditunjukkan Taris) “Oalah iya ya, perasaan dulu-dulu jenis kelamin pilihannya cuma wanita/pria sekarang ada pilihan lainnya ya?”
Taris : “Apa mi itu lainnya???”

Narator
(Jaman ueedaaann!!!)

5.12.11

Adik-adikku si Jawa Beta

Kurang lebih seminggu yang lalu, adik perempuan saya, si bungsu, meminta saya membuat tulisan tentang masa kecil dia berdasarkan arsip memori saya. Kata dia, rasanya saya jadi orang kok tiba-tiba besar aja, gimana sih saya waktu kecil dalam memori seorang kakak?

Terus terang saya agak bingung karena ketika saya berusaha menggali memori saya tentang masa kecil dia, kok sedikit sekali yang saya dapat ya? Akhirnya saya menemui mama saya dan menanyakan bagaimanakah ketika  saya dan adik-adik masih kecil, apakah kami akrab, sering bermain bersama, sering bertengkar atau bagaimana? Ternyata mama saya menjawab, yaaah lebih sering mainnya asyik masing-masing, sendiri-sendiri. Waduh! Pantas saja arsip memori saya sedikit, ternyata memang kurang interaksi.

Saya dengan adik saya nomer dua, berselisih umur sekitar 4 tahun. Sedangkan dengan adik bungsu saya 9 tahun. Lumayan kan? Yang jelas memori tentang adik perempuan saya adalah ketika dia bayi dia lucu sekali, manis. Entah seberapa sering saya menggendongnya. Mungkin jarang karena saya pada waktu itu, di usia itu termasuk anak yang lebih senang bermain di luar rumah, keluyuran, macam si bolang-lah kalau sekarang. Salah satu memori yang saya ingat justru saat adik saya sudah bersekolah di TK, saat itu kami berdomisili di Ambon. Saya ingat pernah disuruh mama menjemputnya di sekolah. Itu saja. Parah ya saya :(. Ada sebuah cerita tapi sumbernya dari mama yang mengatakan bahwa adik saya sewaktu kecil hobi sekali makan pakai kecap. Ketika mama belum selesai memasak dan dia minta makan maka dia akan menawarkan makan pakai kecap saja. Baik sekali ya… Oh iya satu lagi memori tentang dia, saat itu kami masih tinggal di Bandung, berarti adik saya ini masih balita, mama pernah menangis gara-gara adik saya sakit kemudian hampir disuruh dirawat di rumah sakit. Tapi untung saja tidak jadi. Duh, tetap saja, benar-benar parah ya saya :(.

2.12.11

Taris dan Ritual Pengantar Tidur

Sudah menjadi kebiasaan saya dan Taris, setiap malam sebelum tidur, untuk melakukan sebuah ritual khusus pengantar tidur. Dimulai dengan suten (apa sih bahasa Indonesianya yang baku?). Itu lho adu jari tangan, antara  gajah, orang dan semut J. Siapa yang menang suten berhak mengucapkan terlebih dahulu kalimat ritual kami. Lalu dilanjutkan secara bergantian sampai selesai.
“Selamat tidur.”
“Mimpi yang indah.”
“Tidur yang nyenyak.”
“Sampai jumpa besok.”
“Jangan lupa berdoa.”
Lalu kami saling bergantian mencium pipi.
Taris pernah bertanya, sampai kapan kami akan melakukan ritual ini?
Saya sendiri juga tak tahu…

