18.1.13

Macet = Ciri Khas Kota Metropolitan?


Tulisan ini sudah pernah saya posting di kompasiana dengan judul Kemacetan itu Ibarat Penyakit, Lebih Baik Dicegah daripada Diobati. Ngga apa-apa kan ya kalau saya repost di blog ini? Tidak akan dimarahi oleh googlebot kan ya? *gaptek

Baiklah, selamat membaca .... :)

Setidaknya ada tiga buah mobil berplat --dasar putih tulisan merah-- yang berseliweran di kompleks tempat saya tinggal. Ya, mobil baru. Kursinya masih diselubungi plastik, bodinya bersih, dan catnya, ya tentu saja, mengilat, mentereng menyilaukan, cling! Nyaris tiap saat saya mendapati mobil-mobil berplat seperti itu. Maksud saya, tidak pernah misalnya dalam rentang waktu yang cukup panjang, saya tidak melihat mobil-mobil dengan plat seperti yang saya maksud tadi. Selalu adaa saja. Artinya apa? Artinya, secara umum bisa dimaknai sebagai : orang-orang tak henti-hentinya membeli mobil baru. Iya, kan?

Nah, ini hanya contoh kasus yang melibatkan sebuah kompleks tempat saya bermukim, di Makassar. Bagaimana dengan ratusan perumahan lainnya? Saya yakin hal yang sama pun kurang lebih pasti terjadi di kompleks-kompleks lain. Orang-orang terus saja membeli mobil baru. Di mana pun, kapan pun. Wajar sih, mengingat sejauh ini mobil pribadi memang merupakan transportasi ternyaman yang bisa dipilih (mengabaikan faktor lain semisal betapa mudahnya memperoleh kreditan kendaraan belakangan ini).

Lalu apa masalah saya dengan keputusan orang-orang membeli mobil baru? Tidak ada, sama sekali tidak ada. Saya justru turut bahagia dan berharap suatu saat kelak pun berkemampuan memiliki mobil berplat –dasar putih tulisan merah– seperti orang-orang itu.

Hanya saja sedikit tebersit kekhawatiran di benak saya, jika orang-orang terus membeli mobil baru, bagaimana nantinya dengan kemacetan yang bahkan sekarang pun sudah mulai sering dikeluhkan oleh warga Makassar? Sebandingkah kira-kira pertumbuhan infrastruktur semacam jalan raya, untuk mengantisipasi, MENCEGAH masalah kemacetan? Well, saya berpikir positif saja, bahwa para pemegang regulasi kota Makassar tentu memiliki kepedulian yang bahkan lebih tinggi dari saya (siapalah saya). Dan saya bahkan meyakini bahwa para pemegang regulasi tentunya pemikirannya lebih maju sepuluh langkah daripada saya dalam hal ihwal merencanakan pembangunan dan tata kota. Saya meyakini itu, sangat. Semoga.

Saya teringat sekitar sepuluh tahun lalu ketika jalanan utama kota Makassar seperti  Jl. Perintis, Jl. Pettarani, Jl. Alauddin, masih selebar sekitar empat mobil dijejer (mencakup kedua sisi jalan). Secara garis besar meski jalanan tidak terlalu lebar, lalu lintas lancar-lancar saja. Namun seiring berjalannya waktu, untuk ukuran sebuah fast-growing-city sebesar Makassar, pada akhirnya toh macet menjadi salah satu menu keseharian juga. Seolah ingin mempertegas kenyataan bahwa ciri khas kota metropolitan adalah macet (padahal haruskah?).

Ini adalah antrian menuju lampu merah di daerah Tello. Jika dibiarkan, salah-salah bisa jadi macet sungguhan.
(maaf, kamera hape saya kurang stabil kalau mengambil gambar sambil bergerak jadi gambarnya kurang jelas)

