5.10.13

12 Menit : Sekarang atau Kau Akan Menyesal Selamanya!

Konon nama Bontang bukan dari rumpun bahasa Kalimantan. Asal nama kota yang memiliki beragam budaya dan menyebut dirinya Indonesia kecil itu adalah Bond yang berarti ikatan dan Tang dari kata pendatang. (12 Menit, halaman 27)

Setidaknya ada tiga doa yang tadi mereka gemakan dalam hati masing-masing. Al-Fatihah, Bapa Kami, dan Mantram Gayatri. Indah sekali, mereka gumamkan pinta yang sama dengan cara yang berbeda-beda. Bhineka Tunggal Ika dalam arti yang sebenar-benarnya. (12 Menit, halaman 328)

Lahang, Elaine, dan Tara. Mereka adalah tiga dari keseluruhan tokoh yang ada dalam novel 12 Menit. Mengapa saya menyoroti mereka bertiga? Karena merekalah tiga tokoh yang mewakili dua buah kutipan yang saya tampilkan di muka. Lahang, seorang anak dari suku Dayak yang ayahnya menderita sakit kanker otak. Alih-alih menjalani terapi medis, sang ayah lebih memilih diobati oleh Pemeliatn, semacam pemuka agama dalam suku Dayak. Ritual tradisional digelar demi kesembuhan ayahanda Lahang. Ritual yang sangat diharapkan oleh Lahang dapat membawa kesembuhan sang ayah.


Elaine, seorang gadis Indo-Jepang, ibunya Indonesia ayahnya Jepang, adalah seorang pemeluk agama Kristiani. Pada satu kesempatan dikisahkan Elaine dan ibunya tengah melakukan ibadah di gereja.

Sedangkan Tara, adalah seorang muslim.

Identitas keagamaan hanya ditampilkan kepada tiga tokoh tersebut, tidak dalam koridor menyinggung SARA tentunya namun nge-blend di dalam keseluruhan cerita sepanjang novel ini. Novel yang berhasil membuat saya meluruhkan air mata bahkan sejak membaca ucapan pembuka dari penulisnya! Jika beberapa review yang pernah saya baca atas novel ini biasanya langsung menyoroti sebuah kisah penuh perjuangan dari sebuah Marching Band di pelosok negeri demi meraih juara umum kejuaraan nasional di Istora, saya justru menangkap pesan lain dari buku ini. Pesan tentang kerukunan bangsa Indonesia yang diwakilkan melalui sang Indonesia Kecil, Bontang.

Menilik latar belakang penulisnya yang seorang penulis skenario, tidak berlebihan jika saya katakan betapa filmis-nya novel ini jadinya. Cara penulis menggambarkan keseluruhan cerita benar-benar terbayangkan. Rumah Lahang beserta rute berat yang harus ia tempuh untuk latihan, kehebohan ketika anak-anak Bontang itu untuk pertama kalinya naik pesawat, bahkan ayah Elaine ~ Pak Josuke, yang rada-rada jutek dan cenderung sakelek, tergambar jelas dalam benak. Penulis benar-benar lihai, harus saya akui.

Belum lagi cara dia mengaduk-aduk emosi. Lahang dan masalah kesehatan ayahnya hingga ajalnya tiba, yang menguras emosi duka. Elaine dan masalah dengan ayahnya yang keras ala Jepang sementara ibunya lembut dan penuh pengertian, yang ini menguras emosi geregetan plus haru. Tara dan masalah pendengarannya, masalah rasa bersalah atas kematian ayahnya, belum lagi masalah dengan ibunya, sungguh menguras emosi kesedihan yang mendalam.
Lalu ada Rene. Tokoh paling sentral dalam novel ini. Pelatih marching band paling andal (katakanlah begitu), bertangan dingin, berprinsip cadas. Tegas, keras, disiplin, bahkan kepada Tara yang mungil dengan kondisi pendengaran yang tinggal 20 persen saja akibat kecelakaan! Bahkan kepada Lahang yang sedang dalam suasana duka karena kematian ayahnya. Sebagai pembaca kadang ingin rasanya menjitak kepala Rene ini. Tapi prinsip yang diyakininya, sebagai seorang pelatih yang berada dalam kondisi semacam ini, --melatih sekumpulan anak-anak dengan masalah mereka masing-masing yang njelimet--, memang pantas untuk digenggam erat. Bahwa anak-anak ini layak juara. Bahwa segala kerja keras, perjuangan, pengorbanan, tidak akan sia-sia. Ribuan jam mereka berlatih tak akan menguap begitu saja, demi 12 menit yang sempurna!

Judul Buku : 12 Menit
Penulis : Oka Aurora
Penerbit : Noura Books
Terbit : Cetakan I, Mei 2013
Halaman : xiv + 348 halaman

ISBN : 978-602-7816-33-6

4 komentar:

  1. Di Kalimantan soal agama ga bisa dianggap sara. Jarang banget kok kasus kekerasan efek perbedaan agama ga kaya di Jawa misalnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. oww.. begitu ya rupanya, mas ... :)

      Hapus
  2. ini memang penulisnya orang kalimantan atau minjem setting disitu aja sih? lokalitasnya kuat ya kayaknya. (bagus gak bukunya?)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagus, mba bukunya. beneran. aku sampe rela begadang demi langsung namatin baca hehe

      Hapus