5.9.12

Giveaway Novel Cinderella Syndrome, Leyla Hana

Cerpen berikut ini saya tulis dalam rangka giveaway yang diadakan oleh Leyla Hana, penulis novel “Cinderella Syndrome”. Berdasarkan persyaratan yang ditentukan di blog Leyla Hana, saya memilih inspirasi tokoh Annisa. Selamat membaca J

 CYNDI
Oleh : Niki Rissa

“Cyndiiii!!!” aku hanya bisa berteriak dalam hati sambil membayangkan menjewer kuping gadis cilik berumur 6 tahun itu. Lihat saja tingkahnya sekarang! Setelah sepagian tadi mengacaukan kelas melukis dengan mencipratkan cat air ke hampir seluruh penjuru kelas, kini ia baru saja menarik paksa kerudung Anggita hingga terlepas, lalu menjambak rambutnya. Tentu saja anak itu menangis. Sementara Cyndi? Seperti biasa, ia jingkrak-jingkrak gembira seperti seorang yang baru saja memenangkan lotere. Sambil menjulurkan lidah mungilnya ia lalu mendekat ke arahku dan berkata, ”Mom Nisa, aku siap dibawa ke perpustakaan lagi untuk dihukum.”
Sungguh, rasanya aku ingin pingsan saja menghadapi bocah perempuan ini. Entah berapa kali dalam sehari, selama jam sekolah, ia akan mengacau di kelas. Ada saja tingkahnya. Membuatku semakin merasa putus asa saja. Selama 6 tahun aku mengajar di TKIT ini, dengan karir dan penghasilan yang begitu-begitu saja, keberadaan seorang Cyndi rasanya membuat keinginanku untuk resign menjadi semakin menguat. Padahal tahun ajaran baru ini belum juga genap satu bulan berjalan.
Jemari mungil Cyndi menggandeng tanganku. Meski kesal, aku memilih untuk membawa murid bengalku ini, the one and only Cyndi, menyepi sejenak ke perpustakaan. Masih ada satu jam sebelum pulang yaitu saatnya menyantap bekal, makan bersama. Aku sudah tak sanggup membayangkan ide apalagi yang ada di benak Cyndi untuk mengacau di kelas jika aku tak mengajaknya keluar. Daripada menghadapi kemungkinan itu lebih baik aku membawanya ke perpustakaan.
Sudah sekitar dua pekan aku menerapkan ‘hukuman’ ini untuk Cyndi. Selain baik baginya, terbukti jika tinggal berdua saja denganku tiba-tiba saja Cyndi menjadi sangat manis. Juga baik untukku, menenangkan diri. Toh tanpa Cyndi, Mom Mia, guru pendampingku akan sanggup mengatasi kelas sendirian hingga waktu pulang tiba.
“Mom Nisa, nanti baca cerita lagi, ya,” dengan polos, tanpa merasa bersalah sama sekali, sepasang bola mata jernih milik Cyndi menatapku ketika kami bergandengan tangan atau tepatnya tangan kananku yang terpaksa menerima uluran tangan mungil Cyndi menuju perpustakaan. Aku hanya bisa mendengus tertahan.
Tas ungu besar kepunyaan Cyndi yang bergambar seorang putri cantik, Cinderella, kuletakkan di atas meja ketika kami tiba di perpustakaan. Aku masih tak mengeluarkan sepatah kata pun. Aku hanya membuka tas ungu itu lalu mencari buku penghubung antara orangtua dan guru. Lalu kuambil pulpen dari saku jubahku. Tadinya aku berniat untuk melaporkan, --lagi--, kebadungan Cyndi kepada orangtuanya. Namun sebelum sempat kulakukan hal itu mataku kembali mendapati nomor telepon yang pernah dituliskan orangtua Cyndi di sana. Aku tertegun sejenak. Tertulis di sana : Bayu. Kemudian sederet nomor GSM milik sebuah operator selular. Aku menelan ludah. Selain anaknya yang  super badung ini, soal nomor telepon wali murid ini jugalah yang mengusikku. Biasanya yang selalu berhubungan dengan wali kelas adalah ibu dari sang murid. Tapi tidak dengan Cyndi. Sepertinya hanya ayahnyalah yang berperan dalam pengasuhan Cyndi. Namun meskipun seorang lelaki, kepeduliannya akan laporan perkembangan yang selalu kutulis dalam buku penghubung justru sangat tinggi. Ayah Cyndi menjadi satu-satunya wali murid yang selalu merespon semua tulisanku tentang laporan harian murid melalui buku penghubung. Secara rinci. Bahkan tak jarang ia malah balas menceritakan perkembangan Cyndi di rumah. Menarik, harus kuakui itu. 
Mungkinkah orangtua Cyndi telah berpisah atau semacamnya? Ah, kutepis pikiran itu. Mengapa aku jadi ingin tahu begini?