Sehingga diperlebarlah jalanan-jalanan utama kota menjadi nyaris dua kali lipatnya. Namun bagaimana hasilnya? Apakah memperlebar jalanan lantas secara otomatis menjadi solusi kemacetan? Coba  tanyakan saja pada warga Makassar, pasti jawabannya tidak. Tetap saja macet. Meski kalau boleh saya katakan, macetnya masih cukup ‘sopan’. Dibandingkan dengan Jakarta misalnya. Kemacetan di Makassar, terkadang terjadi karena kasuistik semata. Misalnya ada demo, jelas macet. Banjir, itu juga macet. Ada kecelakaan, wajarlah macet. Busy hour, di mana orang-orang serentak pergi-pulang rumah untuk bekerja maupun sekolah, biasanya padat merayap. Di potongan jalan, di mana orang-orang biasanya memutar kendaraan dan ada polisi cepek (eh seribu) di sana, berpotensi macet. Atau pada antrian lampu merah, salah sedikit jadinya macet. Begitulah. Eh, jadi kapan ngga macetnya?

Jadi, sekarang bagaimana? Solusinya apa? Apakah perlu dibuatkan aturan khusus terkait prosedur dan syarat kepemilikan kendaraan? Ataukah mau diperbanyak pertumbuhan jalan raya, lingkar tengah dan sejenisnya? Entahlah, terserah!

Gambar ini pernah saya tampilkan di artikel tentang banjir di makassar.
Nah yang tampak di sebelah kiri angkot itulah cikal jalan lingkar tengah yang saya maksud.

Yang jelas, tertitip tanya, mau dibawa ke mana kota molek yang strategis, ekonomis, dan manis ini? Apakah kemacetannya, yang saya ibaratkan seperti penyakit, hendak dicegahkah atau dibiarkan saja kronis? You tell me…

Sumber bacaan :

20 komentar:

  1. Asli ini kondisi mirip Palembang saat ini :) Bingung ya kita kapan ngak macetnya?

    oot iya tadi tulisannya sempat terpotong, heheee...

    BalasHapus
  2. Hai Risa,
    Mau tanya dong, apakah di Makassar ada angkutan umum? Jika ada, apakah angkutan tersebut sudah bisa memenuhi kebutuhhan transportasi semua lapisan masyarakat?

    BalasHapus
  3. Kemacetan akan semakin parah jika tidak ada kesadaran dari orang berduit yang lebih mementingkan egonya tidak mau naik angkutan umum.

    BalasHapus
  4. Jalaan boleh macet, tapi hati tak boleh macet, hahaa... Senang membaca tulisanmu! Terus menulis, ya! :D

    BalasHapus
  5. mau gimana lagi...
    angkutan umum susah dan ga aman
    mobil makin murah

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. alhamdulillah batam jarang macet mbak...lancar jaya..Hehe

    BalasHapus
  10. alhamdulillah batam jarang macet mbak...lancar jaya..Hehe

    BalasHapus
  11. alhamdulillah batam jarang macet mbak...lancar jaya..Hehe

    BalasHapus
  12. alhamdulillah batam jarang macet mbak...lancar jaya..Hehe

    BalasHapus
  13. alhamdulillah batam jarang macet mbak...lancar jaya..Hehe

    BalasHapus
  14. alhamdulillah batam jarang macet mbak...lancar jaya..Hehe

    BalasHapus
  15. alhamdulillah batam jarang macet mbak...lancar jaya..Hehe

    BalasHapus
  16. alhamdulillah batam jarang macet mbak...lancar jaya..Hehe

    BalasHapus
  17. mbak risa...maaf ya...komen saya kok malah munculnya jadi banyak begini ya....padahal cuma klik sekali lho....sekali lagi maaf banget ya mbak

    BalasHapus
  18. kl sy berpikir transportasi massalnya harus diperbaiki dan di bikin bagus.. karena py pengalaman pribadi, waktu masih ngantor dulu di area perumahan tmp kantor sy berada punya terminal bis yang bagus. Terminal utk umum, bis2nya milik komplek mereka. Nyaman bisnya dan ada jadwal2nya.. Akhirnya sy yg tadinya selalu ngantor bawa mobil malah jd nyaman naik kendaraan umum kalo nyaman gitu.. Tp sayangnya gak semuanya seperti itu akirnya bikin serba salah. Mau naik angkutan umum yg ada, bikin gak nyaman ke kantor. Tp mau bawa kendaraan pribadi malah ikut nyumbang macet

    BalasHapus
  19. dimana-mana sekarang macet ya

    BalasHapus
  20. macet itu sama sekali gak asik

    BalasHapus