Seringkali, ketika membincang
mengenai perjuangan mengalahkan rasa sakit dan membungkusnya dengan kesabaran, kita
akan menyebut filosofi kerang mutiara. Tidak berlebihan rasanya analogi
tersebut, karena pada kenyataannya proses lahirnya sebutir mutiara memang
mewakili kerja keras, kegigihan, sampai akhirnya tiba pada hasil akhir yang
bukan hanya berharga namun juga indah.
Saya mengenal mutiara pertama
kalinya sejak remaja, sekitar tahun 1990-an. Saat itu saya bersama orang tua
menetap di kota Ambon. Ibu saya, akibat dikompori oleh teman-teman dharma
wanitanya, ikut-ikutan tertarik menjadi pearl
hunter. Menurut cerita beliau, waktu itu ia membeli mutiara langsung ke
rumah-rumah penduduk. Jadi dari kabar yang berembus dari mulut ke mulut bahwa
di sini dan di sana ada yang jual mutiara, ibu saya bergerilya mencari mutiara
yang disukainya.
Mutiara air laut, satu-satunya batu
mulia yang berasal dari makhluk hidup, membutuhkan rentang waktu tahunan dalam proses
perkembangbiakannya. Lebih khusus lagi mutiara air laut selatan, South Sea Pearl (SSP), memerlukan waktu 4
sampai 5 tahun pemeliharaan untuk menghasilkan satu butir mutiara. Satu! Wajar saja jika mutiara air
laut ini disebut sebagai queen of gems,
ratunya batu mulia.
Pada awalnya mutiara air laut
ditemukan pada tiram secara alami. Misalnya saja sekitar tahun 1800-an, seorang
saudagar dari Banda Neira menemukan mutiara laut selatan sebesar telur burung
merpati. Indonesian South Sea Pearl
yang dianggap terbesar di dunia kala itu. Untuk mencegah eksploitasi tiram maka
selanjutnya para ahli lalu mengupayakan teknologi budidaya. Adalah Dr. Sukeo
Fujita, yang pada tahun 1928 berhasil membudidayakan tiram Mutiara Laut Selatan
untuk pertama kalinya dengan bibit dari Laut Arafuru, Indonesia. Ya, Indonesia.
Siapa sangka, negeri beta tercinta ini rupanya bukan hanya zamrudnya khatulistiwa.
Lebih istimewa lagi, ia ternyata adalah mutiaranya khatulistiwa.
Saat ini ada beberapa jenis mutiara
yang beredar luas di dunia, 4 diantaranya yang mendominasi adalah : South Sea Pearl (Indonesia, Australia,
Filipina dan Myanmar), Black Pearl (Tahiti),
Akoya Pearl (Jepang dan Tiongkok),
dan China Freshwater Pearl
(Tiongkok). Di antara negara lain, Indonesia adalah produsen terbesar mutiara
laut selatan, mutiara dengan kualitas terbaik di dunia.
Mutiara sebagai salah satu komoditas perikanan dan kelautan
memberikan sumbangsih yang kian meningkat dari tahun ke tahun. Menurut data, terjadi kenaikan sebesar USD 2,3 juta dari tahun 2014 hingga 2015 atas perdagangan ISSP. Bukan hanya dari segi nilai
perdagangan saja, namun juga dari jumlah serapan tenaga kerja, komoditas ini memberikan banyak manfaat. Tentunya ini adalah
sesuatu yang patut untuk diapresiasi sekaligus dioptimalkan. Terlebih lagi kondisi laut Indonesia sangat memungkinkan
untuk pembudidayaan Pinctada maxima, tiram
yang menghasilkan mutiara jenis South Sea
Pearl. Ada 12 lokasi pembudidayaan tiram P. maxima ini, yang terbentang dari ujung barat hingga ujung timur
Indonesia. Sumatera Barat, Lampung, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Tengah, Gorontalo,
Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara dan Papua Barat, semuanya potensial untuk
budidaya tiram mutiara. Sungguh sebuah berkah bagi negeri beta tercinta ini.
Kian bangga sekali rasanya jadi orang Indonesia!
Kembali ke kisah soal ibu saya dan
mutiara-mutiaranya, saat itu beliau memilih mutiara hanya berdasarkan selera
pribadi saja, ditambah kemungkinan selera dompet! Boro-boro beliau tahu standar
grading atau pembagian tingkatan mutiara
yang mengacu kepada prinsip 4S1C (Shine, Surface, Shape, Size, Colour),
pokoknya suka, ya beli! Setelah mutiara dimiliki barulah beliau membawanya ke
toko emas lalu mengikatnya dengan logam mulia sesuai dengan model yang beliau
sukai. Namun jika sekarang saya tilik berdasarkan acuan 4S1C, sepertinya selera ibu saya rata-rata adalah kepada mutiara bulat, bahkan ada mutiara kecil-kecil berbentuk oval yang dijadikan seperti buah anggur. Entah, mutiara kecil itukah yang disebut Keshi atau jangan-jangan malahan mutiara freshwater? Sementara dari segi warna, koleksi beliau dominan ke arah putih, peachy, dan silver. Tapi kalau soal kilau jangan ditanya, meski sudah dikoleksi selama sekitar 2 dekade, mutiara laut selatan milik beliau masih kinclong!
