17.4.12

Karakter Pribadi, Karakter Lingkungan, Lebih Kuat Mana Pengaruhnya?

Ilustrasi :
Pada suatu sore di TPA sebuah masjid, seorang ibu sedang menunggui putranya mengaji. Kebetulan pada saat  itu ada salah satu santri membawa bola dan memainkannya di dalam masjid. Sang ibu kesal melihat tingkah anak itu yang cukup mengganggu anak-anak lain, tapi beliau diam saja. Siapa sangka putra sang ibu ini rupanya juga tidak suka melihat tingkah kawannya ini. Jadi ketika selesai mengaji, sang putra menghampiri ibunya dan berkata, “Mami, kenapa si ‘dia’ (sebut saja begitu) main bola di masjid, kan tidak baik itu! Bodoh, *nj*ng!” tukasnya kesal. Bisa dibayangkan dong reaksi sang ibu, shock mendengar kata-kata anaknya! Segera beliau mengoreksi pilihan kata-kata sang anak sembari berulang kali beristighfar dan tak habis berpikir, di mana buah hatinya mendengar lalu meniru kata-kata seperti itu?
(ilustrasi barusan benar-benar terjadi, sekadar bahan renungan untuk kita semua)

Kawan pernah punya pengalaman seperti itu? Kecolongan. Sebagai orang tua kita sudah setengah mati berupaya membekali anak dengan pendidikan karakter pribadi yang baik. Memilihkan tempat tinggal yang baik, memilihkan sekolah yang baik, memilihkan aktifitas eskul yang baik, melarang nonton tivi, game dan semacamnya, menyeleksi dengan siapa mereka bergaul, tapi toh kecolongan juga, seperti yang terjadi pada kasus di atas.

Saya hanya ingin berbagi pemikiran, bahwa ternyata pengaruh karakter lingkungan terhadap diri kita efeknya lumayan besar. Karakter pribadi sebaik apa pun yang kita miliki, ketika berbenturan dengan karakter lingkungan, apalagi terus menerus mau tak mau akan terkontaminasi, terpengaruh, sadar atau tidak. Pernah dengar istilah politik WC? Ketika kita berada di luar sebuah WC yang bau, kita akan dengan lantang bersuara ‘WC itu bau, kotor, jangan masuk, dll, dsb’. Tapi begitu kita sekali saja melangkah masuk, lama-lama hidung kita akhirnya malah menyesuaikan, ternyata nyaman-nyaman saja berada di dalam. #Eh, kok jadi ngelantur! Tadi sedang membahas apa sih saya :D

Kita memberlakukan larangan menonton televisi di rumah, namun di sekolah teman-teman anak kita pembicaraannya selalu mengenai tayangan televisi, sinetron, boyband/girlband, dan macam-macamnya. Ya, sama saja akhirnya mereka pun jadi tahu hal-hal yang tadinya kita ingin agar mereka tak (perlu) terlalu tahu dulu. Saya pribadi tidak memberlakukan larangan menonton tivi di rumah. Namun saya berusaha meminimalisir efek buruk televisi dengan cara berlanggangan siaran tivi semacam jim jam dan natgeo, sehingga ketika televisi on, posisi chanel paling ya di situ-situ saja. Jika sesekali beralih ke televisi swasta nasional paling banter untuk siaran berita atau kartun saja atau seperti tempo hari kebetulan menemukan reality show bagus yang akhirnya saya buat reviewnya di sini.

So, alangkah kesalnya saya ketika kebetulan mantengin siaran tivi swasta nasional, saya mendapati sebuah tayangan yang kemungkinan bisa memengaruhi pendidikan karakter yang sudah saya usahakan bagi anak-anak. Adalah sebuah iklan produk susu bayi, N*tr*l*n. Saya menyaksikannya kemarin sore. Tadinya saya ingin berkomentar, ‘iihh bagus banget nih iklannya’, musiknya yang khas bergema mengiringi tampilan anak-anak kecil menggemaskan yang memerankan aneka profesi orang dewasa. Saya masih bersuka hati menyaksikan iklan itu hingga ketika adegannya memperlihatkan dua orang balita lucu saling kiss-kiss-an! Saya terhenyak, lho kok kayak salah satu adegan bella-vampire itu ya! Maksudnya apa? Relevansinya di mana? Akhirnya alih-alih senang saya malah kembali ilfil deh sama siaran-siaran tivi itu. Mudah-mudahan saja besok-besok adegan itu bakalan banyak yang protes sehingga tidak perlu ditampilkan lagi dalam iklan.

