23.3.12

Sebuah Telaah (lagi) Tentang Spongebob Squarepants

Mengingat kembali sebuah postingan saya sendiri tentang Spongebob Squarepants (SS) beberapa waktu lalu. Memikirkan kembali sebuah unggahan foto di akun facebook seorang sahabat, Ancha Anwar, tentang simbol pagan yang jelas tersamar (jelas kok tersamar?) pada logo olympic 2012. Membuat saya tergerak untuk melemparkan sebuah pertanyaan lain tentang the phenomenon, Spongebob Squarepants ini.

Iluminati. Spongebob.

Sering saya mendapati pembahasan entah di facebook atau di blog mengenai disusupinya SS dengan ide iluminati, melalui gambar-gambarnya, biasanya tersamar pada sebuah benda di latar belakang tokoh utama. Mata satu yang menyala-nyala, simbol setan?

Well, sejujurnya saya tidak terlalu ‘mempermasalahkan’nya, selama anak saya menonton SS tanpa mendapat informasi mengenai iluminati, saya berharap hal itu tidak akan memberi efek apa-apa. Tidak akan menghasilkan sebuah pemikiran karena ada satu hal dalam rangkaian proses berpikirnya yang terputus yaitu informasi mengenai iluminati.

Namun tidak hingga saya menyaksikan satu episode dari SS pagi ini yang mengangkat tema tentang sulap, magic. Jadi dikisahkan SS sedang menggandrungi seorang magician. Kemudian ia bereksperimen mencoba mantra-mantra yang dicontohkan oleh sang pesulap. Tidak ada yang berhasil sebenarnya dari mantra-mantra itu, hanya saja pada satu momen SS mengira berhasil menyulap Squidward, melenyapkannya. Padahal yang terjadi adalah ketika SS asyik membaca mantra, Squid berlalu diam-diam saking eneg-nya dengan tingkah SS. Karena panik dan merasa bersalah tak mampu me-respell untuk mengembalikan Squidward, SS mengajak Patrick untuk menemui sang pesulap di istananya meminta pertanggungjawaban. Nah! Di kastil pesulap inilah, simbol-simbol iluminati dengan sangat vulgar diumbar. Dimulai dengan gambar mata satu di gerbang, yang kali ini bukan disamarkan penampakannya tapi memang sengaja ditampilkan memenuhi satu layar kaca! Kemudian sepanjang koridor menuju singgasana sang pesulap dialasi karpet berpola papan catur dan di sepanjang siku langit-langit istana, mata-mata satu kecil terangkai mengiringi setiap langkah SS dan Patrick, ditambah lagi mata satu besar yang terpampang di gerbang tadi. What is the maksud coba?!

Maka untuk pertama kali dalam sejarah saya benar-benar kesal dengan SS ini dan buru-buru memindahkan channel televisi.

Yah, terbukti sebenarnya SS bukan buat anak-anak. Selain humornya yang dewasa seperti yang pernah saya pertanyakan dalam postingan terdahulu, terkadang konsep aurat pun menjadi bias dalam kisah-kisahnya. Seringkali kita mendapati adegan dimana tokoh-tokohnya yang tadinya berpakaian kemudian kehilangan pakaiannya. Nah pada momen itu biasanya dari yang tadinya lucu menjadi mengkhawatirkan, karena seringnya gambarnya menampilkan sebuah spons atau gurita yang tak berbaju, yang harusnya tak ada yang salah dengan itu kan!, menjadi bias ketika di bagian depan badan si tokoh ditempelkan secarik kertas atau sebaris rumput, yang seperti disengaja menutupi bagian tertentu seperti konsep koteka, padahal ketika si tokoh kembali bergerak tidak ada apa-apa di bagian yang tadinya ditutupi itu, lalu kenapa tadi harus ada adegan ditutupi segala?!

