3.10.12

Resensi First Novel "Mima dan Putri Jenna"




Judul Buku      : Mima dan Putri Jenna
ISBN               : 978-979-084-659-3
Penulis            : Fita Chakra
Penerbit           : Tiga Ananda (creative imprint of Tiga Serangkai)
Terbit               : Mei 2012
Isi                     : 64 halaman





Mengusung ide bahwa cantik itu adalah soal inner beauty, alih-alih sekadar kulit putih dan rambut lurus, menjadi inti dari kisah yang tertuang dalam buku First Novel “Mima dan Putri Jenna” ini. Dengan tokoh utama bernama Mima, seorang piatu yang tinggal bersama ayah dan tantenya.

Mima adalah seorang gadis cilik berumur 7 tahun yang menyukai wortel. Alur cerita mulai berkembang ketika seorang kawan sekelas Mima yang bernama Tara menyebarkan undangan pesta ulang tahun. Mima bersemangat menyambutnya, terutama karena ia belum pernah merasakan sesuatu yang bernama pesta ulang tahun. Dalam undangan tersebut ada semacam dress code dan juga sebuah ‘kompetisi’. Dress code-nya adalah mengenakan pakaian yang unik dan kompetisinya adalah para undangan diminta membawa makanan favoritnya untuk nanti dinilai oleh para tamu. Mima bingung. Pertama soal baju, baju apakah yang akan dikenakannya nanti? Sementara meminta pada ayahnya ia tak tega. Lalu kedua soal makanan favorit. Mima merasa malu karena makanan favoritnya adalah wortel, makanan yang secara umum sulit disukai oleh anak-anak.

Sementara itu siapakah Putri Jenna? Putri Jenna adalah seorang tokoh yang membuat novel ini menjadi berbau fantasi. Tersurat dengan kemunculannya yang ajaib, dari dalam buku harian almarhumah ibunda Mima. Fantasi, sesuatu yang ketika saya kecil dulu selalu membuat imajinasi saya melayang-layang tatkala membaca dongeng yang berisi tokoh-tokoh fantasi terutama yang putri-putrian semacam ini. Sebut saja dongeng tentang Putri Salju, Putri Tidur, dan Cinderella. Demikian pula dengan putri Jenna. Hanya saja bedanya, dalam novel ini penulis berusaha untuk merekonstruksi paradigma anak-anak sejak dini bahwa untuk menjadi putri syarat kecantikan hati adalah lebih utama ketimbang hal lainnya. Satu poin penting yang layak mendapat acungan jempol.

Selanjutnya yang terjadi tentu adalah petualangan unik antara Mima dan Putri Jenna dalam rangka memenuhi undangan ulang tahun Tara. Cara bertutur yang mengalir dan ringan yang digunakan penulis sesuai dengan peruntukan novel ini yaitu menyasar pembaca belia. Masalah dan penyelesaian yang tidak bertele-tele, kemudian penyisipan beberapa pengetahuan umum misalnya tentang kain batik (hal. 53) juga menjadi nilai tambah atas kisah ini, melengkapi pesan bahwa cantik bukan melulu soal fisik.
Syarat menjadi seorang putri
Hati yang cantik, senyum tulus, tidak dibuat-buat.
Tidak malu mengatakan apa yang disukai, meskipun orang lain tidak menyukainya.
(Mima dan Putri Jenna, hal. 63)


Tulisan ini diikutkan dalam lomba resensi 'Pesta Awug' oleh Forum Penulis Bacaan Anak

11 komentar:

  1. Makasih resensinya ya. :) Btw, soal manik-manik, berkaca dari putri sulungku, dia bisa lho menjahit dan merangkai manik-manik. :)) tapi mungkin tergantung anaknya juga ya. ada yang enjoy dengan kegiatan itu, ada juga yang kurang telaten.

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixi ... sudah kuduga pasti inspirasinya dari fita's angel ;p

      Hapus
  2. Kayaknya berhasil... hihihi... *nebak nebak*

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo nggak nanti yang baca nangis, una xixixi

      Hapus
  3. Novelnya keren, resensinya jg mantebss... Dikirim ke media massa cetak ga, Mbak, resensinya? Biar terpublish dan dibaca khalayak secara luas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak tak kirim, mas ... eh emang boleh kalo udah diposting gini trus dikirim ke media?

      Hapus
  4. Ini novel anak ya, Mbak? Wah, semestinya contoh bukunya dikirim satu untuk Sabila tuh. Tolong sampein ke penulisnya ya? Hehehe....maksa.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. penulisnya yang komen paling atas, abi sabila hehehe

      Hapus
  5. asyiknya yg suka baca novel.... tapi di ujung resensinya conclusionnya belum ada tuh mbak, jadi kepikiran, hehe

    BalasHapus