10.4.13

Mari Tumbuhkan Jiwa Wirausaha Sedari Dini


Cita-cita adalah satu hal yang selalu menarik untuk dibincang. Tanyakanlah kepada anak-anak tentangnya, kita akan memperoleh beragam jawaban dari mereka. Mulai dari jawaban klasik : ingin jadi presiden, dokter, pilot, polisi, atau tentara. Hingga jawaban tak terduga seperti ingin memiliki butik, jadi pengusaha truk, dan semacamnya. Mengertikah anak-anak itu ketika ditanyakan apa cita-citanya? Jika yang ditanya adalah anak seumuran taman kanak-kanak, besar kemungkinan mereka hanya 'asal sebut' saja. Tapi kenapa mereka bisa ‘asal sebut’ seperti itu?

Anak adalah ibarat sebuah layar kosong, apapun yang hendak kita ketikkan di sana maka itulah yang akan terekam, sebagai memori pertama. Seorang anak kecil yang ketika ditanya cita-cita spontan menjawab 'ingin jadi dokter' misalnya, sedikit banyak pasti telah tercekoki dengan informasi menakjubkan seputar profesi dokter terutama dari orang-orang terdekat di sekelilingnya. Sejak ia mampu mencerna informasi, cita-cita inilah yang terpatri ke dalam alam bawah sadarnya sehingga ketika tergali, hal tersebutlah yang akan muncul ke permukaan lalu tercetus.

Tak dapat dipungkiri, ada kecenderungan dari seorang anak untuk mengikuti pola yang ditetapkan oleh orang dewasa di sekitarnya. Pola yang tanpa disadari akan menelusup secara halus dan mengendap hingga menjadi jalur permanen yang akan diikuti sampai menuju tahap kedewasaan. Seorang anak yang besar di lingkungan ‘kamu keren jika besar nanti mengenakan seragam dan digaji’, sedikit banyak akan memakai pola pikir tersebut dalam mengejar jati dirinya kelak. Demikian pula seorang anak yang besar dalam paradigma ‘menggaji itu jauh lebih baik daripada digaji’, tentu akan memilih jalan yang berbeda dalam rangka meraih cita-cita.


Memang, kedua paradigma tersebut tidak otomatis berarti yang satu lebih baik daripada yang lainnya. Namun merujuk fakta bahwa betapa masih lebih rendahnya jumlah wirausahawan di Indonesia ketimbang negara-negara lain, sebut saja Amerika Serikat yang mencapai 12% sementara di negara kita bahkan 2% pun tak sampai, maka tentu ada sesuatu yang mestinya segera dibenahi. Apalagi mengingat negara-negara yang prosentase wirausahawannya tinggi itu justru berstatus sebagai negara-negara maju. Juga menengarai kecenderungan merosotnya nilai ekspor Indonesia ketimbang impornya. Demikian pula dengan kenyataan meningkatnya jumlah pencari kerja berijazah tinggi, seharusnya semakin meyakinkan kita semua bahwa ada yang salah dengan pola pikir kita selama ini. Pola pikir yang mendiskreditkan profesi wirausaha sehingga tanpa terasa mengerdilkan tumbuhnya jiwa wirausaha itu sendiri terutama di kalangan anak muda.

Jadi, apa yang perlu dilakukan untuk menumbuhkan jiwa-jiwa wirausaha sedari dini?


1.    Revolusi paradigma
Sudah saatnya memilih cita-cita, yang sudah menjadi rahasia umum bahwa muara sesungguhnya adalah soal pendapatan, uang, rezeki, diubah paradigmanya menjadi kemandirian. Alih-alih mengarahkan anak muda kita untuk sekadar menjadi bidak jika ingin hidup enak, alangkah baiknya jika kita memastikan mereka memiliki mental penggerak yang siap untuk menggaji, berwirausaha. Bukan berarti seseorang tak perlu lagi bergelar dokter atau professor atau mekanik atau lainnya, tidak. Namun di atas segala predikat, apapun itu, semangat wirausaha harus terus dipupuk sehingga kelak dalam karya nyatanya mereka dapat mandiri, mengelola usaha sendiri.
Seorang professor yang berwirausaha, seorang saintis yang berbisnis, tentu akan sangat mengagumkan. Seperti halnya sang penemu bola lampu, Thomas Alfa Edison. Jarang dikemukakan mengenai kenyataan bahwa selain seorang penemu, beliau pun sesungguhnya adalah seorang wirausahawan sejati!

2.    Filosofi Wirausaha
Gagal itu biasa, sukses itu risiko. Dunia wirausaha yang sejati sesungguhnya bukanlah sesuatu yang instan. Ibarat tumbuhan, ada tahapan yang harus dilalui sebelum sekeping biji tumbuh menjadi sebatang pohon raksasa yang akarnya menancap kokoh menghunjam bumi dan sanggup menahan terpaan angin badai sekalipun. Hal inilah yang harus dicamkan kepada anak-anak muda sedari dini agar tunas itu kelak bisa sempurna bersemi.
Pengenalan akan bagaimana sesungguhnya dunia wirausaha dapat dilakukan secara sederhana bahkan sejak anak berusia TK. Membawa mereka mengunjungi pasar tradisional untuk menunjukkan proses transaksi, penjual, pembeli, pangsa pasar, untung, rugi, dan hal-hal mendasar lainnya bisa menjadi pilihan untuk dilakukan. Ketika telah meningkat jenjangnya, usia SD/SMP, pengenalan lanjutan mengenai wirausaha seperti mentradisikan Hari Pasar di sekolah bisa dilakukan. Sementara ketika generasi muda telah mencapai bangku pendidikan dasar tertinggi, alangkah baiknya jika mereka mulai diasah untuk terjung langsung memulai wirausaha sederhana. Dengan mendidik anak secara berkesinambungan seperti ini, yang tentunya akan sangat membutuhkan kerjasama dari semua pihak; orang tua, sekolah, dan pemerintah, akan menstimulasi jiwa wirausaha yang ada di dalam diri generasi muda bangsa.


