2.9.12

Ya dan Tidak Popok Bayi Sekali Pakai


Kawan ada yang sedang punya bayi? Beruntung ya kita-kita yang hidup di era modern seperti sekarang ini. Maksud saya, sungguh tidak terbayang menjadi orangtua sebelum zaman popok bayi sekali pakai. Harus gonta-ganti popok tradisional banyak kali sehari. Belum lagi mencucinya, menjemurnya, melipatnya. Begitu lagi, begitu lagi, setiap hari. Tapi saya yakin para orangtua kala itu tetap enjoy saja mengurus bayinya, ya kita-kita ini, meski perjuangannya lebih berat. Tapi dari sisi kesehatan, popok tradisional itu sebenarnya lebih bagus, lho, katanya. Ah, tapi saya kira tidak juga. Tergantung. Misalnya saja untuk menghindari ruam kulit pada bayi. Katanya ruam pada bayi pengguna popok sekali pakai lebih rentan terjadi, tapi itu bukan berarti pada bayi pengguna popok tradisional tidak akan terjadi. Saya pikir itu sih tergantung pada tingkat kesadaran kebersihan dari masing-masing orangtua. Iya, kan? Iyalah. Soalnya para bayi kan belum bisa apa-apa.

Lain halnya dari sisi financial. Jangan dibantah, popok bayi sekali pakai tentu saja jauh lebih menguras isi ATM! Tapi bila ditanyakan pada para orangtua modern lebih pilih mana soal popok bayi ini, saya yakin sebagian besar akan lebih memilih kerja keras mengisi ATM demi untuk membeli popok bayi sekali pakai. Praktis.

Tapi, meskipun kita memilih untuk menggunakan popok bayi sekali pakai hendaknya kita tetap mengedukasi bayi dalam urusan buang-buang hajat ini. Toilet training tetap harus dilakukan meski bayi memakai popok sekali pakai. Jangan sampai terlena, keenakan dan kebablasan! Bisa-bisa nanti si bayi sudah beranjak balita tapi ia masih mengompol dan pup tidak hanya di kamar mandi. Wah, malah repot kan?

Ada satu hal lagi yang sangat krusial berkenaan dengan popok bayi sekali pakai ini, yaitu tentang perlakuan setelah pakai, cara membuang popok bayi sekali pakai. Buanglah pada tempatnya, tentu saja. Dan yang terpenting adalah : setelah sebelumnya isinya, yang terkategori hajat besar, dibuang dulu di toilet. Maaf sungguh maaf, saya tidak berniat jorok, tapi bayangkanlah si popok sekali pakai yang berisi pup itu tercecer dari gerobak atau truk sampah dan tergeletak di jalanan! Pernah menemukan fenomena seperti itu? Saya sering. Entah sudah berapa kali saya menemukan seonggok popok sekali pakai terkapar tak berdaya di tengah jalan di kompleks tempat saya tinggal. Dan ketika mendapati hal seperti itu saya pun bingung harus bertindak apa. Mau mengamankannya? Terus terang saya tidak sanggup. Duh, lihatnya saja ngeri, bukan ‘properti’ milik saya soalnya. Bagaimana tidak?! Ada kuning-kuning mengintip dari sela-selanya. Hiiii!!!

aku lucu kaan? ^__^

Seperti halnya iklan air mineral dalam botol yang mulai mengedukasi konsumennya untuk merusak kemasan sebelum membuangnya ke tempat sampah, sepertinya sudah seharusnya iklan popok sekali pakai juga mulai melakukannya. Jadi jangan hanya tampilkan bayi mungil menggemaskan yang berlenggok-lenggok mengenakan popok saja, tapi didiklah konsumen mengenai cara terbaik untuk memperlakukannya setelah pemakaian. Demi kebaikan, kesehatan dan keindahan lingkungan kita bersama. Sip?

(note : pesan ini berlaku terkhusus untuk para ladies juga, berkenaan dengan sebuah kebutuhan bulanannya, if you know what I mean ^__*)

16 komentar:

  1. buat para gentlemen gimana..?
    kan aku lagi minta pempes juga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. buat para gentlemen, isiin aja ATMnya penuh2 buat beli diapers :D

      Hapus
  2. horeee aku sudah bebas popok dong:) oh ya kalau siang dulu alvin pakainya clodi (popok yang bisa dicuci). Allhanmdulillah sekarang sudah free popok

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga udah bebas urusan popok, saat ini. entah beberapa tahun ke depan :))

      Hapus
  3. saya pernah beberapa kali mendapati sampah popok terkapar dijalan lengkap dengan isinya yang berhamburan.....mengerikan ya mbak....

    harusnya sampah2 seperti itu nggak sembarangan membuangnya, kan bikin ilfil orang yang melihat ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mengerikan, sangat ... mami zidane T.T

      Hapus
  4. pospak (popok sekali pakai) selain tidak ekonomis juga tidak ramah lingkungan. Butuh 12 tahun untuk bisa menguraikan satu buah pospak, bisa dibayangkan semua pake pospak, anaknya lulus SD baru terurai sampahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. wow ... benar-benar kasihan ya lingkungan kita :(

      Hapus
  5. terimakasih informasi yang sangat bermanfaat gan!

    BalasHapus
  6. eheheheh penggambarannya detil sekali hiheiheiei. Ya untung saya tidak sedang ngemil makanan saat membaca artikel ini. Ya saya punya balita di rumah dan masih menggunakan pempers merek tertentu yang berbentuk pants atau celana karena praktisnya. HIheiheihiehiee

    BalasHapus
  7. bener, iklan harus mendidik jangan cuma menggelitik :)

    BalasHapus
  8. Duh aku jadi pengen tanya dulu kalo aku ee di pampers dicuci gak yah hahaha...

    BalasHapus