“Cyndi? Kamu sudah pilih bukunya?” aku mendongak dan akhirnya berhenti menekuri buku penghubung Cyndi sekaligus membuyarkan lamunanku. Tidak ada jawaban. Bocah lincah itu terdiam di pojok. Tumben, pikirku.
“Hei, kamu kenapa, Nak?” perasaanku berubah menjadi khawatir melihat Cyndi yang biasanya seperti bola bekel tiba-tiba diam seperti itu. Kuhampiri gadis kecil yang mendadak senyap dan terduduk memeluk lutut itu. Sebuah buku berjudul ‘Franklin Sayang Ibu’ tergeletak terbuka di dekatnya.
“Cyndi rindu mami,” tiba-tiba ia berkata sambil menghambur dalam pelukanku. Aku terkejut, sama sekali tak pernah terbayang adegan seperti ini. Kuangkat dagu murid kecilku ini. Aku terkesiap. Darah mengucur dari hidungnya! Dan suhu badannya tinggi. Tanpa berpikir lagi aku berteriak memanggil Mom Allin, kepala sekolah.
***
“Terima kasih, Bu Guru. Maaf kalau Cyndi telah merepotkan Bu Guru hari ini.” Pak Bayu berbicara sembari matanya ragu melirikku dari balik spion. Aku balas melihatnya sekilas. Bingung. Aku benar-benar belum bisa mencerna dengan sempurna semua peristiwa yang tiba-tiba saja terjadi dengan begitu cepat tadi. Cyndi tiba-tiba mimisan. Sebenarnya dengan mudah aku dan para guru bisa mengatasinya. Namun rupanya Cyndi sangat trauma dengan darah. Ia menjerit-jerit histeris begitu sadar darah mengucur dari hidungnya. Meronta-ronta dan memelukku erat tak mau lepas. Bahkan ketika akhirnya Pak Bayu, ayah Cyndi datang menjemput untuk membawanya ke dokter, ia masih saja memelukku. Hingga akhirnya di sinilah aku, terjebak bersama si bola bekel mungil ini dan ayahnya!
“Maaf, sebaiknya saya eh kami mengantarkan Bu Guru langsung ke rumah saja. Sungguh sekali lagi maafkan tingkah Cyndi,” kali ini Pak Bayu berkata sambil terus memandang lurus ke depan.
Aku mengangguk pasrah dalam diam. Yah, apa yang bisa kulakukan? pikirku dalam hati. Sungguh, aku masih benar-benar tak mengerti dengan semua ini. Apalagi kini Cyndi malah menyandarkan tubuhnya padaku, memeluk lengan kiriku dan terlelap di situ. Aku menghela napas. Lalu sekilas kulirik kaca spion tengah dan ah, sial, rupanya Pak Bayu pun tengah melakukan hal yang sama. Tak dapat kutolak mataku pun bertemu dengan matanya. Buru-buru kami membuang pandang satu sama lain. Aku menunduk. Kurasakan pipiku memanas.
***
Setelah kejadian tempo hari itu, secara ajaib, Cyndi si bola bekel menjadi jauh lebih tenang di kelas. Ia tak pernah lagi membuat kehebohan. Bahkan kini ia cenderung mengayomi kawan-kawan sekelasnya. Dan dengan perubahan sikapnya itu aku baru menyadari bahwa rupanya Cyndi adalah seorang anak dengan segudang bakat dan juga pesona. Tugasku menjadi lebih ringan sekarang. Meski jujur harus kuakui aku malah merindukan momen-momen tatkala ia membuat kelas kacau dan aku harus menenangkannya di perpustakaan. Juga kehilangan momen menulisi buku penghubungnya sekaligus membaca balasan dari ayahnya.
Ah, kenapa sih aku ini? Apakah diam-diam ada sesuatu yang bersemi dalam hatiku? Ah, tidak, tidak, tidak! batinku menolak. Sadar, Nisa! Kau bahkan tak mengenal Bayu, ayah Cyndi itu. Bagaimana kalau istrinya…? Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, heran dengan pikiranku sendiri. Tapi jika tidak lalu mengapa rasanya aku begitu kehilangan? Apalagi sudah beberapa hari ini, sejak kejadian mimisan itu, buku penghubung Cyndi sepertinya tak pernah lagi dibaca di rumah. Tak ada tanda tangan apalagi respon balasan atas laporanku.
“Mom Nisa, Papi tadi titip ini buat Mom.” Tanpa kuduga tiada kusangka tiba-tiba saja Cyndi tegak berdiri di hadapanku menyerahkan sebuah amplop ungu.
“Ini apa, Nak?” tanyaku tercekat.
“Surat cinta!” Cyndi menjawab singkat lalu kembali berlari menuju kumpulan kawan-kawannya.
Tidak sempat aku mengoreksi kata-katanya dan bertanya dari mana atau siapa yang mengajarinya berbicara semacam itu, aku keburu diam tertegun. Mom Mia, guru pendampingku, senyum-senyum penuh makna membuat aku tak bisa membayangkan bagaimana rupa wajahku saat ini. Lalu buru-buru kurobek amplop sewarna tas Cinderella milik Cyndi itu. Penasaranku membuncah tak tertahankan.