Nama Simbah

Pada suatu pagi entah atas alasan apa bapak saya yang datang berkunjung ke kontrakan saya tiba-tiba bertanya, “Ris, kamu tahu ndak namanya simbah-simbahmu?” Gelagapan saya menjawab, “Aduh siapa ya, saya lupa Pak!” sambil tak terkira malunya saya dan sangat tak enak hati merasa menjadi seorang cucu yang tak tahu diri. “Lho, piye tho moso’ mbah nya sendiri ndak tahu namanya,” kata bapak lagi, pasti kecewa. “Iya e, Pak,” kata saya mati kutu. Baru terasa ternyata saya jauuuuh sekali dengan keluarga besar orangtua saya. Bukan bermaksud mau ngeles atau membela diri, tapi kenyataannya saya memang jauh dari keluarga besar orangtua saya karena orangtua saya adalah perantau.
Bapak saya yang kelahiran Cilacap menikah dengan mama saya yang kelahiran Madura. Saya sendiri lahir di Magelang. Ketika saya berusia sekitar 5 tahun, bapak saya pindah tugas ke Bandung. Nah, masa kecil saya di Bandung ini membuat saya jauh dari keluarga besar orangtua. Bertemu dengan simbah putri dan simbah kakung baik dari bapak ataupun mama paling hanya satu tahun sekali, kalau diajak mudik ketika liburan sekolah. Itupun hanya sehari dua hari. Jadi ya begitulah, seperti orang asing … Dan orangtua saya (sependek ingatan saya) juga jarang bercerita tentang mereka ditambah saya sendiri juga jarang bertanya-tanya secara detil tentang keluarga besar.
Kemudian setelah dari Bandung bapak saya berkelana semakin ke timur Indonesia menyinggahi Ambon hingga akhirnya pensiun di Makassar, tentunya kami selalu diboyongnya kemana-mana. Sejak terpisah pulau dengan keluarga besar hampir dikata tak pernah saya diajak pulang kampung. Tak pernah pula ada obrolan intens tentang keluarga besar nun jauh disana. Pun sekedar untuk membahas dan memastikan ingatan saya akan nama-nama mereka. Sekali lagi saya pun tak pernah bertanya dan lebih serius mengingat. Klop sudah. Lalu akhirnya saya menikah, beranak pinak, tak pernah juga menyeberang pulau untuk mengunjungi kampung halaman. Maka semakin jauhlah dari keluarga besar pihak orangtua saya. Almost completely stranger.
Soal nama-nama mereka, sebenarnya bukan saya sama sekali tidak tahu, tapi sialnya saya susah sekali mengingatnya (mengingat sejarahnya seperti cerita saya diatas). Dan siapa sangka tiba-tiba bapak saya menanyakannya pagi itu. Padahal tiga dari mereka sudah tiada. (al faatihah). Dan saya pun tidak akan menyangkal jika ada yang menilai saya bukanlah cucu yang baik karena kenyataannya saya benar-benar merasa keterlaluan sebagai seorang cucu. Maafkan saya simbah karena melupakan nama-nama kalian. Insya Allah saya akan mengambil hikmahnya dengan memastikan anak-anak saya mengenal baik eyang-eyang dan nenek-kakek mereka, meskipun mungkin suatu saat nanti bisa saja kami tinggal berjauhan J
***
Terlepas dari rasa kecewanya padaku, pasti, bapak saya melanjutkan percakapan dengan memberitahukan nama-nama simbahku. “Kalau simbah dari bapak, namanya Syamsuwardjo dan Sakinah. Kalau dari mama namanya Abdul Manan dan Siti Hasanah.” Diam-diam saya simpan di note di handphone nama-nama berharga itu. Takut lupa lagi. Sekalian saya buat catatan ini agar adik-adik saya pun bisa membacanya karena kemungkinan besar mereka pun lupa :))

