18.8.12

Aku cinta Indonesia! Kamu?


Seperti yang pernah saya nyatakan dalam pembukaan tulisan saya tentang batik, saya katakan bahwa saya merasa beruntung terlahir di lingkup negeri indah penuh berkah melimpah bernama Indonesia. Bukan berarti saya antipati dengan negeri-negeri di belahan dunia yang lain, hanya saja … ah, entahlah, aku cinta saja dengan negeri ini… dengan segala ke-BHINEKA-annya tentu saja. Dari mulai keragaman suku bangsa, bahasa, kebudayaan dan lain sebagainya.

Manakala sebuah negeri pernah dijajah oleh negeri lain, biasanya ia akan memiliki hari merdeka. Pun demikian halnya dengan Indonesia ini. Adalah 17 Agustus, sebuah hari yang tampaknya akan selalu dikenang sepanjang negeri ini berdiri. Meski hingga detik ini sebagian orang akan mempertanyakan, “yakin sudah ‘merdeka’?”

Okey, cukup! Bukan itu yang ingin saya bahas. Saya membuat tulisan ini karena tiba-tiba saja saya terpikir, mengapa perayaan hari kemerdekaan Indonesia itu identik dengan perlombaan semacam lari karung, makan kerupuk, balap kelereng, sepakbola lelaki memakai rok, dan aneka permainan ‘aneh’ semacam itu? Aneh saya bilang karena terkadang orang dewasa pun bersedia melibatkan diri di dalamnya.

Saya bukan hendak mengkritik tradisi (hey, tradisikah ini?) karena sewaktu saya kecil saya sungguh menikmati perayaan seperti ini. Ramai-ramai di lapangan. Bersenang-senang. Karnaval. Hmmm … Namun semakin dewasa (untuk tidak menyebut tua) perasaan itu rupanya semakin sirna. Lagipula tradisi itu (sekali lagi saya mempertanyakan, tradisikah itu?) kian hari kian pudar. Apalagi ketika 17 Agustus bertepatan dengan bulan Ramadhan, seperti ketika pertama kali diproklamirkan. Sepertinya orang-orang lebih memilih memikirkan takjil ketimbang makan kelereng eh balap kerupuk eh? :D

Okey, cukup (lagi)! Saya bukan bermaksud mengkritik tradisi (lagi). Eh, tradisikah ini? Hanya saja, saya merasa ada sesuatu yang kurang pas. Kalau memang harus ada perayaan baiknya bagaimana sih? Apakah yang selama ini sering kita lakukan hingga menjadi sangat identik dengannya ini, sudah tepat? Bagaimana kalau begini : adakanlah lomba desain dan rancang teknologi pesawat terbang, jangan muluk-muluk dengan kriteria yang setara jumbo jet, setara CN-235 dan N-250 dululah. Dengan batas umur peserta antara 17 – 25 tahun, tidak lebih dari itu. Bukan apa, selain tujuannya ingin menguji dan mengasah para pemuda harapan bangsa, jangan sampai jika tak dibatasi usia nanti Pak Habibie turut serta! 

sumber gambar : blog unique
                                      
Atau mungkin adakanlah lomba rancang tata kota yang aman, nyaman, sejahtera, bebas macet, bebas banjir. Atau lomba tata negara yang bebas korupsi, adil dan makmur. Atau lomba strategi jitu pembebasan harta kekayaan alam Indonesia. Pasti akan sangat menarik, bukan? Apalagi jika hadiahnya fantastis, katakanlah memperebutkan uang sejumlah 7 miliyar (kenapa 7 M? Karena menurut nara sumber sebuah perbincangan di televisi swasta, perayaan kemerdekaan di istana alokasi dananya sekian, katanya lho ya, hehehe)! Wuuiihh kalau generasi muda ditantang seperti itu kira-kira akan membawa dampak positif tidak, ya, untuk kemajuan negeri ini?

Baiklah, sebelum saya menuai ucapan –huuuu-- dari kawan semua ijinkanlah saya ngaciiirrr sambil menjinjing bakiak. Satu, dua, satu, dua, kiri, kanan, kiri ……

Ah, aku cinta Indonesia! Kamu?

19 komentar:

  1. menang gak lomba bakiaknya? :) merdeka

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha ... ga pernah ikut lomba bakiak, mba lidya ;p

      Hapus
  2. saya cinta mati.. :D

    salam MERDEKA!!!!

    dan mari kita menyongsong idul fitri.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi jangan ashobiyah ya xixixi

      Hapus
  3. Aku cinta Indonesia juga Mbak. Kalau ada yg nawari ganti jd WNA gak bakal mau lho...

    BalasHapus
  4. saya juga cinta indonesia mbak...hehe

    selamat lebaran ya mbak, mohon maaf lahir dan batin ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. selamat lebaran juga, mami :)

      Hapus
  5. hmmm... tradisi makan kerupuk dan balap kelereng, dan lain sebagainya saya rasa cuma mempererat kebersamaan, tapi efek jangka panjangnya, ingatan kita akan makna dari "17-an" sendiri makin terkikis. Dan seperti sekarang, kita bisa lihat lebih banyak pemuda yang sibuk mikirin "cinta" daripada "memajukan bangsa". Saya lumayan setuju sama mbak. Ya... setidaknya beberapa orang masih peduli dengan hal2 "sepele"(?) seperti ini. MERDEKA!

    BalasHapus
  6. kalau yang keren-keren, cinta
    kalau yang buruk-buruk, enggak
    ^___^

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang buruk-buruk, mari kita rombak ... :)

      Hapus
  7. I LOVE FULL INDONESIA !!! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. good ... and i love english, too ;D

      Hapus
  8. Btw,..Kalau lomba makan krupuknya hilang, bakalan banyak yang nangis..

    BalasHapus
  9. Yang aneh TV-TV kita .... thn yl sempat liat, mereka turun ke jalan dan pada menanyai anak2 muda ttg sumpah pemuda, hafal tidak? eH ITU WAKTU SUMPAH PEMUDA YA .. NGACO HEHEHE. Ups caps lock ketindis... Maksudnya, seringkali yang dipertanyakan orang2 adalah hal2 yang tak penting macam hafalan sumpah pemuda, pembukaan UUD. Apa itu penting buat dihafal? Tidak koq, kan ada buku, ngapain dihafal, ngabis2in memori saja. Yang penting kan bagaimana berbuat sesuai porsi, sesuai umur dan berat badan ...

    *Ikut jinjing bakiak. Halah, tdk ada bakiak lagi, momen ndak pas hehe*

    Met lebaran Icha. Taqabbalallahu minna wa minkum. Maaf baru main ke mari ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. gpp, kk. main ke rumah beneran kapan dong? :))

      Hapus
  10. biasanya kalo lomba2 seperti yang mba sebutkan, ada agendanya sendiri dari departemen kepemudaan,kesehatan, pendidikan, dsb. hehe. cuma memang ga tau kapan sih. tapi setauku kalo departemen kepemudaan dan olahraga sering bikin lomba yang bagus :D

    BalasHapus