Kemudian di salah satu episode, ketika SS dan Patrick mengadopsi seekor bayi kerang. Secara sukarela SS tiba-tiba berperan sebagai ibu dan Patrick sebagai ayah. Dan mereka mengalami masalah rumahtangga seperti yang sering dialami pasangan suami istri, masalah pembagian tugas antara laki-laki dengan perempuan. Dan episode itu diakhiri dengan si anak kerang telah ‘dewasa’ dan pergi meninggalkan SS dan Patrick sebagai orangtua. Lalu dialog di tutup dengan Patrick yang berkata, “Ayo kita punya anak lagi!” Hayyaah, masa seperti itu tontonan anak-anak?

Jadi bagaimana sebaiknya? Entahlah saya sendiri bingung. Spongebob Squarepants sudah terlanjur mendarah daging dalam menu sehari-hari anak-anak. Apalagi waktu tayangnya pas, sambil mengiringi mereka bersiap pergi ke sekolah dan petang ketika mereka sedang santai. Andai saja pihak penayang mau mengerti untuk tidak perlu lagi menayangkan episode-episode yang berpotensi mengundang asumsi itu ya? Cukuplah dipilih episode-episode yang ‘netral’ saja karena tidak semua kita telah mampu menghentikan total kebiasaan menonton televisi… Entahlah.

13 komentar:

  1. Mmmhhh ... apakah kalo anak2 tak tahu apa itu kemudian akan mempengaruhi benak mereka? dan menyebabkab mereka sesat?

    BalasHapus
    Balasan
    1. mudah2an ngga ngaruh apa2 k'niar...

      Hapus
  2. baiknya sih ditemani saat menonton y

    BalasHapus
    Balasan
    1. masalahnya tiap hari nontonnya, mba lidya. kalau saya sih bosan, cuma herannya anak-anak kok ngga bosan juga ya?

      Hapus
  3. Kadang2 adegan kekerasan juga terselip disitu.. jadi harus pandai memilih dan memilah mana kartun yang benar2 pas buat anak2 :)

    BalasHapus
  4. Setuju tuh... SS kalau bisa sih di tiadakan saja yaaa..
    Soalnya kurang mendidik juga sih menurut ana mah. Mungkin kalau ditonton oleh yang sudah dewasa (yang sudah bisa memilih dan memilah antara yang baik dan buruk) sih sah-sah saja. tapi kalau sama anak2 yang langsung diserap tanpa disaring dulu, itu yang mengkhawatirkan. Kalau ana bilang, SEKARANG ini sudah sangat-sangat sedikit banget tontonan yang dibilang "MENDIDIK" anak2 bangsa.

    Smoga kita selalu terlindungi dari tontonan yang tidak bermanfaat.

    <'@II< maH-Taj ^_^ !!

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kadang suka ga jelas ceritanya.hihihi... mungkin sedikit2 dikurangi nonton si SS nya Mba.

      Hapus
    2. @kang tatang : aamiin :)

      @mba dee ayu : masih susah kalo di saya, mba ... prime time banget waktunya apalagi kalau pagi hari, jadi semacam serial pengantar pergi ke sekolah *sigh*

      Hapus
  5. Aku suka SS dan hapal semua ceritanya. Tapi kalau membaca tulisan Mbak, bisa dibilang ini sebuah keluhan, ya, aku bisa mengerti dengan jelas. Memang, aku ngakuin kalau cerita SS banyak yang kurang bagus, itu untuk anak kecil tentu saja. Aku belum punya anak kecil yang diawasi, tapi aku bisa mengerti kekhawatiran yang Mbak rasakan ketika anak kecil menonton adegan SS yang jauh dari kata sopan (kebanyakan).

    Jadi, didampingi aja, Mbak, kalo anak sedang nonton. Pindah channel yang lebih bermutu dan mendidik :)

    BalasHapus
  6. @wury gile,, sampe hafal ceritanya gitu .. hehe saya juga setuju

    BalasHapus
  7. ada yang bilang film SS itu adalah dakwah terselubungnya kaum jahat

    BalasHapus
  8. film nya asik kalo yg nonton sudah dewasa, anak2 sebaiknya di dampingi

    BalasHapus