Assalamu alaikum.
Sebelumnya maaf jika saya lancang berkirim surat ini melalui Cyndi. Mungkin saya pengecut namun entah, saya tak punya ide lain untuk menyampaikannya kepada Anda.
Bu Guru Nisa, anak saya Cyndi jatuh hati kepada Anda sejak pertama kali masuk sekolah. Baginya, Anda seperti pengganti sosok maminya yang telah tiada. Demi untuk menarik perhatian Anda, Cyndi sengaja melakukan semua aksi seperti yang sering Anda laporkan selama ini melalui buku penghubung. Hingga akhirnya kejadian kemarin itu. Cyndi sangat takut melihat darah. Rupanya ia masih trauma dengan kecelakaan yang merenggut maminya. Hari itu sepulang dari rumah sakit Cyndi memaksa saya untuk segera membawa Anda pulang ke rumah. Saya katakan padanya, bagaimana mungkin Mom Nisa mau ikut pulang sama kamu kalau Cyndi selalu nakal di sekolah? Entah apakah kata-kata saya itu ada efeknya atau tidak. Semoga saja Cyndi tak lagi berulah di sekolah dan menyusahkan Anda.
Jadi, bagaimana menurut Bu Guru? Ya atau tidak?
Bayu dan Cyndi.

Kulipat kembali surat beramplop ungu itu. Dan kali ini rasanya aku benar-benar ingin pingsan…

32 komentar:

  1. pagi pagi udah bikin cerpen..?
    keren bu, aku aja baru bangun masih ucek ucek mata
    mandi dulu ya, panjang banget neh
    selamat pagi saja dulu..
    semoga sukses

    BalasHapus
  2. bikin cerpennya udah dari kemarin tinggal posting aja :D
    salam sukses selalu juga..