Mutiara warna keabuan (Hand in frame : my mum) |
Gambaran proses yang ibu saya
lakukan itu sebenarnya adalah gambaran kecil yang terjadi pada industri
mutiara, bukan? Jadi kalau dalam skala kecil, ibu saya melakukan segala
prosesnya, dari mutiara mentah hingga menjadi produk jadi semuanya berlangsung di dalam negeri. Dalam skala besar mutiara diproduksi di Indonesia kemudian dilepas dalam bentuk mentah ke luar negeri. Di sinilah barangkali yang
kemudian sering timbul celah sehingga Indonesian
South Sea Pearl diklaim berasal dari negara lain. Karena ketika
mutiara-mutiara mentah asal Indonesia sudah berada di luar negeri, ia lantas menjadi barang
bebas, akibat belum ada sertifikasi yang melindungi identitasnya. Dan inilah perkerjaan rumah bagi kita semua. Please cmiiw.
Indonesia, meski mutiaranya diakui
sebagai salah satu yang terbaik di dunia, meski sebutir harganya bisa mencapai
hingga empat ratus ribu rupiah (tahun 90-an seperti punya ibu saya yang warna abu-abu) sayangnya, pada faktanya, eksistensinya kurang dihargai. Coba saja,
misalnya Anda memiliki perhiasan bertahtakan mutiara, coba jual kembali!
Dijamin, harganya tidak ada! Paling banter mutiara Anda, seberapa pun besar dan
indahnya, paling hanya dicungkil dan dikembalikan kepada Anda. Tidak ada toko
yang berminat membeli mutiara Anda. Tidak ada yang berani ambil resiko meski kita bersumpah bahwa mutiara milik kita itu asli. Menurut saya, mungkin itu adalah salah satu
kendala mengapa di dalam negeri sendiri terkadang mutiara kurang diminati sebagai investasi. Karena persoalan harga jual kembali. Kalau pun ada yang mengoleksi, kemungkinan artinya mereka adalah fans fanatik, cinta sekali
dengan mutiara, ataukah mereka kelebihan dana. Miris tapi fakta.
Semoga saja ke depannya akan terbentuk
kesadaran bahwa jual beli mutiara pun sebaiknya dilengkapi dengan surat-surat
seperti halnya emas atau pun berlian. Atau seperti tas-tas bermerk di kalangan sosialita. Tas yang bahkan dalam kondisi bekas pun harga jualnya masih bernilai 7 digit rupiah! Jika ini dilakukan, saya yakin ke
depannya pasar mutiara di dalam negeri sendiri akan terbuka lebar. Apalagi dengan
adanya desain perhiasan yang kian modern, didukung pula dengan adanya pameran-pameran seperti yang dilaksanakan oleh Dharma Wanita Persatuan KKP, Ditjen
Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP dan Asosiasi Budidaya
Mutiara Indonesia ini. Masa depan Indonesian South Sea Pearl, the queen of gems ini pastinya akan kian kemilau, baik di dalam negeri maupun di seluruh dunia.Yakin!
Sumber bacaan :
1. http://kkp.go.id/2016/10/12/menteri-susi-anjurkan-masyarakat-beli-mutiara-asli-indonesia/
2. http://www.atlassouthseapearl.com.au/the-journey-of-a-pearl
3. https://www.instagram.com/indonesianpearlfestival2016/
4. Bahan Materi Blogger Writing Competition (Usaha Budidaya Mutiara Indonesia) IPF – 6, 2016
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog dalam rangka 6th Indonesian Pearl Festival 2016
Ichaa, cantiknya itu yang kayak buah anggur. Baru ka' liat yang begitu.
BalasHapusHaha iya, kak, in sekali pada masanya itu :D ada lagi liontinnya malahan lebih heboh dari itu gerumbulannya hehehe
Hapus--Semoga saja ke depannya akan terbentuk kesadaran bahwa jual beli mutiara pun sebaiknya dilengkapi dengan surat-surat seperti halnya emas atau pun berlian. Atau seperti tas-tas bermerk di kalangan sosialita. Tas yang bahkan dalam kondisi bekas pun harga jualnya masih bernilai 7 digit rupiah!--
BalasHapus:setuju 😍
<3 <3
Hapusyaaa ampuuun aku mupeng sama mutiara anggurnya itu. gimana bisa dapat yg kecil kecil gitu.
BalasHapusaku jadi pengen nulis tentang gadis pemanen mutiara xixixiix