1.12.11

Taris dan HME

Kemarin siang sepulang dari mengikuti kompetisi Fisika tingkat Sekolah Dasar, babak semifinal, Taris bercerita kepada saya,
Taris  : “Ummi, saya tidak lolos ke final tadi. Soal essay-nya banyak yang saya tidak tahu.”
Saya  : “Iya tak apalah, lain kali lebih giat dan fokus belajarnya. Kemarin itu kan bimbingannya sains umum tidak diarahkan ke materi fisika saja jadinya banyak yang terlewat.”
Taris : “Iya sih. Eh iya Ummi tahu apa itu HIMAFI?” (maksud Taris soal penyelenggara acara yaitu HIMAFI UNM Makassar)
Saya  : “Apa ya? (mengingat-ingat) “Oh iya Himpunan Mahasiswa Fisika!”
Taris : ”Iya betul… Kok Ummi tahu?”
Saya : “Ya tahulah, singkatan organisasinya anak kuliahan kan begitu-begitu saja supaya mudah diingat.”
Taris : “Kalau Ummi dulu waktu kuliah apa namanya?”
Saya : “HME, Himpunan Mahasiswa Elektro.”
Taris : (sambil terperangah dan takjub) “Ummi kuliah di elektro???”
Saya : “Lho iya kan?” (karena perasaan saya sudah pernah memberitahu Taris jurusan kuliah saya)
Taris : “Ihhh, kenapa Ummi tidak tahu apa-apa?” (maksud Taris adalah dibandingkan dengan ayahnya yang sampai sekarang bila ditanya macam-macam khususnya terkait dengan fisika dan matematika jauh lebih tahu dibanding saya)
Saya : (tertawa sambil membatin, kamu tak tahu ya nak sudah untung Ummi bisa lulus dari Elektro karena jujur saja Ummi memang tak terlalu paham) “Yaaa mungkin karena sudah terlalu lama lulusnya, nak.” (berkelit)
:D

30.11.11

Tragedi Daun Singkong

Tragedi Bayam
Pada suatu hari, Annisa, adik saya, seorang mahasiswi co-as FKG Unpad, menelepon mamanya (yaitu mama saya juga).
Annisa : ”Ma, kenapa ya saya tadi masak sayur bayam kok lama sekali empuknya?”
Mama  : (keheranan) “Hah? Bayam apa kamu masak tho? Wong kalo bayam itu dimasukkan ke air panas saja langsung layu? Jangan-jangan kamu salah?”
Annisa : “Masa’ sih? Bayam itu yang  daunnya kayak telapak tangan!”
Mama  : “Oalah, itu daun singkong!”

Tragedi Kangkung
Pada suatu hari Dewi, adik (ipar) saya, seorang marketing di Daihatsu Astra, berbelanja di swalayan dengan mama (mertua)nya (yaitu mama saya juga).
Mama : “Mau masak apa tho, Wi?”
Dewi : “Mau masak kangkung aja, Ma.”
Dewi beranjak menuju ‘kangkung’ lalu asyik memilih-milih.
Mama : “Wi, katanya mau masak kangkung?”
Dewi  : “Iya, Ma ini pilih-pilih dulu.”
Mama : “Lho, itu kan daun singkong, yang ini kangkung.”
Dewi  : (cekikikan geli sendiri)

Kok bisa dua kejadian di tempat dan waktu yang berbeda sama-sama melibatkan daun singkong ya? By the way, buat adik-adikku yang cantik cantik ayooo belajar lagi mengenali aneka dedaunan. Ha ha ha…

29.11.11

Tentang Fatih

Fatih adalah anak lelaki saya. Nama lengkapnya adalah Yusuf Fatih Al-Amin. Usianya sekarang 5 tahun, bersekolah di TK Al-Ashri. Tak sama dengan sang kakak (bukan dalam makna negatif), Fatih memiliki kisah yang berbeda untuk didokumentasikan. Mulai dari fisik (iyalah laki-laki) yang cenderung kurus sampai pada minat, banyak berbeda. Dari sisi parenting, mereka berdua benar-benar mengharuskan saya untuk selalu belajar menjadi orangtua. Bagaimana tidak, saya kira mengasuh Fatih tak akan jauh berbeda dengan kakaknya. Ternyata perkiraan saya meleset, semua pola pengasuhan Taris tak bisa saya terapkan kepada Fatih. Benar-benar harus selalu belajar ternyata hidup ini J.