    BalasHapus
  3. Bagus sekali nduk. Saya terkesan dengan kisah anak manis itu.
    Bella juga kayak bola bekel he he he he, selama dia belum bobo ada saja tingkahnya yang lucu tapi kadang menjengkelkan. namanya juga anak-anak.
    Jika Risa rajin menulis cerpen, Insya Allah akan menjadi penulis terkenal. Hayooo..maju

    Semoga berjaya dalam GA

    BalasHapus
    Balasan
    1. asyiikk .. pagi-pagi udah didoain.
      aamiin, pakdhe.
      salam buat bella :)

      Hapus
  4. Cerita yg sangat menarik :-D.. nice post.
    silahkan mampir ke blog saya ya Mbak.. & tinggalkan komentarnya
    http://teknokultur1.blogspot.com/2012/07/hadiah-mobil.html

    BalasHapus
  5. Jadi sekarang sudah pingsan beneran kah? hehe...

    Btw, isinya bagus Mbak, unik idenya :)

    Semoga berjaya di GA ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya begitu, ma yunda, tokohnya pingsan :)

      Hapus
  6. Hahaha, pernyataan cinta yang manis..semoga menang

    BalasHapus
  7. cindy sebenarnya bukan anak nakal ya mbak....

    ide ceritanya unik sekali mbak...saya suka deh...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan sama sekali, mami zidane. justru dia cerdas :)

      Hapus
  8. cepetbener ya bikin cerpennya, tulari aku dong :) good luck ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. biasanya gitu, mba .. kalo pas kepepet tiba-tiba lancar ;p
      tapi soal bagus ngga nya mah, entahlah :D

      Hapus
  9. bagus banget mba Risa..ceritanya simple tapi ngena..
    semoga sukses ngontesnya ya..

    salam kenal.. :)

    BalasHapus
  10. itu genre cerita'a fiksi ya mba ?

    BalasHapus
  11. Bagus, mba cerpennya..
    aku jd pengen ikutan ah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuk ikutan, tambah rame tambah seru ^^

      Hapus
  12. Saya suka dengan slogan bannernya Talk Less Write More. Hehehe unik dan menarik juga. Oh ya selamat ya cerpennya. Semoga menang. Kayaknya saya perlu berguru nih soal menulis cerpen

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe .. iya, kang asep :)
      tapi soal cerpen saya juga baru belajar..

      Hapus
  13. good luck dengan GA nay ^^

    BalasHapus
  14. Suit suit ... ending yang manis ....
    Oya Icha .. ada paragraf yang kepanjangan, agak2 ndak enak membacanya, bisa dipenggal kali ya? Sy pernah mendapat kritikan dari mbak Tias Tatanka (istrinya mas Gola GOng) ttg paragraf yang kepanjangan .. itu salah satu alasan mengapa saya ndak lolos audisi antologinya bbrp bln yl :D

    Btw .. hm ... Niki Rissa ... nama yang manis ... ^__^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kayak orangnya kan? #eh ;p

      Hapus
  15. Menarik sekali, Mbak Risa. Cindy, Bayu dan Nisa? Mm...jadi membayangkan jika saya ada menjadi salah satu dari ketiga tokohnya. Ah, semoga cerita fiksi ini, pada bagian tertentu, bisa menjadi nyata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. pada bagian tertentu bisa menjadi nyata ... hmmm :). baiklah saya aminkan saja ya, abi sabila. semoga yang terbaik untukmu. dan jangan lupa when it happens, let me know :))

      Hapus
  16. good luck, ya buat giveaway'nya :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih indi.. thank you for visiting me back :)

      Hapus
  17. nice posting...ditunggu postingan selanjutnya ya

    BalasHapus