26.3.12

Once Upon a Time in March 26th

March 23rd

Pesawat Garuda berlantai dua yang kutumpangi mulai bergerak meninggalkan apron menuju runway, bersiap lepas landas. Kupandangi bandara internasional Soekarno-Hatta yang tampak semakin mengecil dari balik jendela mungil segiempat ini. Sebongkah besar kecamuk perasaan tiba-tiba menyeruak, menyerbu sanubariku, bercampur aduk. Kuingat kembali semua kehidupanku yang hendak kutinggalkan selama seminggu ke depan, atau mungkin selamanya, siapa yang tahu? Kukenang kedua buah hatiku yang, ahh … mungkin si kecil baru menyadari ketiadaanku dan mulai menangis saat ini. Derai airmata mengalir deras, tak kuasa kubendung.
Berat, namun perjalanan ini harus kutempuh, harus! Ada begitu banyak peristiwa yang terjadi dalam hidupku. Badai yang memporakporandakan semua rencana kehidupanku, bak tsunami yang khusus dirancangNya untukku.  Entah ujian atau justru teguran? Aku benar-benar harus menyepi, menarik diri dari segalanya. Sendiri, menuju sebuah titik nadir perjalanan seorang anak manusia. Menuju suatu tempat dimana ketika semua anak manusia berkumpul, tanpa daya mereka tunduk patuh pada aturanNya, kembali pada hakikatnya sebagai makhluk. Tempat dimana semua berputar teratur mengikuti pola yang sama, sinkronisasi alam semesta.
Tempat dimana aku harus berhasil berdamai dengan diriku sendiri dan iring-iringan skenario kehidupan ini…

***
Aku benar-benar berada di tempat yang tepat ketika sebuah peristiwa nun jauh di belahan dunia yang lain, sejauh jeda waktu 6 jam jaraknya, tengah terjadi. Tak pernah terbayangkan jika aku tidak berada di tempat yang mulia ini, tempat dimana aku sanggup pasrah, menyerah pada kehendakNya, menerima tanpa protes atas takdir yang berlaku yang telah diaturNya. Entah kira-kira apa yang akan terjadi atau apa yang akan kulakukan?
Berada di tempat ini, aku hanya bisa melakukan satu-satunya hal paling sederhana yang paling memungkinkan, menghirup aroma kesyukuran atas segala ketentuanNya. Bahkan kedua mata ini pun terkulai tanpa merasa perlu untuk menangisi sebuah peristiwa yang sedang berlangsung nun jauh di sana. Sungguh, terima kasih duhai Gusti, karena telah memanggilku ke tempat yang paling tepat dengan presisi waktu yang sempurna.
Pada hari yang telah Kau tentukan untukku, untuknya…

8 komentar:

  1. mbak risa ternyata pinter nulis cerita fiksi ya....pilihan kata-katanya bagus banget mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi masih jauh di bawah standar, mami zidane ^_*

      Hapus
  2. aku pikir mbak risa lagi pergi kemana

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. atau realita laksana fiksi? :)

      Hapus
  4. memang realita...yg coba dibagi dlm sebuah cerita. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmmm, anonim ...
      sebuah jejak yang tak bisa ditelusuri kembali.
      but anyway, thank you for visit :)

      Hapus