Contoh kecil saja, siapa sangka pada hari pertama masuk sekolah Fatih menangis. Kalau istilah psikologi dia ternyata termasuk anak phobia sekolah, tak gampang percaya untuk memasuki lingkungan baru tanpa saya. Mana pernah saya mengalami ini dengan Taris, dia bahkan bukan diantar saya sewaktu hari pertama sekolah karena waktu itu saya sibuk mengurusi bayi Fatih di rumah. But, I’m glad it’s over, mungkin suatu waktu saya akan buat catatan khusus mengenai ini J.

Perbedaan lain yang cukup menonjol antara Taris dan Fatih adalah soal minat. Jika sedari kecil Taris mudah sekali untuk diajari balistung, Fatih berada di jalur santai-santai saja dalam proses ini. Sampai saat ini pun dia masih tertatih-tatih untuk urusan yang tiga ini (bukannya tak bisa tapi itu tadi, santai). Tapi jangan ditanya kalo soal gambar-menggambar. Dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali, entah berapa banyak sketsa bisa dia hasilkan. Saya sampai bingung mau mengkoleksi semua sketsanya yang sudah beratus-ratus lembar itu bagaimana caranya? Kadang juga pusing kalo dia sudah membuat rumah berantakan dengan kertas-kertas berisi sketsanya. Belum lagi kalau dia bosan dengan kertas dia merambah dinding rumah (kontrakan! Arrggh), lantai (ini sih mudah dipel) bahkan hingga sprei tempat tidurnya! Huufft. Entah nantinya akan mengarah kemana minatnya ini, saya akan terus memantau perkembangannya. Kita lihat saja nanti…

Tentang Taris

Taris adalah anak pertama saya. Perempuan. Nama lengkapnya Taris Zahratul Afifah. Umurnya sekarang 10 tahun. Bersekolah di SDP Al-Ashri, kelas 5. Tak banyak yang bisa saya kisahkan tentang masa kecil Taris karena sebagian besar sudah terlupa. Sayang sekali pada waktu itu yang namanya blogging dan social media belum semudah saat ini dan saya juga tak pernah mengabadikan segala cerita tentang Taris dalam bentuk tulisan, hanya mengandalkan memori, sehingga banyak terlupa. Yang jelas, Taris waktu bayi hingga balita, montok tok tokk, seng ada lawan kata orang Ambon, lucu J. Selain lucu, dia juga cerdas. Usia prasekolah dia dengan mudah diajari membaca, menulis dan berhitung sehingga ketika masuk TK dia selalu beberapa langkah di depan teman-temannya. Oh iya satu hal yang menonjol dari Taris juga adalah dia kuat sekali hapalannya. Dengan mudah dia bisa menghapalkan surat-surat pendek Al-Quran yang bahkan saya sendiri pun tidak hapal. Selain itu dia juga kritis terhadap segala hal, juga suka banyak tanya dan ceriwis. Saya ingat kalau kami mengadakan perjalanan maka dia tidak akan berhenti bicara apa saja hingga tiba di tempat tujuan. Sekali lagi sungguh saya menyesal tidak pernah mengabadikan segala celotehnya segala tanyanya segala masa kecilnya hingga akhirnya missed seperti ini L.

Anyway, sekarang dia sudah besar, hampir remaja. Masih cerdas, masih ceriwis cuman sudah tidak lucu lagi, tapi cantik. Dan sudah tidak terlalu montok hehehe. Mulai sekarang saya akan selalu berusaha meluangkan waktu untuk mengabadikan segala kisah tentangnya dalam tulisan, agar tidak missed lagi seperti dulu. Karena ternyata memori ini tak bisa diandalkan…

28.11.11

Luar Hati

Suatu malam menjelang waktu tidur tiba. Kaka Taris membawa sebuah buku cerita dan menuju ke tempat tidur ade Fatih.
Kaka Taris : “Mau baca buku ini dulu deh.”
Ade Fatih : “Bacakan, Kaka. Tapi di luar hati ya, saya mau dengar!”
Ummi (membatin) : (bener juga ya, baca dalam hati kan lawan katanya baca luar hati)
:))