3.    Etika Wirausaha
Salah satu permasalahan yang seringkali merusak suatu tatanan kehidupan adalah hilangnya kepatuhan akan etika. Pun demikian dengan kehidupan wirausaha. Ketika kita mengajarkan generasi muda mengenai dunia wirausaha, etika, harus dipastikan termasuk dalam paketnya. Adalah satu hal yang sangat krusial untuk memastikan bahwa mereka memahami rambu-rambu etika wirausaha. Meski kegiatan wirausaha bertujuan untuk meraup keuntungan, namun etika harus tetap dijunjung tinggi. Menghalalkan segala cara, menyogok, meyuap, menipu, berlaku curang, sikut sana sikut sini seenaknya, mengorbankan ekosistem lingkungan demi kepentingan bisnis, adalah beberapa contoh etika yang wajib diajarkan kepada generasi muda agar tidak dilakukan.

4.    Be A Best Supporter Not A Dream Killer
Seringkali terjadi ketika seorang anak muda mendapat pencerahan di luar settingan paradigma masa kecilnya dan memutuskan untuk menempuh jalur usaha sebagai jalan rezekinya, kita sebagai orang-orang terdekat yang berada di sekelilingnya justru dicekam kekhawatiran. Bahkan saking akutnya kekhawatiran yang tak berdasar itu, tanpa sadar kita justru pada akhirnya menjadi seorang ‘pembunuh impian’ mereka. Bagaimana nanti kalau begini, bagaimana nanti kalau begitu, adalah contoh kalimat-kalimat sakti pembunuh mimpi. Seolah kita lupa bahwa hakikatnya segala sesuatu di dunia butuh proses. Sesuatu yang instan justru adalah rentan. Sehingga alih-alih memperoleh dukungan yang sesungguhnya sangat diperlukan untuk maju dan berkembang, anak muda malah kehilangan semangat berwirausaha dan memilih kembali pada paradigma klasik, yang belum tentu juga akan membuat hidupnya lebih baik.

Jadi, siapkah kita menyongsong era baru generasi muda dengan semangat wirausaha? Semoga dengan semakin tercerahkannya jiwa-jiwa muda itu mengenai urgensi wirausaha, akan berbanding lurus dengan kemajuan negeri tercinta Indonesia ini.

(Tulisan ini pernah diikutkan dalam lomba menulis wirausaha oleh Indonesia Menulis)

15 komentar:

  1. semoga aku bisa mendidik anak-anakku berjiwa wirsausaha,aamiin
    nice note :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin ... aku juga, semoga kuat mendidik mereka :)

      Hapus
  2. sy keluarga wirausaha.. tp ya ga mengharuskan anak2 sama dgn kami, lihat dulu bakat dan minat mereka kemana.. sebisanya dukung dan mengantarnya.. amiiin :)

    BalasHapus
  3. nice sharing mba risa, anak-anak diajarkan untuk berwirausaha jadi ingat tayangan di kick andy ada beberapa anak yg umurnya masih 10 tahun sudah bisa berwirausaha, salut

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, mba .. seneng ya kalau lihat kisah2 seperti itu :)

      Hapus
  4. Dikenalkan usaha dari sejak dini ya semoga besar kelak menjadi pengusaha

    BalasHapus
  5. Keluarga saya wirausaha, sayangnya Ayah saya tidak menurunkannya ke anak perempuan hanya anak lelaki yang diberi skill pengrajin emas. Akhirnya, justru anak lelaki malah milih jadi pegawai negeri dan akhirnya bisnis tidak ada yang meneruskan.
    Tapi kalo ditanya cita-cita saya sebetulnya apa, jawabannya...cita-citaku ingin jadi turis hehehehheheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga mau jadi turis, mbaaa :D

      Hapus
  6. jadi dokter...
    jawaban yang universal kayaknya untuk anak indonesia
    belum pernah sih denger anak jawab pengen dagang...

    BalasHapus
  7. Saya karyawan perusahaan, sudah sering pindah beberapa kali perusahaan dan yang paling menenangkan adalah WIRAUSAHA. Ini blog ku http://clariasfarm.blogspot.com follow ya. thx

    BalasHapus
  8. Anak2 saya klo ditanya cita2 enggak mau jadi dokter...soalnya ,sekolahnya lamaaaa banget katanya...terus sering pergi2 aja..tiba2 ditelepon harus ke rumah sakit..karena ibunya dokter jadi tau jadi dokter seperti apa

    BalasHapus
  9. Thanks ya sob udah share , blog ini sangat bermanfaat sekali ..............





    agen tiket murah

    BalasHapus