Maaf kalau pembahasan saya kali ini tak terkonsep dengan baik … ke sana kemari seperti kata mbak Ayu he he he. Tapi jika kawan mempunyai opini tersendiri untuk menjawab judul postingan saya... silakan dengan senang hati saya akan menyimaknya :)

19 komentar:

  1. betul skali mbak..
    adek saya jga kyak itu..drmh dah dksh tau y baik2 ktika dia brmain dg temannya, kdang dpt pngaruh burukk..oaalah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kakak yang baik ternyata dirimu, YouRha. Great :)

      Hapus
  2. pengaruh lingkungan memang sangat kuat pada anak-anak, sehari-hari di rumah di ajari bersikap, berkata dan melihat tayangan TV secara selektif. Tapi begitu sejam saja bergaul dengan teman-temannya...'menakjubkan' sekali apa yg diperolehnya.

    BalasHapus
  3. Iya ya memang lebih baik memberikan imun pada anak2 kita agar saat mereka terkontaminasi dengan lingkungan yang 'sakit'pun mereka akan baik-baik saja :)

    Tentang iklan produk susu tersebut aku belum pernah nonton Mbak, prihatin, semoga segera distop *lapor ke KPI Mbak ^^

    TFS....

    BalasHapus
    Balasan
    1. TFS, thaks for sharing kan artinya xixixi
      sama-sama, mbak :)

      Hapus
  4. Setuju sama Mbak....
    * Lingkungan memang sangat berpengaruh sama prilaku setiap orang, bahkan saya pernah mendengar kalau kita mau melihat sifat kita, maka lihatlah sifat orang terdekat kita,,,,
    * Iya mbak, belakangan ini banyak sekali program telivisi yang sama sekali tidak mendidik, dan saya paling sansi sama acara lawak, yang terkadang kata- katanya agak nyeleneh.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. makanya saya sekarang jarang nonton lawak yang seperti itu :))

      Hapus
  5. iya tetap harus dalam pengawasan,,,di lingkungan mana berada

    BalasHapus
  6. anak-anak memang gampang sekali menyerap segala sesuatu yang ada di lingkungan nya ya mbak....

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, mbak .. tugas berat ortu untuk mengawasinya

      Hapus
  7. Bersilaturahmi di blog sobat....

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahlan wa sahlan, semoga betah :)

      Hapus
  8. karakter pribadi lebih kuat dari karakter lingkungan,
    karakter pribadi-pun akan tergerus oleh lingkungan jika lingkungan secara terus menerus menempanya dan tak ada bimbingan dari keluarga, Namun Insyaallah bila terjadi korban lingkungan bimbingan keluarga akan mengangkat dari keterpurukan, akan kembali ke karakter yang sebenarnya.. Nice share,,

    wilujeng ngeblog

    BalasHapus
  9. Kalau menurutku lebih kuat karakter lingkungan, karena seorang anak itu cenderung mengkuti apa yang ada di sekitar mereka. Apa yang mereka lihat dan dengar akan cepat mempengaruhi otak mereka yang masih belum bisa memilah mana yang baik dan tidak. Mentahan istilahnya.

    Jadi ingat ponakanku yang masih 4,5 tahun, ngatain bapaknya dengan kata "K**rang Aj*r, akibat ibunya sering nonton sinetron. Jadi ikut-ikutan deh :(

    BalasHapus
  10. ternyata saya tidak sendirian
    karena saya pun terhenyak ketika melihat adegan kiss2an itu.
    adoh, takutnya para ponakan mengira itu sah2 saja dilakukan.
    balik lagi deh ke channel jim jam dan sejenisnya :D

    BalasHapus
  11. sekilas sih bagus iklannya,tapi didalamnya kurang bagus untuk anak2 dan juga mengarahkan ibu2 untuk balitanya mengkonsumsi susu formula,padahal ASI lebih baik.kecuali akalu dalam keadaan yg tidak memungkinkan

    BalasHapus
  12. kalau saya lebih percaya & selalu yakin akan karakter & prinsip pribadi yg akan menjadi pedoman kita dalam mengarungi kerasnya hidup ini

    BalasHapus